
"Mau ngapain?"tanya Feng Hua kesal.
"Ayo ikut aku.."ucap Putra Mahkota menarik tangan Feng Hua.
Feng Hua dan Putra Mahkotapun turun.Yi dan para dayang,menyambut mereka di luar pintu kereta kuda.
"Ada yg perlu hamba lakukan Yang Mulia?"tanya Yi,dengan hormat.
"Tidak perlu...
Kalian semua tunggu disini saja"ucap Putra Mahkota.
Putra Mahkota kemudian bergegas pergi bersama Feng Hua.
"Kamu mau ajak aku kemana sih??"ucap Feng Hua sembari melepas tangan Putra Mahkota.
"Ayoo"ucap Putra Mahkota menarik tangan Feng Hua lagi.
"Ngga mau..."keluh Feng Hua menahan tangan Putra Mahkota.
"Baiklah"ucap Putra Mahkota dengan senyum jahilnya.
"Wahh.Wahh.Lihat senyumnya itu.ckckck"ucap Feng Hua sebal dibenaknya.
Putra Mahkota lalu menggendong Feng Hua ala bridal style.
"Tu..turunkan aku..."teriak Feng Hua dengan meronta-ronta.
Putra Mahkota tidak mendengarkan perkataan Feng Hua.Dia kemudian menggendong Feng Hua tanpa malu di jalanan.
Orang-orang yg melihatnya,memandang mereka dengan senyum.Bahkan ada beberapa orang yg berkomentar.
"Nikah yuk,nanti aku gendong seperti wanita itu"ucap salah seorang laki-laki pada seorang wanita.
"Pasangan yg serasi yaa"ucap salah seorang wanita pada wanita lainnya.
"Seperti kita dulu ya hehe"ucap salah seorang nenek pada seorang kakek.
"Suamiku,aku ingin kamu menggendongku seperti mereka"ucap seorang wanita gemuk pada suaminya.
"Sayang,bagaimana aku bisa menggendongmu.Yang ada nanti punggungku patah"keluh si suami wanita gemuk.
Feng Hua dan Putra Mahkota tertawa lepas,setelah mendengar komentar dari beberapa orang itu.
Tak lama,Putra Mahkota membawa Feng Hua masuk ke sebuah kedai makanan.
"Kita sudah sampai"ucap Putra Mahkota sembari menurunkan Feng Hua ke kursi.Kemudian Putra Mahkota duduk didepan Feng Hua yg terhalang meja panjang ditengahnya.
"Kamu lapar ya?"tanya Feng Hua penasaran.
"Iya"ucap Putra Mahkota,sembari tertawa kecil.
"Aku juga lapar"ucap Feng Hua,sembari tertawa kecil.
"Maaf menyela pembicaraan.Tuan dan Nona,mau pesan apa?"ucap seorang laki-laki muda,memakai pakaian pelayan.
"Bawakan aku makanan yg paling enak disini dan air untuk dua orang"ucap Putra Mahkota.
"Baik tuan,segera kami siapkan"ucap si pelayan,lalu bergegas pergi.
Saat menunggu makanan dan minuman datang.Awalnya Putra Mahkota duduk biasa saja,namun lama-kelamaan Putra Mahkota mengubah posisi duduknya ,dengan tangan menyangga wajah dan siku diatas meja,sambil menatap Feng Hua terus-menerus.
"Jangan menatapku terus..."keluh Feng Hua,sembari memalingkan wajah dan curi-curi pandang pada Putra Mahkota.
"Sudah dibilang jangan menatapku terus.." ucap Feng Hua kesal setelah kedapatan Putra Mahkota memandanginya terus,saat Feng Hua curi-curi pandang.
__ADS_1
"Apa salahnya menatap istri sendiri?"tanya Putra Mahkota,sembari mendekatkan wajahnya pada wajah Feng Hua.Wajah Feng Hua seketika memerah saat didekati.
"Terlalu dekat...terlalu dekat..."teriak Feng Hua dibenaknya.
"Ja...jangan mendekat...du...duduklah...yang benar..."ucap Feng Hua gagap,sembari melirik samping kanannya.
"Tidak mau..."ledek Putra Mahkota.
"Tarik nafas...buang nafas..."ucap Feng Hua dibenaknya,sembari mengatur nafasnya.
"Kelihatan sekali sedang mengatur nafas"ucap Putra Mahkota masih dalam keadaan wajah berdekatan dengan wajah Feng Hua.
"Duduklah..yang benar...suamiku.."bujuk Feng Hua,sembari menutup mata Putra Mahkota dengan tangan kanannya.
"Baiklah"ucap Putra Mahkota sembari tertawa kecil,kemudian kembali ke posisi awal.
Tak lama pelayan datang membawa makanan dan minuman,kemudian menaruhnya diatas meja.
Putra Mahkota menatap semua makanan dengan heran dan marah.Putra Mahkota kemudian protes pada si pelayan"Bukannya aku bilang untuk dua orang?Kenapa banyak sekali?!Mungkin kamu salah meja?!"
"Tuan bilang makanan yg paling enak..
Disini makanan paling enak ada 4 hidangan
1.Mie panjang umur
2.Sup tahu hilang akal
3.Bakpao daging kegembiraan
4.Sup Ikan terbang
Ini tidak banyak tuan.Tuan bilang untuk dua orang,berarti 8 hidangan.4 hidangan untuk Tuan dan 4 hidangan lagi untuk Nona.Jadi tidak salah meja Tuan..."ucap pelayan dengan senyum.
Menyadari kedai makanan hening dan semua orang melihatnya,Feng Hua kemudian mengecilkan tawanya dengan canggung.
"Aku tidak mau"keluh Putra Mahkota.
"Kalau tidak punya uang,jangan pesan Tuan..."ledek pelayan kedai makanan.
"Aku bilang untuk dua orang,mana habis kalau segini banyaknya..."ucap Putra Mahkota kesal.
"Tuan harus bayar...bilang saja Tuan tidak punya uang"ucap pelayan kedai makanan kesal.
"Aku punya uang,tapi aku tidak mau membayar..."ucap Putra Mahkota kesal sembari menatap pelayan kedai makanan tajam.
"Dasar pelayan licik!"teriak Putra Mahkota kesal dibenaknya.
Seakan tak mau mengalah,pelayan kedai makanan juga menatap Putra Mahkota tajam.
"Cukup..."teriak Feng Hua.
Mereka kemudian berhenti saling menatap,kini mereka beralih menatap Feng Hua.
"Suamiku bayarlah..."bujuk Feng Hua.
"Iya bayar.Bayar.."ucap pelayan kedai makanan,dengan menjulurkan tangan kanannya pada Putra Mahkota.
"Tidak mau"ucap Putra Mahkota acuh,sembari menyilangkan tangan.
"Kamu!"seru pelayan kedai makanan marah,sembari menunjuk dengan tangan kanannya.
"Aihh,ini terimalah"ucap Feng Hua sembari mengambil koin emas dari depan bajunya,kemudian melemparnya ke arah pelayan kedai makanan.
"Nahh,gitu dong...Terimakasih Nona"ucap pelayan kedai makanan,sembari menangkap koin emas itu.Lalu memberi hormat dan pergi meninggalkan mereka.
__ADS_1
"Kamu...kenapa memberinya uang?!"ucap Putra Mahkota kesal.
"Sudahlah...kalau tidak habis,kita kasih orang yg membutuhkan.Seperti anak itu..."ucap Feng Hua, sembari menunjuk seorang anak laki-laki berpenampilan lusuh, yg sedang berdiri di depan pintu kedai makanan.
"Hmm...kamu benar..."ucap Putra Mahkota sembari menganggukan kepala.
"Heyy anak kecil... Kemarilah..."teriak Feng Hua memanggil.
Anak itu bingung.Dia menengok ke kanan, kiri,lalu segala arah.Takutnya bukan dia yg dimaksud.Namun,tak ada anak kecil selain dirinya.
"Saya?"ucap anak kecil itu,sembari menunjuk dirinya sendiri.
"Iya"ucap Feng Hua menganggukan kepala.
Dengan rasa takut,anak kecil itu berjalan ke arah meja Putra Mahkota dan Feng Hua.Anak kecil itu,berjalan pelan sekali.
"Apa aku yg salah lihat atau memang anak kecil itu berjalan seperti siput?"tanya Putra Mahkota heran,sembari melirik Feng Hua.
Feng Hua hanya membalas pertanyaan Putra Mahkota dengan tatapan tajam.
Putra Mahkota yg melihatnya langsung meminta maaf"Iya.Iya.Aku salah...Maaf..."
Tak lama anak itu pun sampai di meja mereka.
"Duduklah disampingku,wahai anak kecil"ucap Feng Hua ramah.
"Tidak nona..berikan saya uang saja nona"ucap anak kecil itu,sembari menitikkan air mata.
"Makanlah dulu,baru aku akan memberikanmu uang"bujuk Feng Hua.
"Baiklah,nona"ucap anak kecil itu setuju.
Anak kecil itu,kemudian duduk disamping Feng Hua.
"Siapa namamu?Dimana orangtuamu?"tanya Feng Hua penasaran.
"Nama saya Jierui.Saya tidak punya orangtua"ucap Jierui sedih.
"Kalau sodara?"tanya Putra Mahkota.
"Ada.Saya cuma punya satu kakak laki-laki"ucap Jierui.
"Lalu dimana kakakmu?Kenapa anak kecil sepertimu sendirian disini?Kalau ada orang jahat,bagaimana??"tanya Feng Hua bertubi-tubi.
"Kakak saya sedang sakit.Saya sedang meminta uang kesana kemari demi pengobatan kakak"ucap Jierui dengan isak tangis.
"Sudah...jangan menangis,kita makan dulu yaa...nanti kami akan membantu kakakmu" ucap Feng Hua,sembari mengelus kepala Jierui.
"Benarkah??"tanya Jierui,sembari mengusap air matanya.Lalu tersenyum senang.
"Iya"ucap Feng Hua dengan menganggukkan kepala.
"Pelayan...Tolong ambilkan satu sumpit dan satu sendok kayu"teriak Putra Mahkota.
"Baik"teriak pelayan kedai makanan.
Beberapa menit kemudian pelayan kedai makanan datang membawa sumpit dan sendok kayu.
"Ini Tuan..."ucap pelayan dengan mata sinis tak suka pada Putra Mahkota,sembari menyerahkan sumpit dan sendok kayu.kemudian bergegas pergi.
"Lihat itu Xiao Er..."ucap Putra Mahkota kesal,sembari menunjuk pelayan kedai makanan.
"Sudahlah..."ucap Feng Hua sebal.
"Aihh,gara-gara pelayan menyebalkan itu.Xiao Er jadi begitu padaku"ucap Putra Mahkota dongkol dibenaknya,sembari menyerahkan sumpit dan sendok kayu pada Feng Hua.
__ADS_1