Rahasia Putri Bercadar

Rahasia Putri Bercadar
#25


__ADS_3

Diwei membaringkan tubuh Feng Hua ke kursi.Lalu dia keluar dari kereta kuda dan melihat ada 10 orang berbaju hitam,dengan kain hitam menutupi wajah mereka.Mereka juga menunjukkan pedang,yang seakan bersiap untuk membunuh.


"Siapa kalian?! Kenapa menghalangi jalan kami?!"teriak Diwei marah.


"Berikan hartamu,maka kami akan membiarkan kalian pergi!"ancam salah seorang berbaju hitam tersebut,sambil mengarahkan pedangnya pada leher Diwei.


"Kami berasal dari sekte angin hitam.Jika kalian macam-macam,kalian akan tanggung sendiri akibatnya!"ucap Diwei mengancam balik.


"Sekte angin hitam..bagaimana ini..."gumam salah satu yg lainnya dari mereka.


"Aku tidak tau mereka dari sekte angin hitam.Ayoo pergi!!"ucap orang yg mengajak Diwei bicara ,sembari memasukan pedang ke sarung pedang.


Mereka kemudian pergi dengan rasa kecewa.


"Payah...cuma begitu saja sudah pergi??"gumam Diwei heran dibenaknya.


Diwei kemudian masuk ke kereta kuda dan meminta penjaganya untuk melanjutkan perjalanan.Selang 20 menit,merekapun sampai di kediaman.


Diwei teringat,dia belum membersihkan cadar Feng Hua.Diwei kemudian membersihkan cadar Feng Hua dengan sapu tangannya,namun tak sengaja cadar Feng Hua terlepas dari ikatan.Karna memang ikatannya sudah longgar, dan hampir lepas,saat dia meronta-ronta.


Diwei terkejut tak menyangka,saat melihat wajah Feng Hua.Hingga menjatuhkan sapu tangannya.Diwei seakan tersihir melihat wajah cantik Feng Hua,hingga lupa waktu.


"Sudah kuduga,nona adalah wanita yg cantik.Tapi aku tidak menyangka kecantikan nona sangat memikatku"gumam Diwei dibenaknya, sembari menyentuh wajah Feng Hua.Dengan senyum manis terukir diwajahnya.


"Tuan muda,kita sudah lama sampai..Takutnya jika tuan muda dan Yang Mulia tidak keluar juga.Dan kami masih disini.Akan ada orang yg melihat"ujar Penjaga pembawa kereta.


"Ahh,baiklah.."ucap Diwei tersadar,sembari melepas sentuhannya pada wajah Feng Hua.Kemudian memasangkan kembali cadar Feng Hua yg terlepas.


Saat Diwei akan mengangkat Feng Hua,untuk memindahkannya ke kamar.Diwei baru menyadari baju dan cadar Feng Hua tercium bau arak yg sangat menyengat.


"Bangun nona.Bangun nona.Bangun..."teriak Diwei sembari menggoncang-goncangkan tubuh Feng Hua.Berharap nonanya bangun dari tidurnya.


"Aduhh,Diwei brisik banget..."keluh Feng Hua,sembari membuka matanya.

__ADS_1


"Aduhh,kepalaku sakit!"seru Feng Hua sembari memegang kepalanya.


"Akhirnya nona sudah bangun...


nona cepat mandi,sebelum Putra Mahkota bangun"ucap Diwei.


"Kenapa sih??"tanya Feng Hua heran,sembari masih memegang kepalanya.


"Baju nona bau arak"lirih Diwei.


Feng Hua kemudian mencium bau di bajunya,dan benar saja tercium bau arak yg sangat menyengat di bajunya.


"Kamu benar.Kalau Putra Mahkota tau bisa gawat"ucap Feng Hua panik.


Feng Hua lalu keluar dari kereta kuda,disusul Diwei dari belakang.Feng Hua kira,dia sudah pulih sepenuhnya dari mabuknya.Tapi ternyata belum.Saat Feng Hua baru berjalan beberapa langkah menuju kamarnya,dia tiba-tiba terjatuh.Diwei yg melihat hal itu,langsung menangkap tubuh Feng Hua cepat dengan tangan kanannya.Mereka kemudian bertatapan sejenak.


"Maafkan Diwei nona"ucap Diwei malu,sembari membuat Feng Hua berdiri.


"Bagaimana kalo nona minum pereda mabuk sebelum kembali ke kamar?"tanya Diwei menyarankan.


"Baiklah"ucap Feng Hua dengan anggukan kepala.


"Diwei bantu nona jalan ya?"ucap Diwei berharap dengan mata berkaca-kaca.


"Baiklah,lagipula aku tidak bisa berjalan dengan benar"ucap Feng Hua.


"Tuan muda,bagaimana dengan kudanya?"ucap penjaga yg membawa kuda Feng Hua dan Diwei secara bersamaan.


"Kalian masuk saja lewat sana,lalu ikat ke pohon"ucap Diwei menunjukkan arah dengan tangannya.


"Ohh,ya.Setelah itu kalian pulanglah dengan kereta kuda"ucap Diwei.


"Tuan muda tidak ikut dengan kami?"tanya penjaga yg membawa kereta kuda.

__ADS_1


"Tidak,aku akan disini"ucap Diwei sembari melirik Feng Hua.


Feng Hua yg mendengar dan menyadari lirikan Diwei hanya diam membisu.


"Kalau begitu,kami permisi"ucap para penjaga bersamaan,sembari memberi hormat.


Diwei kemudian memapah Feng Hua ke taman.Tak lama,Diwei datang membawa tempat minum yg terbuat dari bambu,berisi pereda mabuk.Diwei mendapatkan pereda mabuk itu dari kamarnya bersama ping,Fai,dan Ho yg ada dikediaman.


"Minumlah nona"ucap Diwei,sembari menyerahkan pereda mabuk pada Feng Hua.


"Terimakasih"ucap Feng Hua,sembari menerima lalu meminum pereda mabuk itu.


Setelah menunggu beberapa saat.Feng Hua merasa pengaruh mabuknya sudah hilang.Lalu Feng Hua memutuskan untuk kembali ke kamar dan berpamitan pada Diwei.Diwei pun kembali ke kamar,namun sebelum itu.Diwei mengawasi Feng Hua saat berjalan ke kamar,hingga tak terlihat dari jangkauan matanya.


Setelah Feng Hua sampai di kamar,dia langsung buru-buru menyiapkan baju dan pemandiannya sendiri.Ketika semuanya siap,Feng Hua kemudian mandi.Disela-sela mandinya,dia kepikiran soal dirinya ditolong Diwei saat jatuh dan perkataan Diwei pada para penjaga yg membawa kuda.


"Kenapa aku merasa Diwei menyukaiku yaa...Apa benar begitu??"ucap Feng Hua bertanya-tanya dibenaknya.


Seusai mandi,Feng Hua kemudian memakai bajunya.Lalu menyisir dan mengeringkan rambutnya yg basah di depan meja rias,sembari melihat kaca.


"Pagi-pagi sudah melihat Dewi sedang menyisir rambutnya yg basah"ledek Putra Mahkota dengan senyum terukir di wajahnya.


"Ehh...suamiku sudah bangun..."ucap Feng Hua terkejut.


"Untung saja aku sudah mandi"ucap Feng Hua dibenaknya,sembari menghela nafas.


"Kok istriku menghela nafas sih...kan aku memujimu"ucap Putra Mahkota heran.


"Tidak apa-apa,itu bagus"ucap Feng Hua dengan tawa canggung.


"Baiklah,Putra Mahkota harus mandi sekarang.Kita kan harus bergegas ke aula pertemuan.Aku akan meminta Yi dan yg lain menyiapkan pemandian untukmu.Aku akan melihat,apa mereka sudah datang atau belum"ucap Feng Hua mengalihkan pembicaraan,sembari berjalan keluar kamar.


"Entah mengapa.Aku merasa,ada yg aneh pada Xiao Er saat ini"gumam Putra Mahkota dibenaknya.

__ADS_1


__ADS_2