Rahasia Putri Bercadar

Rahasia Putri Bercadar
#58


__ADS_3

"Lapor Ketua!"teriak salah seorang anggota sekte.


"Iya,kenapa kamu begitu?Ada hal mendesak apa???Memangnya kamu saat kesini tidak melihat para prajurit dan Kaisar Xia itu...Bisa-bisanya berteriak begitu..."Ucap Weiheng kesal.


"Sudah belum ngomelnya Ketua..."


"Berani yaa kamu sama ketua...!"


"Bukan begitu Ketua...Saat kami sedang berkumpul,tiba-tiba ada 3 laki-laki mendekati kami.Kami terkejut dan menganggap mereka mata-mata yg dikirim para bandit.Saat kami menangkapnya,mereka bilang teman Tuan Muda Diwei"


"Lalu?"


"Apakah benar kalau mereka teman Tuan Muda Diwei?Dan kami sudah membawanya kemari"


"Haduhh Kenapa disaat begini?!Memangnya tidak bisa lain hari saja...Kaisar Xia ada disini dengan pasukannya,tapi kamu..."


"Tu-tunggu...Jika mereka teman Diwei,aku bisa memanfaatkannya"pikir Weiheng.


"Kalau begitu...Bawa aku pada mereka sekarang"


"Baik.Ketua"


"Namun sebelum itu...Siapa yg sudah mengirimkan surat?"


"Memangnya kenapa Ketua?"


"Bukannya menjawab malah bertanya balik..."


"Ohh...Tuan mau memberikan dia hadiah yaa??Dia adikku Tuan...Saat itu aku menugaskannya untuk mengawasi pusat ibukota.Dan aku sudah memberi perintah,bila terjadi sesuatu kirim surat kemari..."


"Hadiah???Aku ingin memarahinya..."


"Kok memarahinya sih...Kan dia sudah memberi informasi...."


"Tapi tidak lengkap....Masa di surat itu hanya ada Kaisar Xia dan pasukannya.Sedangkan Kaisar Xia dan pasukannya datang bersama Putra Mahkota Zhou!"


"Ohh begitu haha...Aku kira akan diberi hadiah..."


"Pokoknya setelah Kaisar Xia dan yang lainnya telah pergi dari sini,kamu bawa dia kemari..."


"Baik.Ketua"


..........


Tak lama Weihengpun sampai di penjara.Dimana Ping,Fai,dan Ho dikurung oleh anggota sekte.


"Sungguh sedih...Mengikuti peluit.Ehh malah masuk penjara..."ucap Ping.


"Dasar Diwei... Kenapa ngga bilang...Kalau peluit itu juga digunakan oleh anggota sekte....Dan kenapa dia tidak memberitahukan soal kita ke mereka..."ucap Ho kesal.


"Iya...Mereka bahkan tidak percaya kita adalah temannya..."ucap Fai.


Ehm..Ehm...

__ADS_1


Suara deheman milik Weiheng.Mendengar itu,mereka bertiga langsung terdiam.


"Jadi kalian teman Diwei??"


"Iya"ucap Fai,Ping,dan Ho serentak.


"Maafkan Diwei tidak memberitahukan soal peluit itu.Aku tadi sedikit mendengar pembicaraan kalian"ucap Weiheng.


"Tidak apa...Memangnya anda siapa ya??"ucap Fai mewakili.


"Saya ayah Diwei sekaligus ketua sekte..."ucap Weiheng.


"Ohh begitu..."ucap mereka serentak.


Weiheng lalu membuka pintu penjara.Fai,Ping,dan Ho kemudian keluar dengan senyum di wajah.


"Tuan dimanakah Diwei?Kami kira Diwei yg akan membebaskan kami"ucap Ho.


"Ohh Diwei...Dia sedang sembunyi"ucap Weiheng berbisik.


"Hah?!untuk apa?!!"teriak Ping kaget.


"Huss...Kamu jangan keras-keras...."bentak Weiheng.


"Ehh maaf Tuan..."ucap Ping dengan menggarukkan kepala.


"Aku akan menceritakan semuanya"ucap Weiheng pelan.


Kemudian Weiheng menceritakan semua tentang persoalan Feng Hua dan Diwei dengan Putra Mahkota dan Zhaoyang.Mereka mendengarkan dengan baik dan tanpa menyelanya.Setelah itu,Weiheng bertanya"Bisakah kalian menolong mereka?"


"Benar apa kata Fai..."ucap Ping mengiyakan.


"Lalu apa yg harus kita lakukan?Apakah Tuan Weiheng sudah memiliki rencana?"ucap Ho.


"Jadi begini..."


__________


Feng Hua yg melihat pakaian bagian punggung Diwei basah berwarna merah karna darah,lalu menarik tangannya dan berlari menuju rumah.


Sesampainya di rumah kecil itu.Feng Hua membawa Diwei ke kamar,kemudian pergi meninggalkan Diwei begitu saja.


"Aku ditinggal nih?"ucap Diwei dibenaknya.


Tak lama Feng Hua datang dengan membawa ember berisi air dan kain bersih.


"Sekarang,seka badanmu kecuali punggung ya...Karna kamu pasti akan kesusahan.Jika sudah selesai panggil aku,karena aku mau mengobati dan mengganti perbanmu"


"Baik Nona"


Feng Hua lalu pergi keluar kamar dengan cepat.Menunggu dibalik pintu.


Selang beberapa menit,Diwei berteriak memanggil Feng Hua.Feng Hua lalu masuk kedalam kamar.

__ADS_1


Feng Hua melihat Diwei duduk di ranjang membelakanginya dengan menampilkan punggung yg kekar dan terluka itu.


"Nona,Diwei telah siapkan obat dan perbannya diatas meja"


"Terimakasih sudah dimudahkan"


Diwei tak menjawabnya.Diwei hanya tersenyum.


"Kalau begitu,aku seka punggungmu dulu ya,nanti baru mengobatinya"


"Iya"


Setelah menyeka punggung Diwei dengan hati-hati.Feng Hua lalu mengobati luka yg ada di punggung Diwei.


"Maaf sudah membuat lukamu terbuka..."


"Tidak apa-apa nona.Diwei juga salah...Bukannya membuat nona berdiri langsung,tapi malah begitu"


"Mungkin karna luka yg ada dipunggungmu jadi begitu"


"Bukan Nona.Ini murni kesalahan Diwei.Karena Diwei terkesima dengan wajah Nona,hingga Diwei lupa mempunyai luka dipunggung"


Kedua pipi Feng Hua merona setelah mendengar hal itu.Kemudian dia bicara"Hahaha Ada-ada saja kamu Diwei...Apakah aku benar-benar secantik itu?Padahal aku merasa masih ada banyak wanita yg lebih cantik dariku"


Diwei tidak mengatakan apapun,dia hanya diam.Sampai saat Feng Hua akan melilitkan kain yg menjadi perban untuk luka dihadapannya.Dia baru mengatakan"Tapi bagi Diwei Nona yg paling cantik"


Kedua pipi Feng Hua kembali merona.Dan dia dengan gugup berucap"paling cantik ya haha"


"Iya...Dan tadi saat mencium bibir Nona.Bibir nona sangat lembut"


"Setelah kamu mengungkapkan rasa jadi lebih berani menggodaku ya sekarang..."


"Hehe..."


Tanpa terasa Feng Hua telah menyelesaikan melilit lukanya dengan kain perban itu.


"Nahh,sudah selesai.Aku akan pergi mandi sekarang"


"Tunggu...Ada baju lama milik ibu.Nona bisa memakainya"


"Baiklah.."


Diwei lalu mengambil baju di sebuah peti yg tak jauh dari ranjangnya.Kemudian memberikannya pada Feng Hua sambil berucap"Nah sekarang nona pergilah mandi.Ehh...Inikan bukan di istana,tidak ada yg menyiapkan air..."


"Lalu kamu pikir...Aku membawa air dan ember itu darimana?"


"Maaf sudah merepotkan Nona...Nona jadi menimba air"


"Tidak apa-apa.Kalau begitu aku mandi dulu ya"


"Tunggu...Atau Diwei bantu menimbanya..."


"Tidak perlu Diwei...Aku pergi sekarang ya..."

__ADS_1


"Baik Nona"


__ADS_2