
Setelah sejenak berdiam diri dan berkali-kali menghela nafas untuk sekedar mengurangi rasa sesak didadanya. Akhirnya Yudi membuka suara.
"Jadi kita sudah bukan suami istri lagi dek?" tanya Yudi lebih meyakinkan dirinya sendiri.
"Iya mas. Maaf aku sudah membuat mas kecewa, aku tidak ada disaat mas butuh dan sekarang malah pergi meninggalkan mas." jawab Iin dengan menundukkan kepala.
"Apa semua ini karena dia?" tanya Yudi langsung pada intinya.
"Maksud mas?" seketika Iin menegakkan kepalanya melihat ke arah mantan suaminya itu.
"Aku sebenarnya uda tahu semuanya dari dulu dek, tapi aku diam aja. Tapi sekarang kalau menurut kamu dia lebih baik mas pasrah, mas bakalan menerima semuanya." ungkap Yudi, karena memang dia merasa semua permasalahan yang ada saat ini adalah karena perbuatannya. Dan sekarang dia menerima konsekuensi dari semuanya itu.
Iin yang mendengar semua pernyataan Yudi bahwa sebenarnya dia sudah tahu semuanya, merasa malu. Karena alasan dari perceraian itu selain karena tidak adanya nafkah lahir dan batin juga karena adanya orang ketiga.
__ADS_1
"Aku minta maaf mas." jujur Iin.
Yudi tidak menanggapi permintaan maaf dari Iin, dia mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Aldi gimana? Kamu uda pikirkan itu?" tanya Yudi.
"Aldi biar sama aku mas, aku akan berusaha memenuhi semua kebutuhannya. Tapi mas jangan khawatir dia juga memerlukan mas, sampai kapanpun Mas Yudi tetap ayah Aldi. Jadi kapanpun Mas pengen ketemu Aldi atau sebaliknya aku gak pernah nglarang..."
"Tapi untuk sementara aku kasih mas waktu dulu untuk memulai semuanya dari awal lagi. Nanti selanjutnya terserah mas mau bagaimana untuk kita sama-sama memenuhi kebutuhan Aldi." ungkap Iin panjang lebar.
"Tapi aku minta ijin untuk menginap satu malam ini aja dek, besok sebelum aku pulang ke ibu dan bapak ku aku mau menemui keluargamu terlebih dahulu." Yudi yang sadar posisinya saat ini pun hanya bisa meminta ijin, karena dia sadar yang mereka tempati saat ini adalah rumah pemberian dari keluarga Iin. Jadi secara tidak langsung dia tidak mempunyai hak apa-apa.
"Iya tidak apa-apa mas." jawab Iin.
__ADS_1
"Ya sudah kalau begitu, semoga kamu bahagia dek." hanya kalimat itu yang akhirnya bisa keluar dari mulut Yudi setelah suasana canggung menguasai mereka berdua.
"Terima kasih. Semoga mas juga." jawab Iin.
Setelah beberapa saat saling hening, akhirnya Iin ijin untuk masuk ke kamar dan akan beristirahat. Jujur dia bingung apakah harus mengunci pintu kamar atau tidak. Takutnya kalau Yudi tetap masuk ke kamarnya padahal mereka sudah bukan mukrim lagi. Meskipun tidak ada kontak fisik nantinya tapi tetap saja takutnya akan menjadi fitnah.
Akhirnya setelah memikirkan cukup lama, Iin sengaja tidak mengunci pintu kamar dan dia sebisa mungkin tidur disisi paling pinggir dari ranjangnya.
Yudi pun masih tetap bergeming di ruang keluarga. Dia tidak tahu kedepannya kehidupannya akan seperti apa. Akhirnya dia lebih memilih keluar di teras untuk sekedar menenangkan diri dengan sebatang rokok.
...****************...
Tetap semangat kak 💪
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak
Like, komen dan hadiahnya 🙏