Rahasia Putri Bercadar

Rahasia Putri Bercadar
Persiapan Pernikahan


__ADS_3

Kediaman Xiao Er(pagi hari)


Lagi-lagi Fang Hua susah dibangunkan,Yi sangat frustasi akan hal itu.Padahal Permaisuri Lian sudah duduk di depan kamar menunggunya lama.


Karena tak kunjung bangun,Permaisuri berinisiatif membangunkannya.


"Yang Mulia Putra Mahkota datang..."teriak Permaisuri Lian di telinganya.


"Yang Mulia!."teriak Fang Hua terbangun dari tidurnya.


"putriku sayang,akhirnya kamu bangun juga yaa."ucap Permaisuri Lian dengan nada meledek.


"ehh...ibunda...


Xiao Er akan bersiap-siap dulu"ucap Fang Hua malu-malu.


"baiklah,cepatlah..."ucap Permaisuri Lian senyum.


"baik,ibunda"ucap Fang Hua lirih.


"cadarku!"teriak Fang Hua dalam hati sembari memegang wajahnya memastikan.


"syukurlah,aku masih memakainya"ucap Fang Hua dalam hati,sembari bernafas lega.


"kenapa kamu memegang cadarmu?"tanya Permaisuri Lian penasaran.


"Xiao Er hanya memastikan,Xiao Er masih memakainya atau tidak"ucap Fang Hua lirih.


"kenapa kamu ngga lepasin aja...


ibunda ngga apa-apa kok,kamu ngga usah malu...."ucap Permaisuri Lian lembut,sembari menggenggam tangan Fang Hua.


"maafkan Xiao Er ibunda...


cukup Xiao Er yg melihat wajah ananda sendiri."ucap Fang Hua ,sembari menundukkan kepala.


"baiklah,ibunda tidak akan memaksamu"ucap Permaisuri Lian sembari melepaskan genggamannya secara halus.


"kasian Xiao Er,andai ibunda bisa menyembuhkanmu sayang.."ucap Permaisuri Lian dalam hati.


"silahkan mandi nona,pemandian sudah siap"pinta Yi.

__ADS_1


Fang Hua lalu bergegas mandi,kemudian berpakaian dan berias diri dibantu Yi.Saat keluar dari kamarnya,betapa terkejutnya Fang Hua melihat banyak kotak berhiaskan ornamen-ornamen dan pita kain berwarna merah,gulungan sutra,baju pernikahan,dan lain-lain.


"Xiao Er kesini"ucap Permaisuri Lian melambaikan tangan.


"ibunda...kenapa ada banyak sekali barang?dari mana semua ini?"tanya Fang Hua bingung sembari mendekati Permaisuri Lian.


"semuanya adalah 纳征 nà zhēng dari Putra Mahkota,kamu besok kan akan menikah.Coba lihat baju pernikahanmu ini ,bagus sekali... Yang Mulia pasti akan terpana melihatmu memakainya."seru Permaisuri Lian sembari mengangkat baju pernikahan yg berwarna merah itu dari kotaknya,lalu membolak balikkannya.


"ngga terasa besok aku akan menikah"ucap Fang Hua dalam hati.


"Xiao Er,coba kamu pakai sekarang.Pas atau tidak di badanmu,kalau belum pas.Ibunda akan memanggil penjahit, untuk mengukur dan memperbaiki bajunya atau membuatkan yg baru untukmu."ucap Permaisuri Lian sembari menempelkan bajunya pada tubuh Fang Hua.


"lalu siapa pelayan-pelayan ini,aku baru melihatnya ibunda"ucap Feng Hua sembari melirik para pelayan yg sedang menata rapi kotak-kotak tersebut.


"ohh,mereka dikirim oleh Putra Mahkota untukmu"ucap Permaisuri Lian santai.


"kalian tolong bantu Xiao Erku untuk memakainya"ucap Permaisuri Lian sembari memberikan pakaiannya pada Yi dan memandang para pelayan yg dikirimkan Putra Mahkota.


"baik,nyonya"seru Yi dan para pelayan lainnya.


Yi kemudian mengambil bajunya,lalu berjalan menuju kamar bersama Fang Hua dan diikuti pelayan-pelayan itu.Selang 15 menit ,Fang Hua keluar menunjukkan pakaiannya dihadapan Permaisuri Lian,diikuti Yi dari belakang.


"apa ini yg namanya jodoh.."celetuk Yi sembari senyum.


"kamu benar Yi,sepertinya Xiao Er kita memang berjodoh dengan Yang Mulia"balas Permaisuri Lian sembari tertawa kecil.


"ibunda...."ucap Fang Hua malu-malu.


"baiklah Xiao Er"ucap Permaisuri Lian menenangkan.


Kemudian Permaisuri Lian dan dibantu para pelayan mencoba memakaikan perhiasan,menata rambutnya,dan lain-lainnya.Kurang lebih 2 jam,semuanya baru selesai.


"wahh,kalau sudah lengkap begini kamu terlihat sangat cantik"ucap Permaisuri Lian dengan senyum merekah.


"terimakasih,ibunda"seru Fang Hua.


"ohh,yaa untuk emas,permata,mutiara dan gulungan sutra bawalah ke gudang penyimpanan,jangan lupa untuk didata,"ucap Permaisuri Lian pada pelayannya.


"akhirnya selesai juga,tinggal menghias kediamanmu dan aula utama.Lalu perjamuan dan masih banyak lagi,Kalau begitu sampai disini dulu ya Xiao Er.Kita bertemu besok pagi .Ibunda akan mengurus hal lainnya dulu"ucap Permaisuri Lian ,sembari mengambil tangan kanan Fang Hua dan menepuknya beberapa kali.Kemudian berlalu pergi.


"cape sekali,ternyata nikah itu ngga gampang."keluh Fang Hua dibenaknya.

__ADS_1


"tolong kalian bawa semuanya masuk ke kamarku,dan tata yg rapi ya..."ucap Fang Hua sembari memandang para pelayan.


"kamu juga bantu mereka"ucap Fang Hua sembari melihat Yi.


"baik,nona"ucap Yi sembari membawa salah satu kotak.


setelah itu,Fang Hua mengganti pakaiannya seperti biasa.


Fang Hua kemudian berjalan-jalan disekitar taman.Lalu,Fang Hua tiba-tiba berhenti tepat dimana dia bertemu Putra Mahkota malam itu dan teringat kembali kenangan bersamanya.


tiba-tiba terdengar suara langkah kaki dari belakang.saat Fang Hua menengok ke belakang,dia melihat Diwei sedang berjalan ke arahnya.


"aku kira Yang Mulia"gumam Fang Hua dalam hati.


"salam nona"ucap Diwei sembari memberi hormat.


"iya, Diwei... ada apa?"tanya Fang Hua penasaran.


Diwei mendekat pada Fang Hua,kemudian berbisik di telinganya.


"kami menemukan petunjuk soal pembunuhan nona,tanpa sengaja.Kami melihat seorang pelayan wanita menguburkan sesuatu semalam di tempat Kediaman Tuan Perdana Mentri Xiao,lalu kami mengeceknya karena penasaran.Ternyata sebuah jubah merah,yg mana pernah dipakai oleh orang yg ingin membunuh nona."lirih Diwei, dengan nada serius.


"tidak mungkin ayahanda yg melakukannya,kamu harus menyelidiki lebih dalam.Temukan pelayan wanita itu diam-diam,tapi aku ragu jika dia masih hidup."geram Fang Hua dengan suara pelan.


"Siapa dia?kenapa dia menguburnya ditempat ayahku?"tanya Fang Hua dalam hati.


"pelayan itu bisa masuk ke dalam kediaman ayahku tanpa dicurigai,berarti pelayan itu suruhan seseorang terdekatku.Biasanya orang yg melakukan pembunuhan adalah orang yg benci denganmu, atau mempunyai suatu tujuan.Sepertinya aku tau, tapi aku melupakannya"ucap Fang Hua dalam hati.


"kamu kembalilah dulu,terimakasih sudah memberitahuku"ucap Fang Hua sembari menepuk pundak kiri Diwei.


"nona menepuk pundakku"ucap Diwei senang dalam hati.


"baik,nona"ucap Diwei sembari memberi hormat lalu berlalu pergi.


Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat kejadian ataupun cerita, itu adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan.


terimakasih sudah mau membaca ceritaku yg masih berantakan ini 😂,rahasia putri bercadar adalah karya pertamaku.


semoga kalian senantiasa terhibur...


Mohon di like,di komen,atau di vote trimakasih🙏😊

__ADS_1


__ADS_2