
Keduanya berbaring diranjang sambil bercerita-cerita, tentang banyak hal yang menurut mereka bisa diceritakan. Terkadang sambil tertawa, tersenyum dan menangis juga.
Setelah merasa capek akhirnya mereka memutuskan untuk beristirahat dan akan kembali menjalani kehidupan esok hari.
Iin terbangun pada subuh pagi itu, dia melihat dibelakang tempatnya tidur ternyata tidak ada sang mantan suami disana. Disatu sisi dia merasa lega karena memang mereka sudah bukan mukrim lagi dan tidak baik kalau berada di dalam satu kamar. Tetapi disisi lain yang jadi pertanyaannya, dimana mantan suaminya? Apakah sudah keluar dari rumahnya? Kalaupun sudah tidur dimana karena kemarin selesai mereka membicarakan hal itu waktu sudah malam.
Tidak terlalu memusingkan hal itu, Iin pun bangun dari tidurnya untuk pergi ke kamar mandi. Karena merasa harus mengeluarkan yang ada diperutnya yang sudah penuh.
Baru sedikit membuka pintu kamar Iin berpapasan dengan Yudi, yang saat itu baru saja dari kamar mandi. Mereka yang menjadi canggung dan Iin yang terasa salah tingkah, akhirnya Yudi hanya melewatinya saja tanpa berniat untuk menyapanya.
Iin pun membiarkannya, dengan segera dia melanjutkan apa yang menjadi tujuan utamanya tadi.
__ADS_1
Akhirnya setelah selesai melakukan tugasnya sebagai umat Islam di pagi hari, Iin segera melakukan tugasnya sebagai seorang ibu saat ini. Yaitu memasak dan menyipakan keperluan sang anak. Tetapi sebelumnya dia sudah membersihkan diri lebih dulu biar terlihat lebih segar.
Yudi pun setelah menyelesaikan tugasnya sebagai umat Islam, lebih memilih kembali berbaring di samping anaknya tetapi tidak berniat untuk tidur lagi. Yudi pun sekarang sudah lebih terbiasa melakukan tugas itu di pagi hari karena sudah menjadi kebiasaannya di lapas dulu. Padahal dulu dia sangat malas karena merasa masih mengantuk jadi selalu mengabaikan tugas itu.
Hanya sekedar berbaring menemani sang anak karena merasa bingung akan melakukan apa haripun masih sangat terlalu pagi untuk dia pergi ke rumah mantan mertuanya. Dia hanya melamun sambil memandangi langit-langit kamarnya. Bingung bagaimana kedepannya nanti hidupnya. Tapi kembali dia tersadar bahwa semua jodoh, maut dan rezeki datangnya dari atas sehingga dia hanya perlu menyerahkan seluruh hidupnya kepada sang pemberi hidup. Karena dia sadar apa yang terjadi padanya saat ini adalah bentuk dari konsekuensi yang sudah dia lakukan.
Dirasa waktu subuh sudah hampir habis akhirnya dia membangunkan sang anak, agar dia juga melakukan tugasnya sebagaimana mestinya.
Setelah beberapa saat, Aldi selesai makan dan akan berpamitan untuk berangkat sekolah.
"Maaf ya Al ayah gak bisa ngantar kamu, karena ayah sebentar lagi mau ke rumah uti." sebelum Aldi memintanya untuk mengantar Yudi lebih dulu menolak secara halus. Karena dia berpikir takutnya nanti Aldi diolok-olok teman-temannya karena melihat bahwa ayahnya sudah pulang, pikirnya.
__ADS_1
Aldi yang sebenarnya kecewa karena akan berpisah lagi dengan ayahnya, bahkan seakan tidak mau mengantarnya sekolahpun hanya tersenyum untuk menutupi luka hatinya.
"Iya gak apa-apa yah, aku berangkat dulu." pamitnya kepada Yudi dan kepada Iin tidak lupa.
Yudi pun mengantarnya ke depan teras. Jujur saja didalam hatinya dia ingin sekali mengulang kembali masa-masa dulu mereka bersama, tapi sekarang semua itu hanya akan menjadi kenangan.
...****************...
Tetap semangat 💪
Tinggalkan jejak jangan lupa like, komen dan hadiah 🙏
__ADS_1