Priaku Bukan Suamiku

Priaku Bukan Suamiku
Bonchapt (Session 2)


__ADS_3

Beberapa hari berlalu, Iin semakin mendekati melahirkan. Saat ini dia sedang berbaring di sofa karena dia sudah merasa pegal dibagian pinggangnya dan sesekali meringis mengeluh sakit diperutnya.


Iin saat ini sedang berada dirumah sendiri karena Ari bekerja, Aldi sekolah sedangkan Sari yang biasanya sering datang kerumahnya untuk sekedar menemani pun sedang bekerja karena mendapat shift masuk pagi.


"Ssshhh... Uda gak sabar pengen ketemu kita ya dek?" ucap Iin dengan mengelus perutnya dan merasakan sakit.


Iin sedikit memberikan pijatan pelan untuk mengurangi rasa sakitnya, meskipun itu tidak banyak mengurangi tapi cukup bisa membantu.


Hingga saat siang hari Aldi pulang sekolah dia mendapati Ibunya berbaring lemas di sofa dengan keringat dingin keluar dari dahinya.


"Bunda.. Bunda kenapa?" tanya Aldi dengan panik. Karena dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan.


"Sshhh... Sakit Al." keluh Iin kepada anaknya, dengan meremas lengan Aldi yang saat sedang memegang tubuh Iin.


Seketika Aldi ingat pesan Ari jika tiba-tiba Ibunya merasakan sakit sedangkan tidak ada orang atau Ayahnya Ari menyuruh Aldi untuk menghubunginya terlebih dahulu.


"Sebentar Bunda, Aldi telponkan Ayah dulu ya!" kata Aldi dengan merogoh ponselnya dikantong celana seragamnya dan segera menghubungi Ayah sambungnya.


Iin hanya mengangguk pasrah untuk menjawab perkataan Aldi, karena dia merasa sangat lemas.


Setelah beberapa kali panggilan terhubung, Ari dengan segera mengangkatnya.

__ADS_1


"Halo.. Ada apa Al?" tanya Ari.


"Halo Yah, ini Bunda kesakitan. Aku harus gimana Yah?" sangat jelas terdengar oleh Ari suara Aldi yang begitu takut dan panik.


"Ow iya kamu tenang dulu, sekarang kamu pesan taksi online aja trus bawa Bunda ke Rumah Sakit ya jangan lupa bawa tas yang sudah disiapkan dikamar Bunda. Ayah juga langsung berangkat ke Rumah Sakit sekarang nanti kita ketemuan disana. Kamu rileks aja Al jangan panik ya?" perintah Ari kepada anak sambungnya tersebut.


Padahal kalau boleh jujur justru Ari lah yang sangat panik, antara senang dan sedih. Senang karena dia akan segera bertemu dengan buah hatinya bersama dengan Iin, tetapi sedih karena dia melihat Iin yang kesakitan.


"Iya Yah. Ya sudah kalau begitu." jawab Aldi dengan mengakhiri panggilan tanpa menunggu jawaban dari Ari.


Begitu panggilan ditutup Ari segera meminta ijin kepada bosnya dan memberitahu bahwa istrinya akan melahirkan.


Tidak berapa lama kemudian, taksi datang. Aldi segera menaruh terlebih dahulu tas nya kedalam taksi kemudian meminta tolong sopir taksi untuk membantu memapah Ibunya untuk masuk kedalam mobil. Saat itu hari masih siang jadi tetangga mereka kebanyakan berada didalam rumah untuk beristirahat.


Begitu semua sudah berada didalam mobil, sopir segera melajukan mobilnya sesuai dengan aplikasi pemesanan yang dilakukan oleh Aldi yaitu ke Rumah Sakit.


Selama perjalanan Iin terus mendesis menahan sakit dan memegang tangan Aldi dengan kuat untuk mengurangi rasa sakitnya. Aldi pun segera memberi pesan kepada seluruh keluarganya bahwa dia dan Ibunya sedang menuju ke Rumah Sakit.


Tak lupa Yudi juga mendapatkan pesan dari Aldi, bagaimanapun mereka masih berhubungan baik. Kebetulan ketika menerima pesan tersebut Yudi sedang berada dirumah Weni untuk membahas beberapa hal tentang pernikahan mereka nanti.


"Yank, Iin mau lahiran." ucap Yudi sambil melihat isi pesan dalam ponselnya.

__ADS_1


Weni yang saat itu sedang melihat-lihat jenis undangan didalam laptopnya, seketika menghentikan kegiatannya dan menoleh ke arah Yudi.


"Emang siapa yang kirim pesan Mas?" tanya Weni sambil mendekat ke arah Yudi karena juga ingin mendengar kabar tentang Iin.


"Ini Aldi yang kasih kabar. Saat ini mereka sedang menuju ke Rumah Sakit Ari juga nyusul kesana."


"Ya uda besok aja kita kesananya Mas, kalau sekarang kita kan masih repot lagian nanti kita juga gak bisa ketemu Mbak Iin nya karena masih pasca melahirkan." jelas Weni.


"Makasih ya Yank." jawab Yudi.


"Makasih buat apa?" tanya Weni dengan terkekeh karena heran tiba-tiba saja Yudi berterima kasih kepadanya.


"Terima kasih sudah mau nerima masa laluku." jawab Yudi dan dengan segera mencium dengan lembut bibir Weni dan sedikit menye-sap serta memberikan luma-tan. Weni pun membalasnya keduanya pun hanyut dalam ciuman mesra tersebut.


...****************...


Part anu-anunya masih slow aja 😁


Tetap semangat pokoknya 💪


MERDEKA..!! 🇮🇩🇮🇩

__ADS_1


__ADS_2