
Setelah 30 menit perjalanan,Feng Hua dan Diwei sampai didepan lembah kabut.Beberapa penjaga,menyambut dan mengantar mereka menuju mansion sekte angin hitam.
"Kali ini kita tidak lewat samping pepohonan"ledek Feng Hua sembari tertawa kecil.
"Sebenarnya waktu itu,hanya sebuah alasan saja.Diwei mengarangnya,supaya nona dan yg lain tidak lewat depan"ucap Diwei,sembari menggaruk kepalanya yg tidak gatal itu.
"Iya.Iya.Aku paham,waktu itu kamu dikira sudah meninggal.Dan yg ingin membunuhmu adalah Ze"ucap Feng Hua,sembari menganggukan kepala.
Tak lama Feng Hua dan Diwei sampai,lalu mereka turun dari kuda.Para penjaga kemudian mengamankan kuda mereka.
"Mari nona,silakan masuk"ucap Diwei,mempersilahkan dengan tangan kanannya.
"Baiklah"ucap Feng Hua riang.
Mereka kemudian berjalan menuju ke aula pertemuan.Ternyata mereka sudah ditunggu oleh ketua sekte dan para anggota sekte yg lain.
"Salam tuan Weiheng dan semuanya"ucap Feng Hua,sembari memberi hormat kepada Weiheng dan para anggota sekte angin hitam.
"Salam Yang Mulia Putri Mahkota"ucap Weiheng,sembari memberi hormat.
"Salam Yang Mulia Putri Mahkota"ucap para anggota sekte bersamaan,sembari memberi hormat.
"Tempat mu sangat indah"ucap Feng Hua memuji.
"Terimakasih,Yang Mulia"ucap Weiheng.
"Silakan duduk,Yang Mulia"ucap Weiheng mempersilahkan dengan tangan kanannya.
Feng Hua dan Diwei kemudian duduk.Duduk berdampingan disebelah kiri,dekat dengan Weiheng yg duduk di tengah-tengah ruangan.Sedangkan para anggota sekte duduk menyebar disebelah kanan dan kiri ruangan.
"Yu,kemari..."teriak Weiheng memanggil.
"Ada apa ketua?"ujar Yu,sembari berjalan mendekat pada Weiheng.
"Yang Mulia Putri Mahkota,meminta bertemu denganmu"ucap Weiheng.
__ADS_1
"Kemarilah Yu,aku ingin memberimu sesuatu"ucap Feng Hua.
Namun Yu hanya diam,sambil menatap Diwei dan Weiheng bersamaan.Seakan-akan Yu meminta ijin pada mereka.Weiheng dan Diwei membalas tatapan Yu dengan anggukan kepala bersamaan.Yu kemudian mendekati Feng Hua.
"Terimalah"ucap Feng Hua memberikan kantung uang itu pada Yu.
"Ini terlalu banyak Yang Mulia,terimakasih"ucap Yu sembari memberi hormat.
"Berkat kamu,aku bisa membuktikan Selir Pertama Huaran bersalah"ucap Feng Hua riang.
Yu hanya membalas ucapan Feng Hua ,dengan senyuman.
"Sekarang, kamu boleh pergi.."ucap Diwei mempersilahkan Yu pergi.
"Kalau begitu, Yu undur diri"ucap Yu,kemudian bergegas pergi entah kemana.
"Kalau begitu kami pamit pulang"ucap Feng Hua,mengubah posisinya menjadi berdiri.Lalu memberi hormat pada Weiheng.
"Hamba kira,akan menjamu Yang Mulia sebentar"ucap Weiheng memohon.
Weiheng kemudian menyuruh para pelayan membawakan makanan dan minuman,tak lupa juga arak.Para anggota sekte angin hitam memeriahkan suasana dengan menari dan bernyanyi,tak lupa saling bersulang arak.
Feng Hua pun ikut larut dalam jamuan itu.Tanpa Feng Hua sadari,dia meminum banyak arak.Padahal Diwei sudah bersih keras melarang Feng Hua minum banyak arak.
"Nona...sudah hentikan minumnya..."ucap Diwei mencoba merebut cangkir Feng Hua yg berisi arak penuh.
"Baru kali ini,aku meminum air yg rasanya begitu manis...sayangkan...kalau tidak dihabiskan..."ucap Feng Hua yg sudah mabuk,sembari menjauhkan cangkirnya dari tangan Diwei yg ingin merebut.
"Sudah cukup nona!"ucap Diwei tegas,berhasil mengambil cangkir Feng Hua.
"Huhh! menyebalkan!!"teriak Feng Hua kesal.
"Ayah... aku dan Yang Mulia pamit pulang"ucap Diwei sembari memberi hormat,lalu memapah Feng Hua dengan susah payah.Karna Feng Hua meronta tidak mau dipapahnya.
"Kamu bawa Yang Mulia dengan kereta kuda saja,sedangkan kudamu dan Yang Mulia dibawa para penjaga saja"ucap Weiheng menyarankan.
__ADS_1
"Baiklah"ucap Diwei setuju.
"Penjaga!siapkan kereta kuda sekarang.."ucap Weiheng memerintah.
Diwei lalu menggendong Feng Hua ala bridal style menuju kereta kuda.Diikuti Weiheng dari belakang.Weiheng kemudian menyuruh satu penjaga membawa kereta kuda dan dua penjaga membawa kuda mereka.Mereka kemudian berangkat menuju kediaman.
Di perjalanan. Feng Hua berteriak,bernyanyi dan mengoceh tak jelas.Terpaksa Diwei memeluk dan menutup mulut Feng Hua dengan tangan kanannya,dan berhasil.Namun hanya bertahan sebentar,karena Feng Hua menggigitnya.Diwei meringis kesakitan.
"Aku ngga mau pulangg...arakku yg manis belum habis huhuhu"Rengek Feng Hua,sambil meronta-ronta dipelukan Diwei.
"Lainkali yaa.Diwei berjanji"ucap Diwei berusaha menenangkan Feng Hua,sembari meniup tangan kanannya.
"Diwei!"seru Feng Hua,sembari mendongak keatas.lalu menatap mata Diwei.
"iya?"tanya Diwei penasaran,sambil menatap mata Feng Hua.
"Sepertinya aku hmmphh"ucap Feng Hua dengan tangan menutup mulutnya,seakan ingin memuntahkan isi perutnya.
"Aduhh,aku lupa bawa pereda mabuk!"teriak Diwei panik dibenaknya.
"Nona...jangan muntah dulu yaa,sebentar lagi kita sampai.. "bujuk Diwei.
Huekk...
Feng Hua memuntahkan isi perutnya ke pakaian Diwei.Saat Diwei akan membersihkan muntahan Feng Hua.
Huekk...
Feng Hua memuntahkan isi perutnya untuk kedua kalinya.Diwei kemudian memindahkan Feng Hua yg berada dipelukkannya,ke sampingnya.Feng Hua kemudian tertidur,dengan kepala menyender di bahu Diwei.
Diwei mengeluarkan sapu tangannya dari depan bajunya.Dengan sabar Diwei membersihkan pakaiannya yg terkena muntahan Feng Hua, dengan sapu tangan tersebut.Setelah membersihkan pakaiannya,dia melihat cadar Feng Hua juga terkena muntahan.Diwei berniat membersihkannya juga,namun secara tiba-tiba kereta kuda berhenti mendadak.
"Kenapa keretanya berhenti?!"teriak Diwei kesal pada penjaga yg membawa kereta kuda.
"Maaf tuan muda,ada beberapa orang menghalangi jalan"teriak penjaga yg membawa kereta kuda.
__ADS_1
"Apapun yg terjadi,Aku akan melindungimu"gumam diwei dibenaknya,sembari melihat Feng Hua yg tengah tertidur karna mabuknya.