
"Tolong,ampuni hamba...Yang Mulia..."ucap Selir Pertama Huaran sambil menangis.
"Nahh lohh,giliran udah kaya gini baru minta ampun..."gumam Feng Hua muak dibenaknya,sembari menotok cepat meridian di leher Selir Pertama Huaran.Lalu Selir Pertama Huaran jatuh pingsan ke tanah.
"Waduhh.."ucap wanita itu terkejut dibenaknya,saat melihat Feng Hua membuat Selir Pertama Huaran pingsan.
Tiba-tiba,ada sebuah pedang menyerang ke arah Feng Hua.Feng Hua dengan cepat menghindar.
"Cepat juga ya kamu menghindar!"seru Xiao Jiao dengan tatapan sinis.
"Ohh,jadi kamu yg menyerangku"ucap Feng Hua dingin,sembari melihat Xiao Jiao sebal.
"Biarkan ibuku dan wanita itu pergi!!"teriak Xiao Jiao.
"Aku tidak akan membiarkannya"ucap Feng Hua singkat.
"Kalau begitu,jangan salahkan aku.Jika kamu mati terbunuh oleh pedangku"ancam Xiao Jiao.
"Silakan saja...kalau bisa!"ucap Feng Hua kesal.
Xiao Jiao menyerang Feng Hua dengan cepat.Dengan cepat pula Feng Hua membalas serangan Xiao Jiao.Xiao Jiao terkejut Feng Hua bisa membalas serangannya,Xiao Jiao kira Feng Hua tidak bisa melawan serangannya.
Xiao Jiao mulai kelelahan melawan Feng Hua,namun dia tetap melanjutkan serangannya pada Feng Hua.Feng Hua yg menyadari hal itu,tidak tinggal diam.Feng Hua semakin menjadi-jadi saat membalas serangan Xiao Jiao.Xiao Jiao menjadi keteteran dan kehilangan fokus karnanya.Hingga akhirnya, pedang Xiao Jiao jatuh ke tanah dan pedang Feng Hua mendarat di leher Xiao Jiao.
"Siapa?!yg akan bunuh Siapa?! sekarang!!!"ancam Feng Hua balik.
"Xiao Er... maafkan aku...maafkan aku..."ucap Xiao Jiao ketakutan sembari menelan ludah.
"Merepotkan!"ucap Feng Hua sebal,sembari menotok cepat meridian di leher Xiao Jiao.Xiao Jiaopun jatuh pingsan.
"Aku takut..."ucap wanita itu khawatir dibenaknya.
"Yang Mulia Putri Mahkota..."teriak seorang laki-laki memanggil.
Feng Hua kemudian menengok ke arah suara laki-laki yg memanggilnya.Feng Hua melihat seorang laki-laki berjalan ke arahnya.Laki-laki itu memakai baju hitam,berwajah lumayan tampan ,namun sudah paruh baya kira-kira sekitar 40an seperti Perdana Mentri Xiao(Ayah Xiao Er).
"Aduhh,suamiku datang!"teriak wanita itu kaget dibenaknya.
__ADS_1
"Siapa kamu ?"tanya Feng Hua ingin tau.
"Salam Putri Mahkota,perkenalkan nama hamba Weiheng.Hamba adalah ketua sekte angin hitam"jawab Weiheng lugas,sembari memberi hormat.
"Lalu ada perlu apa anda kemari tuan Weiheng?"ucap Feng Hua penasaran.
"Hamba ingin membawa wanita bercadar itu"ucap Weiheng sembari melirik wanita itu.
"huhuhu bagaimana ini?!"ucap wanita itu dibatinnya dengan gelisah.
"Tidak boleh!"ucap Feng Hua ketus.
"Hamba tau wanita itu telah berbuat ulah disini.Hamba akan bertanggung jawab dan hamba akan menghukumnya seberat-beratnya"ucap Weiheng sembari menundukkan kepala.
"Apa?!"teriak wanita itu terkejut,sambil menganga tak menyangka.
"Aku tau dia istrimu Ze,tapi biarkan Ayahandaku dan Yang Mulia Putra Mahkota yg menentukan hukumannya"ucap Feng Hua dingin.
"Apa?!"teriak Ze terkejut lagi.
"Jadi dia sudah tau"gumam Ze dibenaknya.
"Kamu!!"teriak Ze,sambil melihat Diwei dengan mata melotot.
"Ayah?!"teriak Feng Hua terkejut dan heran.
"Kenapa lagi nih wanita?bisa-bisanya melihat Diwei seperti itu!!"ucap Feng Hua kesal dibenaknya.
"Maafkan Diwei nona.Jika Diwei membohongi nona selama ini"ucap Diwei,sembari berlutut memohon ampun.
"Huhh!"teriak Feng Hua sangat kesal.
"Istriku..."teriak Putra Mahkota memanggil Feng Hua dari kejauhan.
"Iya,Suamiku..."teriak Feng Hua membalas panggilan Putra Mahkota,sembari melihat ke arah Putra Mahkota.
Putra Mahkota kemudian berjalan ke arah mereka.
__ADS_1
"Bagaimana ini ayah?"tanya Diwei lirih,sembari melihat Weiheng dan mengubah posisinya menjadi berdiri.
"Tenanglah,kita beri salam dulu"balas Weiheng lirih,sembari melihat Diwei,kemudian melihat Putra Mahkota yg sedang berjalan mendekat.
"Istriku...ada apa ini?"tanya Putra Mahkota yg sudah berada disamping Feng Hua.
"Mereka dari sekte angin hitam,bermaksud membawa wanita bercadar itu"ucap Feng Hua sembari melirik Ze.
"Wanita itu tidak bisa dibawa pergi!"ucap Putra Mahkota tegas.
"Salam Putra Mahkota"ucap Weiheng dan Diwei bersamaan,sembari memberi hormat.
"Perkenalkan Yang Mulia Putra Mahkota,nama hamba Weiheng.Hamba adalah ketua sekte angin hitam dan dia adalah Diwei putra hamba"ucap Weiheng sembari melirik Diwei.
"Sekte angin hitam...
Sepertinya aku pernah dengar...
Ohh ya,sekte yg terkenal karna menangkap para bandit dan menegakkan keadilan"pikir Putra Mahkota.
"Wanita itu adalah Ze,istri hamba.Hamba tau wanita itu telah berbuat ulah disini.Hamba akan bertanggung jawab dan hamba akan menghukumnya seberat-beratnya.Mohon Yang Mulia Putra Mahkota dan Yang Mulia Putri Mahkota memperbolehkan kami membawanya...
Sebenarnya tak apa jika dia dihukum disini,tapi karna ada masalah lain yg juga menyangkutnya.Kami terpaksa harus membawanya"ucap Weiheng dengan menundukkan kepala.
"Masalah lain yg seperti apa?hingga membuat kalian membawanya??"tanya Feng Hua penasaran.
"Dia sudah mencelakai putra hamba Diwei.Hamba mengira putra hamba sudah meninggal,untunglah dia selamat.Sebab itulah hamba ingin membawanya untuk diadili.Hamba berjanji akan menghukumnya seberat-beratnya"ucap Weiheng.
"Apa?!pantas saja...Diwei..."ucap Feng Hua dibatinnya sembari menatap Diwei sedih dan hampir menangis.Namun tak jadi menangis,mengingat Putra Mahkota berada disampingnya.
"Kalian boleh bawa Ze pergi dari sini"ucap Feng Hua,sembari mengibas lengannya.
"Baiklah,Yang Mulia Putri Mahkota.Terimakasih atas kemurahan hatinya"ucap Diwei,sembari memberi hormat.
Setelah itu,Weiheng memukul tengkuk leher Ze.Ze kemudian jatuh pingsan,lalu dipanggul di pundak kanan Weiheng.
"Kalau begitu,kami ijin undur diri Yang Mulia Putri Mahkota dan Yang Mulia Putra Mahkota"ucap Weiheng ,sembari memberi hormat.lalu Diwei juga memberi hormat,kemudian merekapun pergi membawa Ze yg pingsan.
__ADS_1
Tiba-tiba setelah kepergian mereka.Para anggota sekte angin hitam datang membantu.Setengah anggota sekte angin hitam membawa para penjaga Ze yg masih hidup, maupun yg sudah meninggal.Setengahnya lagi membantu mengurusi para penjaga aula pertemuan yg luka-luka,maupun yg sudah meninggal.
Selir Pertama Huaran dan putrinya Xiao Jiao yg sudah pingsan.Kemudian,dimasukkan kedalam penjara oleh para penjaga aula pertemuan yg masih dalam keadaan baik.