
Tak lama,Feng Hua dan lainnya pun sampai tujuan.
"Akhirnya kita sampai..."ucap Ping.
"Kamu mengucapkannya seperti sudah melalui perjalanan yg lama saja..."ucap Ho.
"Selalu saja ribut kalian..."keluh Fai.
Mendengar Fai begitu,Ping dan Ho pun terdiam.
Feng Hua dan Diwei kemudian keluar dari kereta.Saat mereka keluar Ping,Ho,dan Fai melihatnya dengan tatapan aneh.
"Kenapa mereka melihat kita begitu yaa?"ucap Feng Hua berbisik pada Diwei.
"Entahlah nona...Diwei juga tidak tau kenapa...Nanti Diwei tanyakan pada mereka"ucap Diwei berbisik.
"Nona lagi..."
"Ehh Xiao Er maksud Diwei..."
"Tidak usah memakai bahasa formal lagi...Kamu bisa mengucap aku kamu mulai sekarang...Rasanya aneh kalau didengar..."
"Ahh baiklah...Xiao Er...Aku akan melakukannya"
Feng Hua lalu melihat mansion dihadapannya dari ujung kiri dan kanan.Yg dilihatnya ada banyak prajurit dan bendera yg masih terpasang di bagian depan dan samping tembok mansion yg tak lain adalah milik Zhaoyang.
"Aku kira Zhaoyang sudah pergi"gumam Feng Hua dibenaknya.
Diweipun sama seperti Feng Hua melihat apa yg dilihat.
"Sepertinya Zhaoyang masih disini.Aku kira dia sudah pergi,bukannya dia bilang tidak akan mengganggu"ucap Diwei dengan nada sedikit kesal.
"Sepertinya aku tau kenapa dia tidak langsung pergi meninggalkan mansion.Dia tau kita akan kembali dan ingin memastikan"ucap Feng Hua.
"Memastikan??Bukankah sandiwara yg kita mainkan sudah sangat jelas"
"Memang sangat jelas.Tapi dia ingin melihat,apakah aku berani mengatakannya di depan Putra Mahkota"
"...."
Dengan menghela nafas,Feng Hua kemudian berkata"Ayo kita lakukan lagi"Dengan semangat.Dia lalu menggandeng tangan Diwei.
"Apapun keputusanmu,aku akan mendukungmu"ucap Diwei dibenaknya sembari mengeratkan gandengan tangan Feng Hua.
Feng Hua dan Diwei lalu berjalan,diikuti Ping Fai ,dan Ho dari belakang dengan jarak dekat.
__ADS_1
......
Tiba-tiba seorang penjaga mansion datang menghampiri Ping,Fai,dan Ho dengan kebingungan.Penjaga yg mana memberikan kuda dan kereta kuda pada mereka,serta membantu mereka pergi dengan sembunyi-sembunyi.
Melihat hal itu,semuanya menghentikan langkah kakinya dan mengarahkan tatapannya tertuju pada si penjaga.Si penjaga kemudian berucap pada Ping,Fai,dan Ho"Kenapa kalian membawa tuan muda dan nona kemari??Bukannya kalian harus kabur yaa.Trus kenapa kalian pulang dengan kereta kuda saja...Mana kuda yg lain??Bukannya kalian membawa kereta kuda dan dua kuda???"
Mendengar perkataan si penjaga itu,Diwei lalu berucap"Kedua kuda itu ada di hutan kabut.Aku tidak ingin merepotkan mereka,jadi kupikir kami cukup menaiki kereta kuda saja"
"Ohh begitu...Baik.Tuan muda"ucap si penjaga mengerti.
"Te-tapi...Tuan muda dan Nona tamu,kenapa kemari????Kaisar Xia masih disini"ucap si penjaga dengan gelisah.
"Tidak apa-apa.Kami akan baik-baik saja"ucap Diwei dengan senyum.
"Haduh....Tuan...."teriak si penjaga khawatir.
"Apakah Putra Mahkota masih terikat dihalaman mansion?"tanya Feng Hua penasaran pada si penjaga.
"Ba-bagaimana nona tau....
Tidak nona.Tadi...Kaisar Xia telah melepaskannya.Akan tetapi..."
"Tetapi bagaimana??"
"Sepertinya Zhaoyang sudah mengatakannya"
"Zhaoyang??Mengatakan??"
"Bukan apa-apa.Tidak usah dipikirkan.Penjaga trimakasih sudah memberitahu.Kalau begitu kami akan masuk sekarang"ucap Feng Hua dengan diakhiri menengok pada Diwei.
"Iya.Kami masuk dulu"ucap Diwei.
"Tapi....Nona....Tuan...."teriak si penjaga.Namun teriakan itu, tidak dihiraukan Feng Hua ataupun Diwei,mereka terus berjalan hingga memasuki halaman mansion.
Ping lalu menepuk pundak si penjaga dan berkata"Sudah biarkan saja mereka...Kamu jangan khawatir...Mereka akan baik-baik saja..."
"Iya...Ehh tapi kudanya....Nanti siapa yg akan ambil ya..."
"Yang jelas bukan kami..."teriak Ping.
Ho dan Fai mengiyakan dengan anggukan kepala.
Sedangkan si penjagapun pasrah dan meratapinya.
__________
__ADS_1
Feng Hua dan Diwei memasuki halaman mansion,mereka tidak menemukan Putra Mahkota.Mereka lalu berjalan masuk ke dalam mansion dan berhenti di aula pertemuan.
Di aula pertemuan itu.Semua orang termasuk Putra Mahkota dan Weiheng duduk di kursi secara acak di sisi kanan dan kiri kursi Ketua.Sedangkan Zhaoyang duduk di tengah-tengah yg mana adalah kursi ketua itu,dengan ajudan disisi kirinya.
Dan saat Feng Hua dan Diwei masuk.Semua terkejut melihatnya,kecuali Zhaoyang dan ajudannya.
"Kenapa kalian kemari...??Dan kalian bergandengan tangan..."teriak Weiheng bingung.
Putra Mahkota melihat Feng Hua dan Diwei bergandengan tangan itupun merasa cemburu.Dia lalu berlari dan melepaskan gandengan itu,dengan kasar.Lalu menarik tangan Feng Hua,bermaksud untuk membawa Feng Hua pergi dari tempat itu.Feng Hua kemudian melepaskan pegangan Putra Mahkota sambil berteriak"Lepaskan!"
"Xiao Er!!"teriak Putra Mahkota marah.
"Ada yg ingin aku sampaikan"ucap Feng Hua.
"Aku tidak ingin mendengarnya.Ayo kita pulang..."ucap Putra Mahkota tidak peduli,sembari menarik tangan Feng Hua lagi,namun terhenti setelah Diwei melepaskan pegangannya.
Putra Mahkota kemudian menarik baju Diwei dan memukul wajahnya.Sontak semua orang dan Weiheng yg ada disitu kaget.Mereka lalu memisahkannya,termasuk Feng Hua.Feng Hua memisahkannya dengan menjauhkan Diwei dari Putra Mahkota.
Feng Hua berucap dengan khawatir sambil menyentuh pipi Diwei yg lebam"Itu pasti sakit..."
"Aku tidak apa-apa Xiao Er"ucap Diwei tersenyum.
"Jauhi istriku!!"teriak Putra Mahkota sambil menunjuk Diwei.
Diwei hanya diam dan menatap Putra Mahkota intens,dia hanya mengusap darah yg ada di bibirnya.Selain pipinya yg lebam,bibirnya juga terluka dan mengeluarkan darah.
"Xiao Er jauhi dia!!!"teriak Putra Mahkota lagi.
Feng Hua lalu mendekati Putra Mahkota.
"Lepaskan dia"ucap Feng Hua pada anggota sekte yg memeganginya.Mereka kemudian berhenti memeganginya,menuruti perkataan Feng Hua.
"Dengarkan aku"ucap Feng Hua saat akan memulainya,namun harus terhenti karna tangan kanan Putra Mahkota membungkam mulutnya.
"Jangan mengatakan apapun.Aku tau dan mari kita pulang...Keluargamu sudah khawatir dan ingin segera menemuimu"ucap Putra Mahkota.
Weiheng dengan inisiatifnya memanggil salah satu penjaganya,dia kemudian berbisik di telinganya.
Tanpa perlawanan Feng Hua mengangguk setuju.Dia lalu menengok ke arah Diwei dan menatapnya,seakan berkata maaf dan memintanya ijin untuk pergi.Diwei menganggukkan kepala seakan mengerti,tak lupa dia memberi senyum manisnya pada Feng Hua.Melihat hal itu,Feng Hua tertunduk lesu seakan menyesal dan sedih.
Zhaoyang hanya diam saat menyaksikan semua kejadian itu.Meski diam dia melihatnya dengan tatapan kesal.
Saat Putra Mahkota mengatakan "Jangan mengatakan apapun.Aku tau dan mari kita pulang...Keluargamu sudah khawatir dan ingin segera menemuimu"
Lalu melihat Feng Hua yg langsung menyetujuinya tanpa kata,membuat pikiran licik Zhaoyang bekerja.
__ADS_1