
Setelah itu,Permaisuri Lian dibawa ke kediamannya oleh Feng Hua,Putra Mahkota,dan Perdana Mentri Xiao.Para pelayan dan dayang Feng Hua membersihkan sekaligus merapikan aula pertemuan.Sedangkan para selir dan anaknya,kembali ke kediaman masing-masing.
__________
Kediaman Permaisuri Lian(malam hari)
"Dimana aku?"ucap Permaisuri Lian.Terbangun dari pingsannya,sembari memegang kepalanya yg pusing.
"Ibunda berada di kamar.Syukurlah ibunda sudah sadar..."ucap Feng Hua lirih.
"Xiao Er,sejak kapan kamu bisa beladiri?!"tanya Permaisuri Lian ,secara tiba-tiba,Sembari memegang tangan Feng Hua cepat.
"Sudah lumayan lama"ucap Feng Hua mengasal.
"Darimana kamu belajar?"tanya Permaisuri Lian lagi.
"Masa iya, aku bilang belajar di jaman modern,bukannya percaya.Malah bilang aku gila nantinya hehe"ucap Feng Hua dibenaknya.
"Xiao Er mempelajarinya sendiri dari buku,setiap tengah malam Xiao Er berlatih"ucap Feng Hua mengada-ada.
"Baiklah,Xiao Er"ucap Permaisuri Lian,sembari melepas pegangan tangannya.
"Ibunda... jangan sering-sering menggerakan tangan,nanti luka ibunda tidak cepat kering"ucap Feng Hua khawatir.
"Baiklah,putriku"ucap Permaisuri Lian tersenyum.
"Ternyata,ibunda sudah bangun..."ucap Putra Mahkota yg tiba-tiba masuk ke kamar Permaisuri Lian.
"Ibunda baik-baik saja.Yang Mulia bawa Xiao Er istirahat,Xiao Er pasti sudah cape"ucap Permaisuri Lian.
"Baik ibunda,kalau begitu kami pamit undur diri"ucap Feng Hua dan Putra Mahkota bersamaan.Kemudian berlalu pergi.
__________
Kediaman Xiao Er (malam hari)
Sesampainya di kediaman.Putra Mahkota dan Feng Hua kemudian mandi bergantian.Seusai mereka mandi,mereka makan malam dan mengobrol.
"Untunglah,luka ibunda tidak parah"ucap Putra Mahkota.
"Iya,kamu benar"ucap Feng Hua.
"Ngomong-ngomong,aku merasa ada yg janggal soal masalah teh beracun waktu itu"ucap Putra Mahkota serius.
__ADS_1
"Janggal,bagaimana?"tanya Feng Hua penasaran.
"Kamu menunjukkan bahwa teh dicangkirmu itu beracun.Berarti teh yg di teko itu juga beracun.Jika memang begitu,setelah kamu meminum tehnya.Lalu terjadi sesuatu padamu.Maka teh yg ada di teko itu,bisa menjadi bukti.Cepat atau lambat penyelidikan akan menjadikan Selir Pertama Huaran menjadi tersangka.Memangnya..Selir Pertama Huaran akan memberikan bukti atas kejahatannya?Dan aku berada disampingmu,bisa saja aku juga meminum teh di teko itu.Pasti Selir Pertama Huaran tidak asal-asalan melakukan kejahatannya dan tidak akan memberikan bukti"balas Putra Mahkota.
"Sesuai dengan dugaan Putra Mahkota.Selir Pertama Huaran tidak mungkin memberikan bukti atas kejahatannya.Selir Pertama Huaran tidak memasukkan racun pada air teh.Namun,Selir Pertama Huaran hanya mengoleskan racunnya kedalam cangkir itu.Yang mana seperti kata tabib,Racun itu bernama 綠蛇毒 Lǜ shédú.Racun itu berbentuk cair,berwarna bening, dan lengket.Tapi tidak berbau.Jika terkena air akan menyatu tanpa jejak.Setelah meminumnya akan menyebabkan kematian secara mendadak"ucap Feng Hua menerangkan.
"Berarti, jika kamu mengisi cangkir itu dengan teh.Teh dan racun itu bercampur.Lalu jika kamu meminumnya,tidak akan ada racun yg tersisa di cangkir itu.Dengan begitu Selir Pertama Huaran bisa membunuhmu tanpa ketahuan"ucap Putra Mahkota panik.
"Iya,begitu..."ucap Feng Hua sembari menganggukan kepala.
"Dan untung saja Selir Pertama Huaran dan Xiao Jiao tidak menyuruhmu dan tabib mengecek teh di teko itu,yg ada malah kamu dituduh menjebak Selir Pertama Huaran"ucap Putra Mahkota.
"Mungkin Selir Pertama Huaran panik,jadi tidak mengingatnya haha.Tapi Xiao Jiao juga sudah membelanya dengan menuduhku menjebak ibunya,lalu aku menyuruh Yi menggeledah Selir Pertama Huaran dan mendapatkan racunnya.Jadi mau ngga mau,suka atau tidak suka.Didepan semua orang,Selir Pertama Huaran harus mengakui kejahatannya haha"ucap Feng Hua.
"Kalau Selir Pertama Huaran tidak menyimpan racunnya bagaimana?!"tanya Putra Mahkota kesal,sembari menjitak jidat Feng Hua.
"Aduhh,sakit...
Tentu saja dia menyimpannya.Aku sudah memasang mata-mata mengawasinya"ucap Feng Hua,sembari mengelus jidatnya.
"Walaupun benar,Selir Pertama Huaran sengaja meracunimu.Tapi aku merasa,kamu menjebaknya.Jika tidak,untuk apa sampai memakai jarum perak,memanggil tabib,lalu memasang mata-mata "gumam Putra Mahkota.
"Bisa dibilang aku menjebaknya"ucap Feng Hua sembari tertawa kecil.
"Tentu saja sudah,setelah kejadian itu.Diam-diam aku menyuruh Yi membuangnya"ucap Feng Hua pelan.
"Baguslah.."ucap Putra Mahkota senang.
"Saat ada ketua sekte angin hitam dan anaknya,aku juga melihat ada hal yg janggal"ucap Putra Mahkota serius.
"Janggal,bagaimana?"tanya Feng Hua penasaran.
"Dari tadi janggal mulu nihh,Putra Mahkota"ucap Feng Hua kesal dibenaknya.
"Selir Pertama Huaran pingsan,Xiao Jiao pingsan,dan si wanita bercadar itu berdiri mematung.Kira-kira siapa yg melakukan itu semua?"ucap Putra Mahkota heran.
"Aku harus jujur pada Putra Mahkota.Disaat aku melawan para penjaga Ze,selain ibunda.Pasti ada segelintir orang yg melihatnya juga"pikir Feng Hua.
"Istrimu ini yg melakukannya hehe"ucap Feng Hua,sembari menujuk dirinya sendiri.
"Sejak kapan istriku bisa beladiri?!"tanya Putra Mahkota terkejut.
"Sudah lama,suamiku.Aku sengaja menyembunyikannya"balas Feng Hua,sembari memberikan cangkir berisi air yg sudah diberi obat tidur secara diam-diam pada Putra Mahkota.
__ADS_1
"Ohh,begitu...
Istriku hebat yaa bisa menjebak orang dan beladiri"ucap Putra Mahkota sembari mengambil cangkir berisi air pemberian Feng Hua dan meminumnya tanpa curiga.
"Itu pujian atau sebaliknya"ledek Feng Hua.
"Itu pujian"ucap Putra Mahkota sembari tertawa.Feng Hua pun ikut tertawa.
Setelah itu,tak lama kemudian.Putra Mahkota dan Feng Hua pergi tidur.
Pada tengah malam.Feng Hua menyelinap keluar untuk memenuhi janjinya,yaitu memberi uang kepada teman Diwei yg berada di sekte angin hitam.Tak lupa Feng Hua membawa 1 kantung penuh berisi uang koin emas,kemudian Feng Hua membunyikan peluitnya setelah berada di taman.Mereka pun bermunculan.
"Salam nona"ucap Diwei,Ping,Fai,dan Ho bersamaan,sembari memberi hormat.
"Diwei sudah menyiapkan kuda,nona"ucap Diwei bersemangat.
"Baiklah,siapkan aku pedang juga!"seru Feng Hua.
"Baik,nona"ucap Diwei mengiyakan.
Selang 5 menit,Diwei membawa pedang yg diminta Feng Hua.
"Ini,nona"ucap Diwei,sembari memberikan pedang.
"Trimakasih"ucap Feng Hua,sembari memasangnya di kanan pinggangnya.
"Kenapa hanya kalian berdua?"tanya Ping heran.
"Kan aku sudah cerita,nona dan aku akan memberikan uang pada teman lamaku"balas Diwei,sembari menaiki kuda.
"Lainkali pergi bersama yaa"ucap Feng Hua menghibur,sembari menaiki kudanya.
"Hmm,baiklah"ucap Ping terpaksa.
"Hati-hati,nona"ucap Ho.
"Diwei jaga nona yg benar.."ucap Fai.
"tentu saja"ucap Diwei sombong.
"Dasar Diwei!!"ucap Fai kesal dibenaknya.
Feng Hua dan Diwei kemudian memacu kuda mereka menuju sekte angin hitam.
__ADS_1