Rahasia Putri Bercadar

Rahasia Putri Bercadar
Melarungkan Pelita Harapan


__ADS_3

Sesampainya di tepi sungai.Putra Mahkota tidak berhenti berjalan,dia malah meneruskan jalannya dengan menyusuri tepi sungai.Feng Hua yg mengikutinya menjadi kesal."Kapan berhentinya sihh?!Tak perlulah...Jauh-jauh..."teriak Feng Hua dibenaknya.Dan lama-kelamaan,Feng Hua merasa tak tahan karna sudah lelah dan malas untuk berjalan lagi."Mau sampai kapan terus berjalan...Kita ini mau melarungkan Pelita Harapan...Bukan mencari harta karun..."Keluh Feng Hua dengan berdengus kesal.


Mendengar Feng Hua begitu.Putra Mahkota mulai menengok kesana-sini "Kalau begitu...Disini saja..."ucap Putra Mahkota yg mana,menurutnya sepi dan jauh dari keramaian orang.


"Akhirnyaaa..."teriak Feng Hua,sembari menghela nafas panjang.


Putra Mahkota lalu memberikan salah satu Pelita Harapan pada Feng Hua.


"Ayo kita larungkan bersama"pinta Putra Mahkota.


"Ada-ada saja kamu...Pelita Harapan milik kita saja masih polos begini..."ketus Feng Hua,sembari menerima Pelita Harapan.


"Aiya!Aku lupa membawa tinta dan kuasnya"teriak Putra Mahkota.


Tiba-tiba dari kejauhan ada suara seorang laki-laki berceletuk"Aku membawa tinta dan kuas"


Feng Hua dan Putra Mahkota kemudian menengok kesegala arah mencari sumber suara.Yang ternyata suara itu berasal dari Pangeran Kedua Shen yg berada lumayan jauh dari arah kiri Feng Hua.


Pangeran Kedua Shen tidak sendirian,dia bersama permaisurinya Yihua.Mereka berjalan mendekati Putra Mahkota dan Feng Hua.


"Kalian juga datang rupanya"ucap Putra Mahkota senang.Meski senang,dibenaknya terbesit kekesalan"Sudah berjalan jauh,masih bisa ditemukan orang..."


"Iya...Dan kami juga melihat Putri Mahkota menari tarian musim semi dengan indahnya"ucap Pangeran Kedua Shen dengan senyum.


"Kenapa harus memuji sihh...Benar-benar membuatku jadi tambah kesal saja..."teriak Putra Mahkota dengan amarah yg tertahan dibenaknya.


"Terimakasih atas pujiannya Pangeran Kedua"ucap Feng Hua dengan hormat.


Tak lama Pangeran Kedua Shen dan Permaisuri Yihuapun sampai,lalu Permaisuri Yihua memberikan kuas tulis dan kotak kecil terbuat dari kayu yg berisi tinta pada Feng Hua.


"Ehh...Lalu kalian bagaimana??"ucap Feng Hua terkejut.


"Ohh,kami sudah menulisnya"ucap Pangeran Shen,sembari menunjukkan kedua Pelita Harapannya yg berada di tangan kanan dan kirinya sudah penuh dengan tulisan.


"Ohh...Baiklah.."ucap Feng Hua,sembari menerima pemberian Permaisuri Yihua itu.Lalu berjongkok dan menaruhnya ke tanah bersama Pelita Harapannya.


Putra Mahkota memberi kode lirikan mata pada Pangeran Kedua Shen,yg seakan berkata"Pergilah kalian sekarang!".Pangeran Kedua Shen yg melihatnya langsung berucap"Kalau begitu,kami duluan yaa"sembari berjalan menjauh dari Putra Mahkota dan Feng Hua dengan cepat.Permaisuri Yihua yg merasa aneh pada suaminya itu,hanya mengikutinya dari belakang sambil bergumam"Baru juga bertemu lalu menghindar..Aku kira kita bisa melarungkan Pelita Harapan bersama mereka..."


"Lalu bagaimana dengan kuas dan tintanya..."teriak Feng Hua.


"Kembalikan saja besok pagi..."teriak Pangeran Kedua Shen yg sudah berjarak lumayan jauh dari Feng Hua dan Putra Mahkota.


"Aku kira kita bisa melarungkannya bersama mereka"gumam Feng Hua.


"Sudahlah...Mereka mungkin ingin melarungkannya berdua saja.Kamu menulislah lebih dulu..."ucap Putra Mahkota sambil mengikuti Feng Hua berjongkok.


"Baiklah..."ucap Feng Hua,sambil membuka kotak tinta.

__ADS_1


Kemudian Feng Hua mulai mencelupkan kuas tulis pada kotak tinta sambil berucap dibenaknya"Jika memang benar,Dewa akan mengabulkan keinginan setiap orang yg melarungkan pelita harapannya.Bisakah aku yg sudah meninggal ini..."


Lalu Feng Hua menuliskan


I want


to meet


my family


pada Pelita Harapannya yg berlapis kain sutra berwarna putih polos.


(I want to meet my family \= aku ingin bertemu keluargaku)


Setelah itu,Feng Hua menaruh kuas tulisnya bersandar pada kotak tinta.


"Aku menulisnya dalam bahasa inggris,supaya orang-orang tidak ada yg mengerti"ucap Feng Hua dibenaknya lagi,sambil menatap tulisannya intens dan meneteskan air mata.


Putra Mahkota yg melihat tulisan Feng Hua dan melihat mata Feng Hua begitu merasa heran dan bertanya-tanya"Tulisan apa itu?Baru kali ini aku melihatnya...Dan kenapa Xiao Er menangis?"


"Ada apa Xiao Er?Kenapa menangis??"tanya Putra Mahkota dengan wajah cemas.


"Ahahaha tanpa sadar aku menangis"ucap Feng Hua mengelak sembari menghapus air matanya dengan tangan kanannya.


"Aku penasaran dengan harapanmu.Bisakah kamu menjelaskannya?Karna aku tidak bisa membacanya,dan tulisan apakah ini?Karna aku baru melihatnya..."ucap Putra Mahkota.


"Bahasa karangan?"ucap Putra Mahkota bingung.


"Iya.Aku menamainya begitu.Aku membuatnya dengan tujuan,agar tidak ada yg tau harapanku"ucap Feng Hua meyakinkan kebohongannya.


"Tidak ada?.Barusan kamu mengucapkannya padaku"ledek Putra Mahkota dengan senyuman.


"Aiya...Aku bodoh sekali..."ucap Feng Hua dengan tertawa kecil.


"Hahaha...Kamu tidak bodoh bagiku.Kan tadi aku yg memintanya..."ucap Putra Mahkota dengan mengelus kepala Feng Hua lembut beberapa kali.


"Karna Xiao Er sudah menuliskan harapannya...Kini giliranku..."ucap Putra Mahkota,sembari mengambil kuas tulis dan mencelupnya ke kotak tinta.


Kemudian Putra Mahkota menuliskan


安全 Ānquán


健康 jiànkāng


幸福 Xìngfú


Pada Pelita Harapannya yg berlapis sutra sama seperti milik Feng Hua.

__ADS_1


(安全 Ānquán 健康 jiànkāng 幸福 Xìngfú \=Keamanan,Kesehatan,Kebahagiaan)


"Doa yg bagus"ucap Feng Hua memuji,saat Feng Hua melihat tulisan Putra Mahkota.


"Terimakasih"ucap Putra Mahkota tersenyum.


"Baiklah...Mari kita melarungkannya sekarang..."ucap Feng Hua semangat.


"Sebelum itu.Kita nyalakan dulu lilin yg ada didalamnya"ucap Putra Mahkota.


"Kamu benar..."ucap Feng Hua mengiyakan.


Putra Mahkota kemudian mencari sebuah ranting pohon di tanah yg berada disekitarnya.Tak lama dia menemukannya dan mengambilnya.Lalu berdiri dan membakar ranting pohon itu pada obor yg terpasang lumayan dekat darinya.Setelah itu,buru-buru dia membawa ranting pohon yg terbakar,menuju lilin yg berada didalam Pelita Harapan miliknya dan juga Feng Hua.Melihat lilin sudah menyala semua,dengan cepat dia membuang ranting pohon itu.


"Wahh sudah terang...Kalau begini jadi semakin kelihatan.Sekarang sudah bolehkan...Kita melarungkannya?"ucap Feng Hua dengan gembira.


Putra Mahkota membalas ucapan Feng Hua dengan anggukkan kepala disertai senyuman.Lalu mereka melarungkan Pelita Harapan masing-masing secara bersamaan ke sungai.


"Selamat jalan Pelita Harapan..."ucap Feng Hua dibenaknya,sambil memandangi Pelita Harapannya yg perlahan berjalan menjauh darinya mengikuti arus aliran sungai.


"Ayo kita pulang"seru Putra Mahkota.


"Baiklah..."ucap Feng Hua dengan anggukkan kepala.


Setelah melarungkan Pelita Harapan.Feng Hua menutup rapat kotak tinta dan mencuci kuas tulis pada aliran sungai.Kemudian Feng Hua dan Putra Mahkota berdiri,lalu berlalu pergi menuju kereta kuda berada.


Sesampainya di kereta kuda.Para pengawal bayangan dan ajudan Xu sudah berdiri menunggu di luar kereta kuda.


"Ayo kita pulang..."perintah Putra Mahkota.


"Baik.Yang Mulia"ucap Para pengawal bayangan dan ajudan Xu bersamaan.


Para Pengawal bayangan dan ajudan Xu dengan cepat masuk ke kereta kuda dan menaiki kuda.


"Ayo masuk"ucap Putra Mahkota dengan mengulurkan tangan pada Feng Hua,bermaksud membantu Feng Hua masuk ke kereta kuda.


"Baiklah"ucap Feng Hua sembari memegang erat uluran tangan Putra Mahkota dan mulai menginjakkan kaki masuk ke kereta kuda.Lalu Putra Mahkota mengikuti Feng Hua masuk ke kereta kuda.


"Bagaimana Yang Mulia?"tanya ajudan Xu,memastikan kedua majikannya sudah duduk dengan baik dan siap untuk berangkat.


"Ayo berangkat"Jawab Putra Mahkota dengan nada sedikit tinggi.


"Baik.Yang Mulia"ucap Ajudan Xu.


"Ayo berangkat"teriak ajudan Xu dengan memacu kudanya.


Ketiga pengawal bayangan yg bertugas membawa kuda,ikut memacu kudanya mengikuti arahan ajudan Xu.

__ADS_1


__ADS_2