Rahasia Putri Bercadar

Rahasia Putri Bercadar
Mata bengkak


__ADS_3

"Mata Nona sangat bengkak"ucap Yi heran.


"Biarkan saja"ucap Feng Hua acuh.


"Ngomong-ngomong,sudah beberapa hari ini aku tidak melihatmu.Apakah kamu sakit?"ucap Feng Hua khawatir.


"Iya Nona,tapi Yi sekarang sudah sembuh..."ucap Yi sembari menundukkan kepala.


"Kenapa kamu tidak memberitahuku lewat yg lain,kalau kamu sakit?"ucap Feng Hua kesal.


"Aku tidak ingin merepotkan nona" ucap Yi sedih.


"Aihh baiklah,lain kali jangan begitu"ucap Feng Hua sembari menghela nafas.


"Terimakasih nona"ucap Yi sembari memberi hormat.


Dayang di luar kamar berucap meminta ijin masuk,kemudian Feng Hua mempersilahkannya.


"Ada apa?"ucap Feng Hua penasaran.


"Selir Pertama Huaran dan juga putrinya Xiao Jiao datang untuk berpamitan dengan nona"ucap dayang.


"Kenapa pagi-pagi sekali?dan apa dia sudah bertemu dengan yg lainnya?"ucap Feng Hua bertanya-tanya dibenaknya.


"Baiklah,aku akan menemuinya sekarang"ucap Feng Hua sembari mengubah posisi duduknya menjadi berdiri.


"Dimana mereka sekarang?"ucap Feng Hua.


"ada disekitar taman nona"jawab dayang.


Feng Hua kemudian bergegas pergi menemui mereka.Setelah sampai,Feng Hua melihat Selir Pertama Huaran dan Xiao Jiao berpakaian hanfu sederhana,serta hiasan rambut sederhana.


"Kalian akan pergi sekarang?"tanya Feng Hua heran.


"Salam,Yang Mulia"ucap Selir Pertama Huaran dan Xiao Jiao,sembari memberi hormat bersamaan.


"Iya,Yang Mulia"balas Xiao Jiao.


"Ini masih terlalu pagi.Apa kalian sudah berpamitan dengan yg lainnya?"ucap Feng Hua.


"Tidak Yang Mulia"ucap Selir Pertama Huaran.


"Baiklah,kalau begitu berhati-hatilah dan jaga kesehatan kalian"ucap Feng Hua sembari menatap bersamaan.


"Terimakasih,Yang Mulia"ucap Selir Pertama Huaran dan Xiao Jiao bersamaan.


"Hamba dengar Yang Mulia akan pulang ke istana hari ini" ucap Selir Pertama Huaran.


"Memang benar" ucap Xiao Jiao sembari menganggukkan kepalanya.


"Pantas saja,mata Yang Mulia bengkak begitu"ucap Xiao Jiao.


"Begitulah"ucap Feng Hua,sembari menggaruk kepalanya yg tidak gatal itu.


"Ohh,yaa.Hampir lupa...


Hamba mau mengembalikan tusuk rambut Yang Mulia.Kemarin Yang Mulia meninggalkannya di aula pertemuan"ucap Selir Pertama Huaran,sembari mengeluarkan tusuk rambut dari lengannya.


"Iya aku lupa mengambilnya kembali.Terimakasih sudah mengembalikannya"ucap Feng Hua mengambil tusuk rambut itu.

__ADS_1


"Karna bibi sudah mengembalikannya padaku.Aku ingin tusuk rambutku,menjadi milik bibi"ucap Feng Hua,sembari mengambil tangan kanan Selir Pertama Huaran,lalu menaruh tusuk rambut itu ke tangannya.


"Tapi,Yang Mulia...Hamba tidak pantas menerimanya"ucap Selir Pertama Huaran,sembari menyerahkan kembali.


"Tidak,bibi.Bibi pantas menerimanya"ucap Feng Hua sembari menyembunyikan tangannya kebelakang.


"Untuk Xiao Jiao,aku akan memberikan tusuk rambut yg ini"ucap Feng Hua sembari mengambil dari rambutnya,lalu menyerahkannya pada Xiao Jiao.


"Tapi Yang Mulia..."ucap Xiao Jiao ragu-ragu.


"Ambilah atau aku akan marah"ledek Feng Hua.


"Baiklah"ucap Xiao Jiao sembari mengambil tusuk rambut Feng Hua.


"Sebelum kami pergi.Kami ingin meminta maaf"ucap Selir Pertama Huaran dengan wajah sedih.


"Iya Yang Mulia,kami kesini ingin minta maaf dan terimakasih sudah mengampuni nyawa ibuku"ucap Xiao Jiao sedih dan hampir menangis.


"Aku sudah memaafkan kalian....


Jadi jangan merasa bersalah lagi yaa..."ucap Feng Hua mengedipkan sebelah matanya.


"Bolehkah aku memanggilmu kakak?"ucap Xiao Jiao berharap.


"Tentu"ucap Feng Hua setuju.


"Karena kakak sudah membolehkanku memanggilmu begitu,tolong terimalah ini"ucap Xiao Jiao,sembari mengeluarkan dari depan bajunya.


Xiao Jiao mengeluarkan sebuah bungkusan kain berwarna putih.


"Apa itu?"tanya Feng Hua penasaran.


"Untuk melindungimu kakak"ucap Xiao Jiao dengan senyum manis,sembari menyerahkan bungkusan kain itu.


"Kalau tidak,aku akan marah"ledek Xiao Jiao.


Feng Hua yg mendengar perkataan Xiao Jiao langsung tertawa kecil, diikuti Xiao Jiao dan Selir Pertama Huaran.


"Kakak,istana itu kejam.Bawalah ini bersamamu,kak.


Aku yakin, ini akan berguna untuk kakak disana"ucap Xiao Jiao menegaskan.


"Baiklah"ucap Feng Hua,sembari menerima bungkusan kain itu,lalu memasukkannya kedepan bajunya.


"Ingatlah perkataanku kakak.Jangan percaya orang-orang istana.Jangan lupa awasi makananmu.Aku sungguh takut,kalau sesuatu terjadi padamu"ucap Xiao Jiao cemas.


"Xiao Jiao benar,Yang Mulia.Berhati-hatilah dalam berucap,karna tembok bisa dapat mendengarkan.Jika ada masalah,Yang Mulia bisa meminta bantuan kami di gunung Fanjingshan"ucap Selir Pertama Huaran.


(Gunung Fanjingshan termasuk bagian dari Pegunungan Wuling)


"Jauh juga dari tempat Diwei"ucap Feng Hua dibenaknya.


"Tenanglah adik.Tenanglah bibi.Terimakasih,sudah mengkhawatirkanku"ucap Feng Hua senang.


"Kalau begitu kami pamit undur diri Yang Mulia"ucap Selir Pertama Huaran sembari memberi hormat.


"Kami pamit kakak.Ingatlah,perkataanku kakak.Berhati-hatilah..."ucap Xiao Jiao sembari memberi hormat.


"Baiklah"ucap Feng Hua sembari menganggukkan kepala.

__ADS_1


__________


Aula Pertemuan(pagi hari)


Pagi itu,semua orang mengantar kepergian Feng Hua dan Putra Mahkota kembali ke istana.


"Hari ini kalian pulang ke istana"ucap Permaisuri Lian menangis.


"Sudah jangan menangis..."ucap Perdana Mentri Xiao menepuk pelan punggung Permaisuri Lian.


"Kamu ngga lihat putri kita sekarang...


Matanya bengkak,setelah menangis semalaman.Dia pasti sangat merindukan rumahnya dan keluarganya.Jadi biarkan aku menangis juga sepertinya..."ucap Permaisuri Lian menangis sejadi-jadinya.


"Aku jadi merasa bersalah"ucap Feng Hua dibenaknya.


Setelah berpamitan dengan semua keluarga termasuk Permaisuri Lian dan Perdana Mentri Xiao.Feng Hua dan Putra Mahkota kembali ke istana,bersama Yi,para dayang,dan pengawal bayangan menggunakan 4 kereta kuda.


Tak ada yg berbicara saat kereta kuda mulai berangkat,termasuk Feng Hua dan Putra Mahkota.Namun,saat hampir separuh jalan,tiba-tiba Putra Mahkota membuka suara.


"Kenapa matamu bengkak sekali?"tanya Putra Mahkota ingin tau.


"Entahlah"ucap Feng Hua acuh.


"Jangan-jangan semalam kamu menangisi Diwei?"ucap Putra Mahkota curiga.


"Memang...Kenapa??dia kan temanku"ucap Feng Hua sebal.


"Kamu benar-benar menganggapnya hanya teman?"tanya Putra Mahkota menegaskan.


"Iya"jawab Feng Hua.


Putra Mahkota tersenyum,setelah mendengar jawaban Feng Hua.


"Kenapa?"tanya Feng Hua heran.


"Baguslah"ucap Putra Mahkota,sembari memalingkan wajahnya.


"Tanya apa,jawabnya apa"ucap Feng Hua kesal dibenaknya.


"Kali ini saja,aku ijinkan kamu menangis untuk laki-laki lain"ucap Putra Mahkota ketus.


"Menyebalkan.."teriak Feng Hua dibenaknya.


"Hmm,sayang sekali...


Kita tidak menghadiri perayaan pernikahan kita di pusat jalanan ibukota.Padahal ajudanku yg mengawasi bilang, sangat ramai dan banyak orang yg mendoakan dan memberikan ucapan pada pernikahan kita"ucap Putra Mahkota,sembari membuka sedikit jendela kereta kuda.


"Trus bagaimana?kan udah abis 7 hari 7 malam.."ucap Feng Hua acuh.


"Kan kamu tau sendiri,kita terlalu sibuk mengurusi masalah Selir Pertama Huaran.Mana mungkin kita bisa mengunjungi perayaan pernikahan kita?"ucap Feng Hua ketus,sembari memalingkan wajah.


"Bagaimana,kalau aku rayain lagi?"tanya Putra Mahkota serius.


"Ngga usah..pemborosan.."ucap Feng Hua ketus.


"Baiklah..."ucap Putra Mahkota dengan senyum kecut.


"Berhenti..."teriak Putra Mahkota memerintah.

__ADS_1


Kereta kudapun berhenti.


"Mau ngapain sih?"tanya Feng Hua kesal dibenaknya.


__ADS_2