
Kediaman Xiao Er(tengah malam)
"Salam nona Xiao Er"ucap Diwei,Ping,Fai,dan Ho bersamaan,sembari memberi hormat.
"Baiklah.Ngomong-ngomong,Yi sudah memberitahu kalian kan?"ucap Feng Hua.
"Sudah nona"jawab mereka bersamaan.
"Terimakasih sudah membantuku menyelesaikan permasalahanku.Aku sangat senang.Terimalah uang ini,sebagai tanda terimakasihku"ucap Feng Hua senang,sembari memberikan satu-persatu kantung berisi penuh koin emas ke tangan mereka.
"Kami hanya melakukan sesuai perintah,nona"ucap Ping,sembari menggaruk kepalanya yg tidak gatal itu.
"Benar kata Ping,nona"ucap Ho menimpali.
"Terimakasih,nona"ucap Fai.
"Nona tidak perlu begini"ucap Diwei dengan tatapan tak suka.
"Aduhh,udah terima aja!Kalau ngga suka.Buatku saja.."ucap Ping mengambil kantung tersebut dari tangan Diwei.
"Dasarr Ping...
kembalikan ke Diwei!"ucap Fai,sembari menjitak kepala Ping.
"Haduhh,iya..iya..
Aku kan cuma bercanda.."ucap Ping,sembari menatap Fai sinis.Lalu mengembalikannya pada Diwei.
"Maafkan kelakuan Ping,nona.."ujar Ho.
"Aku justru terhibur dengan kelakuannya"ucap Feng Hua,sembari tertawa kecil.
"Bukan uang yg aku mau dari nona"gumam Diwei dibenaknya.
"Aku tau bibi Selir Pertama Huaran memberiku racun ivy.Karna saat itu,kita mengupingnya di bangunan sekte angin hitam.Tapi aku tidak tau ternyata bermula dari bedak,lalu obat-obatan tabib yg dia ganti.Jadi,darimana kamu tau hal itu?"ucap Feng Hua pada Diwei.
"Dari teman, yg mana nona dan Diwei pernah temui di bangunan tersebut.Dia menceritakan semuanya pada Diwei,saat Diwei menemuinya kemarin malam"balas Diwei.
__ADS_1
"Temanmu yg waktu itu,memergoki kita menguping itu.Ya?"tanya Feng Hua antusias.
"Benar,nona"balas Diwei dengan anggukan kepala.
"Aku sungguh tidak menyangka temanmu mengetahui semua itu.Seharusnya aku memberinya uang juga!"seru Feng Hua.
"Bagaimana,kalau besok kita temui dia.Nona?"tanya Diwei dengan semangat.
"Ide bagus.Besok kita temui temanmu itu dan jangan lupa membawa uang"ucap Feng Hua riang.
"Tengah malam?"tanya Diwei menegaskan.
"Ya..karna hanya tengah malam aku bisa keluar menemui kamu dan yg lainnya"ucap Feng Hua.
"Kalau begitu,baiklah nona!"seru Diwei senang.
"Dikasih uang tidak suka.Giliran menemui temannya dia senang??"ujar Feng Hua merasa heran dibenaknya.
"Kalau begitu,aku kembali yaa"ucap Feng Hua dengan lambaian tangan.Kemudian berlalu pergi.
Padahal Feng Hua sudah jauh dari pandangan,tapi Diwei masih berdiri menatap kepergiannya.Sedangkan Fai,Ping,dan Ho asik menghitung uang yg ada ditangan mereka.Diwei yg melihat mereka begitu,hanya tertawa kecil.
Aula Pertemuan(pagi hari)
Keesokan paginya,semua orang berkumpul di aula pertemuan.Semua orang menanti keputusan Putra Mahkota dan Perdana Mentri Xiao.
Tak lama kemudian Perdana Mentri Xiao membuka suara.
"Baiklah,hari ini aku dan Yang Mulia Putra Mahkota akan memberikan keputusan.Tentang hukuman apa yg harus diterima Selir Pertama Huaran dan pelayan itu"ucap Perdana Mentri Xiao lugas.
"Hukumannya adalah membiarkan Selir Pertama Huaran pergi dari sini hidup-hidup"ucap seorang wanita yg tiba-tiba masuk dari pintu aula pertemuan.
Mendengar ucapan dari wanita itu,Xiao Jiao dan Selir Pertama Huaran terkejut senang.Sedangkan yg lainnya,menatap wanita itu heran.
Wanita itu memakai cadar hitam dan membawa pedang di tangannya.
"Siapa kamu?"tanya Perdana Mentri Xiao dengan tatapan tak suka.
__ADS_1
"Kamu tidak perlu tau siapa aku" balas wanita itu.
"Para penjaga...cepat bawa kakak!!"teriak wanita itu.
"Kakak?"tanya Perdana Mentri Xiao heran dibenaknya.
"Permaisuri Ze?"pikir Feng Hua.
Para penjaga wanita itu kemudian masuk ke aula pertemuan secara paksa.Para penjaga di aula pertemuan tidak tinggal diam,mereka melawan dengan sekuat tenaga.Namun jumlah penjaga wanita itu sangatlah banyak,dibandingkan penjaga yg ada di aula pertemuan.
Melihat hal itu.Putra Mahkota,Perdana Mentri Xiao,serta kedua anak laki-lakinya yaitu Xiao Minghao dan Xiao Tuoli ikut melawan para penjaga wanita itu.
Para pelayan,dayang Feng Hua,Permaisuri Lian,serta ketiga selir ikut membantu melawan para penjaga wanita itu.Feng Hua pun ikut melawan juga,namun hanya membantu sekedarnya(tidak menunjukkan kemampuannya).Sedangkan Xiao Jiao dan wanita itu berusaha membawa keluar Selir Pertama Huaran,tapi selalu gagal.Karna ada saja yg menghalanginya,entah itu Putra Mahkota atau Perdana Mentri Xiao.
Feng Hua sebenarnya ingin membunuh para penjaga wanita itu sekaligus,namun dia urungkan.Karna dia tidak ingin ada yg tau,kalau dia bisa beladiri.
Emosi Feng Hua meluap ketika melihat bahu kanan Permaisuri Lian terluka karna sabetan pedang salah satu penjaga wanita itu.Feng Hua sudah tidak peduli lagi soal menyembunyikan keahliannya.
Feng Hua menendang keras penjaga yg sudah melukai ibunya dengan kaki kirinya,penjaga itu pun jatuh tersungkur.Lalu Feng Hua mengambil pedangnya,lalu menebasnya.Permaisuri Lian terkejut pingsan,ketika melihat Feng Hua melakukan itu.
Setelah itu,Feng Hua terus melawan dan membunuh para penjaga wanita itu tanpa henti.Wanita itu bergidik ngeri saat tak sengaja melihat Feng Hua membunuh para penjaganya.Meski sudah melihat Feng Hua begitu,wanita itu tetap kekeh berusaha mengeluarkan Selir Pertama Huaran.Dan saat Putra Mahkota dan Perdana Mentri Xiao lengah,wanita itu berhasil mengeluarkan Selir Pertama Huaran.Saat mereka akan melangkahkan kaki menuju gerbang,langkah mereka terhenti karna Feng Hua menghadang didepannya.
"Kamu!!"teriak wanita itu tak menyangka.
"Bagaimana ini!"seru Selir Pertama Huaran khawatir
"Aku akan membunuhnya,kakak tenang saja"ucap wanita itu dengan meyakinkan,namun terbesit rasa takut dibenaknya.
"Kalau begitu,bunuh saja aku sekarang"ucap Feng Hua santai.
"Hiatttt..."seru wanita itu sambil mengayunkan pedangnya.
Feng Hua kemudian menangkis serangan wanita itu,lalu menotok cepat meridian di tubuh bagian atas wanita itu.
"kenapa aku tidak bisa bergerak...!!"teriak wanita itu dibenaknya.
"Mana??katanya mau membunuhku..."ucap Feng Hua dengan tertawa keras.
__ADS_1
Selir Pertama Huaran dan wanita itu merasa ketakutan,setelah mendengar perkataan dan tertawaan Feng Hua.