
Sesuai permintaan Feng Hua.Malamnya,Zhaoyang membawa Diwei menemui Feng Hua.Feng Hua terkejut saat Zhaoyang membawa Diwei dengan menutup matanya dengan sepotong kain, yg mana diikat di belakang kepalanya.Kemudian Zhaoyang membuka ikatan kain itu,saat Diwei sudah berada dihadapan Feng hua.
"Nona..."teriak Diwei riang ,sambil melihat Feng Hua dengan mata berbinar.
"Bisakah kamu meninggalkan kami sebentar"bujuk Feng Hua pada Zhaoyang dengan nada memelas.
"Baiklah..."ucap Zhaoyang dengan mengelus lembut kepala Feng Hua.
Zhaoyang lalu pergi meninggalkan kamar.Setelah Zhaoyang keluar Feng Huapun bertanya dengan khawatir"Apa kamu baik-baik saja?"
"Aku baik-baik saja Nona"ucap Diwei dengan senyum manis.
"Baguslah kalau begitu"ucap Feng Hua dengan nafas lega.
"Kenapa nona bisa ada disini?"tanya Diwei penasaran.
"Aku diculik Zhaoyang.Sudah 3 hari aku disini"ucap Feng Hua lirih.
"Apa?!"teriak Diwei terkejut.
"Pelankan suaramu...Kita harus kabur dari sini secepatnya"ucap Feng Hua masih dengan suara lirih, sambil menutup mulut Diwei dengan tangan kanannya.
Diwei mengangguk pelan sambil melepaskan tangan Feng Hua yg menutup mulutnya.Kemudian Diwei dan Feng Hua berbicara dengan suara lirih.
"Bagaimana kalau kita kirim surat pada Yang Mulia Putra Mahkota.Jika Yang Mulia Putra Mahkota tau,dia akan membantu kita pergi dari sini"
"Jangan...Kita harus melakukannya sendiri.Kalau dia membantu kita,akan tambah runyam jadinya"
"Kalau begitu.Bagaimana dengan kita menyamar menjadi pelayan lalu menyelinap keluar?"
"Aku setuju!"
Setelah itu Feng Hua menyuruh Zhaoyang kembali masuk ke kamarnya.Zhaoyangpun datang dan duduk di sebelah Feng Hua.Namun sebelum itu,Zhaoyang telah meminta Kepala Dayang untuk menyiapkan makan malam.
Tak lama,Kepala Dayang dan dayang lainnya masuk sambil membawa makanan dan seperangkat alat minum di tangannya.Mereka kemudian menatanya di atas meja.
"Apakah ada yg lainnya Yang Mulia Kaisar?"tanya Kepala Dayang.
"Tidak ada"ucap Zhaoyang singkat.
__ADS_1
"Kalau begitu hamba dan yg lainnya pamit undur diri"ucap Kepala Dayang hormat.Melihat Kepala Dayang memberi hormat,dayang lainnyapun mengikuti.Setelah itu,merekapun bergegas pergi meninggalkan kamar.
"Mari makan"ucap Zhaoyang mempersilahkan.
Feng Hua dan Diwei mengiyakan ucapan Zhaoyang dengan anggukkan kepala.Semuanya makan dengan lahap termasuk Feng Hua.Tanpa Feng Hua sadari,ada nasi yg menempel di ujung cadarnya.Diwei dan Zhaoyang melihatnya bersamaan.Saat Diwei hendak mengambil nasi itu,Zhaoyang mendahuluinya.
"Aku kalah cepat"gumam Diwei dibenaknya,sambil memainkan jarinya.Jari yg mana hendak mengambil nasi yg menempel di cadar Feng Hua itu.
Feng Hua menatap Zhaoyang dengan malu dan sedikit canggung.
"Terimakasih"ucap Feng Hua.
Zhaoyang membalas terimakasih Feng Hua dengan senyuman manis.
"Aku ingin buang air kecil sekarang"ucap Feng Hua pura-pura.
"Pergilah Xiao Er"ucap Zhaoyang tanpa curiga.
Feng Hua kemudian beranjak dari kursinya.Tanpa Zhaoyang sadari,diam-diam Feng Hua memukul kepala Zhaoyang dari belakang.Zhaoyangpun jatuh pingsan dengan kepala menimpa makanannya di atas meja.
"Aku akan memanggil Kepala Dayang dan para dayang lainnya.Kamu nanti pukul kepala mereka dari belakang ya!"
Diwei bersembunyi di belakang pintu.Feng Huapun memanggil Kepala Dayang dan dayang lainnya untuk masuk.
Saat Kepala Dayang dan dayang lainnya telah masuk.Diwei memukul kepala semua dayang dengan cepat.Lalu Feng Hua melepaskan baju luar 2 dayang diantaranya,saat dirasa semua dayang telah pingsan.
Tak butuh waktu lama,Feng Hua berhasil mendapatkan bajunya.Feng Hua kemudian memberikan salah satu baju luar tersebut pada Diwei.Feng Hua dan Diwei dengan cepat memakainya.
Feng Hua kemudian melepaskan cadarnya dan memasukkannya ke depan bajunya.Feng Hua takut jika dia memakai cadarnya,orang-orang akan menyadari penyamarannya.Diwei yg melihat Feng Hua melakukan itupun melamun tanpa sengaja.Melamun mengingat,saat cadar Feng Hua jatuh ketika mabuk berat.
"Diwei..."teriak Feng Hua mencoba menyadarkan Diwei yg sedang melamun sambil melihatnya.
Tak lama,Diweipun tersadar dari lamunannya.
"Aku tau kamu pasti terkejut hingga melamun begitu.Nanti aku jelaskan semuanya,yg terpenting kita melarikan diri dulu dari sini"
"Iya"
"Ngomong-ngomong,rambutmu juga harus dibentuk seperti mereka..."
__ADS_1
Diwei melongo saat Feng Hua menyuruhnya begitu.
"Kamu pasti tidak bisakan...Aku akan menatanya untukmu.Sekarang berjongkoklah sebentar...."
"Baiklah....Bentuk rambutku secantik mungkin ya Nona"Ledek Diwei dengan mengecilkan suara seperti perempuan.
Diwei kira jika dia berucap seperti itu,Feng Hua akan tertawa.Feng Hua malah berucap"Suaramu lumayan mirip perempuan,tapi kamu harus lebih lembut lagi..."
Dengan sedikit cemberut Diwei menganggukkan kepalanya.Diwei lalu berjongkok membelakangi Feng Hua.
Feng Hua kemudian menata rambut Diwei sedemikian rupa hingga membentuk milik para dayang dan menghiasnya dengan tusuk rambut milik dayang yg diambil bajunya.Tak lupa Feng Huapun menata rambut dan menghiasnya juga.Setelah itu,mereka memutuskan untuk bergegas keluar.
Saat mereka keluar kamar hingga halaman istana.Mereka berhasil mengelabuhi para penjaga dan para dayang.Namun saat mereka akan keluar dari gerbang istana,ada salah satu dayang berpapasan dengan mereka berucap dibenaknya"Itukan tusuk rambut milik Mei Mei"sambil menunjuk rambut Feng Hua.
Dayang itu lalu berteriak"Kalian berhenti!"
"Gawat!"teriak Feng Hua dibenaknya.
Dayang itu berjalan mendekati mereka dengan wajah curiga.Dia mengamati Feng Hua dari atas hingga bawah dan menatap tusuk rambut yg dipakai Feng Hua dengan seksama.
Jantung Diwei dan Feng Hua berdebar kencang.Takut penyamaran mereka terbongkar.Dan benar saja,dayang itu mengambil tusuk rambut yg dipakai Feng Hua dan memastikan bahwa tusuk rambut itu milik dayang yg dikenalnya.Sontak dayang itu berteriak"Penjaga....Tangkap mereka..."
Para penjaga dengan sigap berlari mendekati tepat mereka berada.Tanpa pikir panjang,Feng Hua dan Diweipun berlari keluar gerbang.
Merekapun berhasil keluar.Tapi sayang,punggung Diwei terkena panah dari salah satu penjaga yg ada diatas gerbang istana.
"Diwei!"teriak Feng Hua terkejut.
"Tidak apa nona.Ayo kita kabur..."ucap Diwei seakan baik-baik saja.Padahal Diwei merasa sangat kesakitan dan punggungnya mengeluarkan darah yg lumayan banyak.
"Kita tidak bisa kabur jika kamu sudah terluka begini.Kita hentikan saja sampai disini..."ucap Feng Hua dengan meneteskan air mata.
"Itu ada kuda,nona!Ayo kita kabur dengan kuda itu!"teriak Diwei sambil menunjuk seekor kuda yg tak jauh dari mereka.
"Baiklah..."ucap Feng Hua sembari menghapus air matanya.
Feng Hua lalu memapah Diwei dengan sedikit berlari.Dengan sekuat tenaga Diwei mengimbangi Feng Hua berlari.
Sesampainya di kuda itu.Feng Hua melepaskan ikatan kuda itu.Mereka kemudian menaiki kuda itu bersama,Diwei duduk didepan sedangkan Feng Hua duduk dibelakangnya.Meski Diwei duduk didepan,Feng Hua lah yg memacu kudanya.Feng Hua memacu kudanya dengan kecepatan tinggi.
__ADS_1
Meski sudah menaiki kuda dengan kecepatan tinggi.Para penjaga tak henti-hentinya mengejar mereka.Para penjaga juga menaiki kuda demi menangkap mereka.