Rahasia Putri Bercadar

Rahasia Putri Bercadar
#51


__ADS_3

Setelah beberapa jam.Merekapun sampai di depan gerbang lembah kabut.Waktu menunjukkan pagi buta.


"Akhirnya kita sampai juga...Meski beberapa kali sempat tersasar"ucap Feng Hua dengan nafas lega.


Plukk


Suara badan Diwei jatuh bersandar pada badan Feng Hua.


"Diwei..."teriak Feng Hua terkejut sekaligus takut.Takut bila terjadi sesuatu pada Diwei.


Feng Hua lalu memacu kudanya cepat menuju mansion sekte angin hitam.


Sesampainya disana para penjaga menyambutnya dengan pedang.


"Siapa kalian?!"teriak salah satu penjaga.


Belum sempat Feng Hua menjawab,penjaga itu berteriak histeris"Tuan Muda"


"Iya ini tuan muda kalian...Tolong bantu dia...Dia sedang sekarat sekarang..."ucap Feng Hua.


"Baik"ucap para penjaga bersamaan.


Kemudian beberapa penjaga membawa Diwei masuk ke mansion.Setelah memasuki mansion,para penjaga itu membawa Diwei ke kamarnya.Sedangkan beberapa penjaga lainnya menodongkan pedang ke arah leher Feng Hua.


"Kenapa kalian begitu...Aku yg sudah menolongnya tau..."


"Bagaimanapun kami harus tetap waspada.Tunggu ketua datang kemari,baru kami melepaskanmu"


..........


Setelah membawa Diwei ke kamarnya.Salah satu penjaga melaporkan kedatangan Diwei yg sekarat bersama Feng Hua pada Weiheng.Penjaga itu menyebut Feng Hua "Gadis cantik".Karna tak tau dia adalah Feng Hua,sang Putri Mahkota.


"Lalu dimana anakku sekarang?"tanya Weiheng cemas.

__ADS_1


"Tuan muda kami bawa ke kamarnya"ucap si penjaga.


Weiheng kemudian bergegas menuju kamar,yg mana para penjaga menaruh Diwei berada.


Sesampainya disana.Dari kejauhan,Weiheng melihat tubuh Diwei tengkurap di atas ranjang.Dengan cepat Weiheng mendekatinya.Weiheng kemudian memeriksa tubuh Diwei dari denyut nadi,suhu badan,dan luka yg ada di punggung Diwei.


Weiheng lalu memerintahkan beberapa penjaga untuk membuka baju Diwei dan meminta beberapa penjaga lainnya mengambil peralatan pengobatan.Setelah itu,Weiheng mengobati luka di punggung Diwei.


Selang 30 menit.Weiheng selesai mengobati luka Diwei.


"Kalian gantikan baju tuan muda.Dan berhati-hatilah untuk tidak menyentuh lukanya"ucap Weiheng menunjuk pada beberapa penjaganya itu.


"Baik.Ketua"ucap penjaga yg ditunjuk serempak dengan hormat.


"Dan kamu bilang.Tuan muda datang bersama seorang gadis cantik.Aku ingin melihatnya.Pertemukan aku dengannya sekarang"ucap Weiheng pada penjaga yg melaporkan kedatangan Feng Hua dan Diwei.


"Baik.Ketua"ucap penjaga itu dengan hormat.


..........


Ehm...


Feng Hua lalu membuka matanya setelah mendengar suara deheman itu.Kemudian menengok ke arah suara deheman itu berasal,yg mana adalah milik Weiheng.


Weiheng melihat Feng Hua dari ujung kaki hingga ujung kepala dengan seksama.


"Aku belum pernah melihatnya tapi seperti aku mengenalnya.Aku belum pernah melihat Diwei membawa seorang gadis,selain Yang Mulia Putri Mahkota kesini.Apa jangan-jangan gadis ini adalah kekasih Diwei?Jika benar...Aku akan sangat bahagia..."ucap Weiheng dibenaknya.


"Lepaskan dia"teriak Weiheng pada penjaga yg menodongkan pedangnya ke arah leher Feng Hua.


Penjaga itu lalu menurunkan pedangnya dan memasukkannya ke sarung pedang yg berada di kiri pinggangnya.


"Mari masuk nona"ucap Weiheng mempersilahkan Feng Hua.

__ADS_1


"Terimakasih"ucap Feng Hua dengan senyum,lalu turun dari kuda.


Setelah Feng Hua berucap "terimakasih".Weiheng langsung mengenali Feng Hua.


"Ternyata Yang Mulia Putri Mahkota"gumam Weiheng dibenaknya.


Feng Hua dan Weiheng kemudian masuk kedalam mansion.Dan berjalan berdampingan menuju kamar Diwei.


"Aku tidak menyangka Yang Mulia Putri Mahkota ternyata berwajah cantik.Tidak seperti rumor yg beredar"ucap Weiheng kagum dibenaknya,sembari melirik Feng Hua.


"Ohh ya.Aku hampir lupa"ucap Weiheng dibenaknya.


"Sebenarnya apa yg telah terjadi Yang Mulia Putri Mahkota?Kenapa Diwei bisa terluka oleh panah beracun?"


Feng Hua seketika menghentikan jalannya.Dan Weiheng mengikutinya.Feng Hua lalu menjelaskan dari awal dia diculik,hingga Diwei mendapatkan luka dipunggungnya.


"Kami sampai disini dalam beberapa jam.Apakah Diwei akan baik-baik saja paman???"


"Tenanglah Yang Mulia...Untung saja Yang Mulia membawanya kesini"


"Syukurlah kalau begitu.Ternyata keputusan Diwei adalah tepat"


"Lalu kapan Diwei akan sadar?"


"Sebentar lagi juga akan siuman.Dan ngomong-ngomong kenapa baju Diwei terasa agak basah ya?"


"Mmm itu...Kami menjatuhkan diri kedalam sungai.Supaya para penjaga Kerajaan Xia berhenti mengejar kami.Dan itu berhasil"


"Ohh begitu.Kalo begitu nanti Yang Mulia segeralah berganti pakaian.Hamba takut nanti Yang Mulia jatuh sakit..."


"Baiklah...Dan ngomong-ngomong bagaimana kamu tau itu aku?Apakah kamu pernah melihatku tanpa cadar sebelumnya?"


"Tidak Yang Mulia.Hamba langsung mengenalinya saat Yang Mulia mengucapkan terimakasih"

__ADS_1


"Ohh,begitu..."


__ADS_2