
Setelah mereka melepaskan pelukan itu, Iin segera memberi kecupan sekilas pada bibir Ari.
Ari hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Iin, tapi juga tidak menolaknya. Karena Iin terlalu berani melakukan itu di tempat umum, meskipun sedang sepi dan hanya mereka berdua saja.
"Kelihatannya bahagia banget ni, habis menang lotre ya?" ledek Ari yang sebenarnya tahu apa yang terjadi.
"Ini lebih dari lotre malahan hehe." jawab Iin sambil bergelanyut manja di lengan Ari.
"Ow iya kog kamu ada disini? Gak bilang-bilang lagi, tahu gitu kan tadi aku gak bawa motor sendiri kita bisa pulang bareng. Trus mampir ke..." lanjut Iin dengan sengaja menggoda Ari.
"Sengaja nyusulin kamu kesini, pengen cepet tahu hasilnya gimana. Tadi pagi ke proyek dulu mastiin disana aman mah. Mampir kemana hayo..? Mulai mesyum ya hehe." jawab Ari dengan mengelus pucuk kepala Iin dengan sayang.
Iin yang diperlakukan begitu, merasa semakin dicintai oleh Ari. Dan semakin yakin akan memberikan hatinya untuk Ari setelah ini.
"Halah kayak gak tahu aja biasanya kemana?" kata Iin sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Gampang kan, nanti kita berangkat sendiri-sendiri trus ketemu disana, beres." jawab Ari.
Diam-diam mereka sering bertemu diluar rumah dan menyewa hotel untuk sekedar melepaskan hasrat, dan penjaga hotel pun sudah mengenali mereka sebagai pasangan suami-istri karena mereka mengaku begitu.
__ADS_1
"Tu kan mau juga hehe." goda Iin sambil menjawil dagu Ari dengan gemas.
"Uda buruan, uda gak sabar ini mah pengen ketemu." tunjuk Ari seraya melirik ke bagian bawah celananya.
Iin yang tahu maksud Ari pun dengan sengaja memegang pelan isi dalam celana itu dan segera berlari menuju parkiran sepeda motornya dengan tertawa.
Dan Iin bisa merasakan bahwa didalamnya memang sudah siap. Karena Ari pun tidak tahu, setiap bertemu dengan Iin selalu ingin dan ingin.
Ari yang merasakan sentuhan tangan Iin pun tanpa sengaja memejamkan mata dan mendesa* pelan, meskipun masih berbalut kain tapi Ari merasa sentuhan tangan Iin tidak ada duanya dan selalu memabukkan.
Akhirnya sesuai dengan kesepakatan mereka tadi, dengan segera melajukan motor masing-masing ke tempat yang sudah menjadi langganan mereka. Untuk mereka kembali merengkuh kegiatan panas nan memabukkan itu.
...****************...
Di rumah kedua orang tua Yudi.
Mereka terlihat sedang berbicara melalui sambungan telepon. Karena ada seseorang yang menghubungi mereka.
Dan ternyata yang menghubungi mereka adalah Yudi.
__ADS_1
Yudi hanya bisa berkomunikasi dengan kedua orang tuanya ketika dia menelpon saja, tetapi sebaliknya orang tuanya tidak bisa menghubungi Yudi. Karena memang itu peraturan yang di buat di lapas.
Di dalam telepon tersebut, Yudi memberitahukan masa hukuman yang dia terima. Karena kemarin dia sudah menjalani sidang itu.
"Ya sudah le ora opo-opo pasrah aja diterima apa yang sudah menjadi jalanNya. Kami sebagai orang tua hanya bisa mendoakan yang terbaik buat kamu ya le." kata Ayah Yudi yang memberi pengertian dan nasehat. Karena Ibu Yudi hanya bisa menangis tidak sanggup untuk berbicara.
"Iya pak terus doakan aku ya biar kuat menjalani semua ini. Ya wes ngono ae pak, salam buat Ibu maaf sudah membuat kalian kecewa." ucap Yudi dengan menahan tangisnya.
"Iyo kami akan selalu mendoakan mu, anakku. Baik-baik disana ya." jawab Ayah Yudi yang mencoba tegar.
Setelah mengakhiri panggilan itu, dengan segera Yudi menangis tersedu-sedu. Tidak bisa membayangkan kedua orang tuanya yang menanggung malu atas perbuatannya itu.
Yudi memang sengaja segera mengakhiri panggilan tersebut, karena dia tidak kuat berlama-lama mendengar suara kedua orang tuanya. Karena rasa bersalahnya yang terlalu dalam itu
...****************...
Tetap semangat kak 💪
Jangan lupa like, komen dan hadiahnya 🙏
__ADS_1