
Setelah mandi dan makan malam bersama.Perdana Mentri dan permaisuri Lian tidur seranjang di kediaman permaisuri Lian.Permaisuri Lian dan perdana Mentri tak bisa tidur setelah Fang Hua mengetahui kebenarannya.
Mereka berbaring diranjang dengan posisi saling membelakangi.Perdana Mentri tidur disisi kanan ranjang sedangkan permaisuri Lian tidur disisi kiri ranjang.
"Apa kamu sudah tidur?"tanya perdana Mentri.
"Belum..."ucap permaisuri Lian.
"Kenapa?Pasti karna Xiao Er"ucap perdana Mentri.
"Iya..."ucap permaisuri Lian.
"Tidurlah..."pinta perdana mentri.
"Padahal tujuan kita ke taman untuk makan malam bersama dengan Xiao Er,tapi malah dia mengetahui hal itu hikss"ucap permaisuri Lian mulai menangis.
Perdana Mentri lalu berbalik kearah permaisuri Lian.Dia lalu mengusap punggung permaisuri Lian sambil berkata"Mungkin ini sudah saatnya Xiao Er tau semuanya.Bagaimanapun dia harus tau..."
"Aku harap dia tidak akan pernah tau...
Bagiku, aku adalah ibu satu-satunya"ucap permaisuri Lian meninggikan suaranya.
"Iya kamu ibunya...Selamanya ibunya..."ucap perdana Mentri mencoba menenangkan.
"Kita jangan menundanya lagi...
Besok kita harus persiapkan semuanya...
Ayo kita kabur,sebelum Yang Mulia Kaisar tau..."ucap permaisuri Lian.
"Iya...Besok aku akan umumkan di aula pertemuan"ucap perdana Mentri.
"Aku bersyukur Xiao Er telah hadir disisi kita selama ini.
Lihatlah...
Aku belum hamil juga sampai sekarang"ucap Permaisuri Lian sambil mengubah posisi menghadap perdana Mentri.
"Dengan atau tanpa anak...
Aku akan tetap mencintaimu...
Kamu tau sendiri kan...
Kalau ibuku tidak menyuruhku menikah lagi.Aku tidak akan menikahi mereka"ucap perdana Mentri sambil mengusap air mata permaisuri Lian.
"Itu karna aku yg tak kunjung hamil"Ucap permaisuri Lian murung, lalu berubah kesal"Jangan berkata kamu tidak akan menikahi mereka bila ibumu tidak menyuruhmu...
Orang-orang tidak akan percaya bila melihat anak-anak yg lahir dari istri-istrimu yg lain"
"Aku lebih suka kamu marah-marah dibanding menangis seperti tadi..."ledek perdana Mentri.
"Hmm...
Aku harap kamu berperilaku adil pada mereka...
Jangan sering tidur ditempatku!
Tidurlah ditempat mereka juga!
Mereka pasti berpikir akulah yg menyuruhmu disini terus...
Padahal kamu sendiri yg maunya begitu...!"ucap permaisuri Lian.
"Iya...Iya..."ucap perdana Mentri dengan tersenyum.
"hmm"
"Tapi ngomong-ngomong tadi siang aku pergi ke kediaman Xiao Er di istana.Yi mengatakan Xiao Er sedang sakit..."ucap perdana Mentri.
"Jadi itu akal-akalan Xiao Er agar bisa pergi dari sana kemudian menyelamatkanku"ucap permaisuri Lian.
"Iya...
Aku jadi mengerti kenapa Xiao Er mengkhawatirkan Yi.Tadi aku juga bertemu Yang Mulia Putra Mahkota di kediamannya itu.Dia memaksa masuk,namun Yi melarangnya.Yi bilang atas perintah Xiao Er tidak ada yg boleh mengganggunya istirahat karna Xiao Er sedang sakit"ucap perdana Mentri.
"Kasian Yi...
Lalu bagaimana?Apakah Yang Mulia Putra Mahkota mau menuruti perkataan Yi?"ucap Permaisuri Lian.
"Entahlah...aku pergi meninggalkan mereka"ucap perdana Mentri.
"Begitu...
__ADS_1
Sepertinya kita harus membawa Yi juga,kasian kalau dia kenapa-napa di istana itu bila kita kabur.Bagaimanapun dia berusaha melindungi Xiao Er dengan kebohongan yg bisa membahayakan nyawanya"ucap Permaisuri Lian.
"Iya..."
"Ehh...Aku hampir lupa..
Aku belum cerita...
Sebenarnya ada orang yg menyelamatkanku selain Xiao Er"ucap permaisuri Lian.
"Siapa?"tanya perdana Mentri penasaran.
"Dia calon mantu kita"ucap permaisuri Lian senang.
"Mantu?Siapa?"ucap perdana Mentri bingung.
"Xiao Er"ucap permaisuri Lian.
"Apa?!!"teriak perdana Mentri terkejut.
"Ssstttt sudah malam...
Jangan berisik...."ucap permaisuri Lian.
"Xiao Er belum bercerai dari Putra Mahkota,dia sudah memiliki cadangan?!!"ucap perdana Mentri masih terkejut.
"Bagus dong...
Jadi Xiao Er tidak perlu berlarut kesedihan karna Putra Mahkota"bela permaisuri Lian.
"Tapi...
apakah Xiao Er menyukai laki-laki itu?Seperti apa dia?Apakah dia laki-laki yg baik?"ucap perdana Mentri.
"Tentu dia suka....
Dia laki-laki yg tampan....
Tentu saja baik....Dia bahkan menyelamatkanku dengan membawa banyak bala bantuan"bela permaisuri Lian lagi.
"Baguslah...
Jika kamu berkata begitu...
"Diwei namanya"ucap permaisuri Lian dengan senyum.
__________
Sama seperti permaisuri Lian dan perdana Mentri.Malam ini,Fang Hua juga tidak bisa tidur.Dia memikirkan soal Xiao Er bukanlah anak perdana Mentri.
"Jadi nona pertama keluarga ini adalah Xiao Jiao...Untunglah selir pertama Huaran tak meninggal,jika dia meninggal kasian Xiao Jiao.Tapi ayahanda tidak pilih kasih...
Siapa yg salah dia akan menghukumnya...
Meski Xiao Jiao putri kandung dan nona pertama keluarga ini.
Lalu Xiao Er ini anak siapa ya?Kenapa Kaisar itu memberikan Xiao Er pada ibunda dan ayahanda?Bahkan ayahanda tidak bisa mengetahui siapa orangtua Xiao Er...
Yg hanya tau orangtua Xiao Er pastilah Kaisar itu...Karna ayahanda dan ibunda takut padanya.
Mereka pasti tidak berani bertanya siapa orangtua Xiao Er dan darimana Xiao Er berasal.Pantas saja dia tidak memberikanku surat cerai!
Kalau begitu aku akan kembali ke istana lagi untuk bertanya pada Kaisar itu dan membawa Yi pergi.Tapi sebelum itu aku akan pergi ke lembah kabut.Diwei pasti sedih setelah ibunda menghina dan menamparnya...
Diwei yg malang..."gumam Fang Hua.
Saat tengah malam,Fang Hua menyelinap keluar.Dia diam-diam ke kandang kuda dan mengambil salah satu kuda.Dia lalu menaikinya dan pergi ke lembah kabut.
Namun sebelum meninggalkan kediaman.Fang Hua meninggalkan sebuah surat diatas ranjangnya.
..........
Disisi lain
Setelah berada di perbatasan.Weiheng dan Diwei memutuskan untuk pulang ke lembah kabut.
Diwei sedih mengingat permaisuri Lian telah menghina dan menamparnya.Dia tak bisa tidur di kamarnya sambil memegang cadar Fang Hua.
Tiba-tiba ada yg mengetuk pintu kamarnya.Diwei berteriak "siapa??".Tapi tak ada jawaban.Dia lalu membuka pintu kamarnya dan menemukan Fang Hua sudah berada di depan pintu kamarnya.
"Xiao Er!!"teriak Diwei senang sambil memeluk Fang Hua.Fang Hua lalu membalas pelukan Diwei.
"Apa kamu baik-baik saja??Kamu pasti dimarahin habis-habisan oleh ibundamu..."ucap Diwei.
__ADS_1
"Tadinya iya..
Tapi..."ucap Fang Hua.
"Tapi apa?"
"Ayo kita masuk ke kamarmu dulu baru aku mengatakannya"
Diwei lalu melepaskan pelukannya,begitu pula Fang Hua.Diwei kemudian membawa Fang Hua masuk dan menutup pintu.
Diwei lalu duduk di ranjangnya.Fang Hua kemudian duduk disamping Diwei.
"Tapi apa?"ucap Diwei mengulang pertanyaannya lagi.
"Tapi...
Ibundaku setuju dengan hubungan kita"ucap Fang Hua ceria.
"Be-benarkah??"ucap Diwei dengan menggoncangkan kedua bahu Fang Hua.
"Iya hehe..."ucap Feng Hua dengan tertawa kecil.
"Syukurlah...Aku tidak menyangkanya"ucap Diwei senang sambil memeluk Fang Hua.
Fang Hua membalas pelukan Diwei.Tak lama Fang Hua berkata"Aku ingin waktu berhenti terus seperti ini...Aku tidak mau pergi..."dengan murung.
"Memangnya kamu mau pergi kemana?
Ohh ya,Ibundamu tadi membawamu ke istana ya??"
"Kalau ke istana mana mungkin aku berkata ibunda setuju..."
"Jadi ibunda membawamu ke kediaman perdana Mentri..."
"Iya...
Kalau untuk pergi kemana...
Aku akan pergi ke istana..."
"Untuk apa kamu kembali kesana??!!Lagipula ibunda sudah menyetujui kita.Kita kabur saja dan hidup bersama"
"Tidak Diwei...
Aku tidak bisa melakukan itu.Aku harus kembali dan bertanya pada Kaisar itu.Aku ingin tau siapa orangtuaku sebenarnya..."
"Kaisar??Kaisar Wen?!!!
Orang tua sebenarnya???Kamu bukan anak mereka???"
"Iya...
Karna Kaisar Wen yg telah memberikanku pada orangtuaku yg sekarang"
"Jangan pergi....
Pergilah besok pagi bersamaku..."
"Bersamamu??Apakah tidak apa-apa??Aku takut keselamatanmu...
Bagaimana kalau putra Mahkota atau Kaisar Wen menangkap dan membunuhmu??!"
"Mati dan hidupku untukmu..."
"Diwei...."teriak Fang Hua senang sambil mengeratkan pelukannya.Diwei mengelus rambut Fang Hua.
Hoammm
Fang Hua mulai mengantuk.Dia ingin tidur tapi dia menahannya.
"Tidurlah...Aku tau kamu sudah mengantuk.."ucap Diwei.
"Iya...Siapkanlah kamar untukku"ucap Fang Hua.
"Aku rasa tidak perlu"ucap Diwei.
"Hah??"ucap Fang Hua terkejut hingga melepaskan pelukannya.
"Tidurlah di kasurku...
Ayo kita tidur seperti di tempat persembunyian"ucap Diwei dengan senyum.
Fang Hua membalas ajakan itu dengan senyum.Fang Hua dan Diwei kemudian tidur di ranjang bersama hingga pagi menjelang.
__ADS_1