
"Rose, istirahat dulu ya! jangan banyak bergerak, lukamu baru di jahit," ujar Leo dengan mengecup dahi istrinya.
"Iya, aku tahu," jawab Rose dengan senyum.
Sesaat kemudian Leo melangkah keluar dari kamar, ia menuju ke halaman yang di mana Kian sedang menahan wanita yang melukai Rose.
"Ikat dia ke belakang mobil!"perintah Leo dengan tegas yang berjalan menghampiri Jenice.
"Apa yang kau lakukan?"tanya Jenice dengan meronta-ronta.
Leo mendekati wanita itu dan mengenggam dagunya dengan erat.
"Wanita sampah, kau berani sekali datang ke sini menyakiti wanita kesayanganku, kelihatannya kau sudah bosan hidup," ketus Leo dengan tatapan aura membunuh.
Kian lalu menarik Jenice menghampiri mobil belakang dan mengikat tangan wanita itu.
"Lepaskan aku! lepaskan!" teriak Jenice yang berusaha melawan akan tetapi ia tak berdaya.
Kian mengikat tangannya dengan erat, Jenice yang ketakutan berusaha meronta ingin melepas diri, semakin dia meronta semakin sakit yang dia rasakan.
"Leo, memandang kita adalah suami istri, jangan sakiti aku!" pinta Jenice yang ketakutan.
"Suami istri? aku tidak pernah menganggapmu sebagai istriku, istriku satu-satunya hanya Rose Downson, sementara kau hanyalah wanita sampah yang sudah busuk," ketus Leo yang lalu masuk ke dalam mobilnya.
Leo menghidupkan mesin mobil lalu menginjak gas dan menuju keluar dari pagar.
"Aaarrrgghhhhh," teriak Jenice yang di tarik dengan posisi terikat ke dua tangannya di belakang mobilnya.
"Aaarrrgghh...."
"Leo, Leo, Leo," teriak Jenice yang harus mempercepatkan langkahnya.
Brum...brum...brum...brum...brum....
Leo melajukan mobilnya dan mengelilingi luar rumahnya itu, Jenice yang tidak sanggup mengimbangi kelajuan mobil itu akhirnya ia jatuh dan diserat oleh mobil di jalan aspal itu.
Srek....srek....srek...
"Aaarrghhh.....," teriakan Jenice yang kesakitan.
"Wanita sampah, lihat saja kau bisa bertahan berapa lama," ketus Leo yang sedang menyetir.
Brum...brum...brum...brum...brum...
Leo dengan menginjak pedal gas dengan kecepatan tinggi, ia memang berniat menyiksa mantan istrinya itu.
__ADS_1
"Aaarrrgghh," teriakan Jenice yang terkelupas kulitnya sedikit demi sedikit akibat gesekan di aspal.
Srek....srek....srek...srek...
"Aaaarrgghhh...,"
"Hentikan! hentikan! sakit..." teriak Jenice yang kesakitan dengan gesekan tubuhnya di aspal itu
Tubuh Jenice diseret ke mana-mana, baju dan celana robek sehingga kulitnya terkelupas dari bagian atas tubuhnya hingga ke bawah.
"Aaarrgghh....,"
"Tolong hentikan! aku mohon! sakit sekali!" teriak Jenice yang sambil menangis.
Brum...brum...brum...brum...brum...
Srek....srek....srek...srek...
"Aaarrghh...."teriakan Jenice yang sedang kesakitan. ia menangis karena ketakutan akibat siksaan dari mantan suaminya itu, kulitnya terluka semakin parah akibat gesekan tanpa berhenti dan telah mengeluarkan darah. di sepanjang jalan itu di kotori oleh darah Jenice dan juga kulitnya yang hancur.
Semakin lama daging-daging tubuh wanita itu menempel jalan aspal serta darahnya. Jenice berteriak sambil memohon akan tetapi diabaikan oleh Leo yang sedang mengila. ia sengaja menghentikan mobilnya tiba-tiba dan kemudian menginjak pedal gas dengan tiba-tiba. selama menyiksa mantan istrinya itu Leo sengaja melajukan mobilnya dan kemudian memperlambatkan mobilnya dengan niat ingin menyiksa wanita itu secara perlahan, dan tidak ingin wanita itu cepat tewas.
Brum...brum...brum...brum...brum...
Srek....srek....srek...srek...
Pakaian Jenice juga telah robek semuanya dan hanya sisa bra dan celana da.lamnya yang juga mulai robek, seluruh tubuhnya tidak ada yang utuh lagi. kulitnya telah tanggal semua dan menampakkan merah darah di seluruh tubuhnya.
Wanita itu kesakitan dan sekarat akan tetapi Leo masih belum puas menyiksanya.
Setelah berputar selama setengah jam Leo menghentikan mobilnya. lalu ia keluar dari mobilnya dan menghampiri Jenice yang tergeletak dengan luka yang cukup parah, wajah dan tubuhnya terkelupas sehingga daging wanita itu menempel di jalan, Jenice hanya sisa nyawa-nyawa ikan akibat sakit yang dia rasakan.
"Bagaimana rasanya, wanita sampah?" tanya Leo yang menjambak rambut wanita itu yang telah sekarat.
"To-tolong aku!" pinta Jenice yang wajahnya terluka parah dan berdarah.
"Tolong? jangan berharap aku akan menolongmu, aku hanya akan menyiksamu dan tidak akan selamatkanmu," ketus Leo yang melepaskan tangannya dan kemudian mengeluarkan pisau.
"Dengan tangan kanan kau menikam istriku, bukan?" tanya Leo yang mendekatkan pisau itu ke tangan kanan Jenice yang masih terikat.
"Jangan, aku mohon," pinta Jenice yang kritis.
Leo tanpa ragu lalu memotong satu-persatu jari wanita itu dengan perlahan.
Srek...
__ADS_1
Gesekan pelan pisaunya pada jari telunjuk wanita itu.
"Aaarrghh....," teriakan Jenice yang sedang kesakitan karena merasakan jarinya di potong secara perlahan oleh Leo.
Setelah putusnya jari telunjuk Leo melanjutkan ke jari tengah, ia sengaja memotong perlahan sehingga Jenice berteriak sambil menangis.
Leo melakukan selama sepuluh menit, lima jari Jenice terputus semua akibat ulahnya, sementara Jenice hanya pasrah dengan siksaan yang di lakukan oleh mantan suaminya itu tanpa ada rasa iba terhadap dirinya.
"Apakah nikmat rasanya? Jenice Muffis kau sudah salah besar karena menyinggungku," ketus Leo.
Mulut Jenice mengeluarkan darah akibat mengalami luka dalam, kulit kiri dan kanan wajahnya telah tanggal dan hanya terlihat daging dalamnya mengeluarkan darah tanpa berhenti.
"Bunuh sa...ja aku...!"pinta Jenice yang kritis dan terputus-putus.
"Hahahahahah....membunuh mu terlalu mudah bagimu, membuatmu cacat itulah kesukaanku," ujar Leo dengan sambil tertawa.
"Apa kau be-gitu mem-benciku?" tanya Jenice dengan nada kecil.
"Dulu aku merasa kau sangat menjijikan, dan sekarang bukan saja menjijikan, tapi di mataku kau adalah wanita sampah," jawab Leo yang merasa kesal.
Leo mengeluarkan handphone miliknya dan menekan nomor seseorang.
Tidak lama kemudian seseorang yang dia hubungi menjawab panggilannya.
"Hallo, Bos," jawab orang yang di seberang sana.
"Kian, aku di daerah belakang rumah, bawa wanita ini pergi dan buang ke kebun harimau!" perintah Leo yang kemudian memutuskan panggilannya.
Jenice yang mendengar perintah Leo pada anggotanya merasa semakin ketakutan karena dirinya akan bertemu dengan hewan pemakan daging yang sangat menakutkan itu serta akan menjadi santapannya.
"Seorang Jenice Muffis yang bersikap sombong akhirnya harus tewas dengan mengenaskan, apalah artinya dengan semua yang kau miliki di saat dulu, semua telah berakhir," ketus Leo yang kemudian melepaskan ikatan Jenice dan pergi dengan meninggalkan wanita kritis itu begitu saja.
Jenice yang kondisinya sudah parah tidak sanggup lagi untuk bergerak, ia hanya bisa menunggu kematiannya yang akan segera mendatanginya.
Tidak lama kemudian Kian datang menjemput Jenice, wanita itu tidak mampu melawan lagi hanya bisa pasrah di bawa pergi oleh anggota mantan suaminya itu.
Tidak lama kemudian Kian menghentikan mobilnya di depan kebun harimau, Kian menarik Jenice dengan kasar dan menyeretnya masuk ke dalam kebun yang terdapat beberapa ekor harimau yang sedang melihat mangsanya itu, setelah itu Kian meninggalkan wanita itu begitu saja dan menuju ke mobilnya.
Jenis yang tidak berdaya dan tidak sanggup untuk berdiri lagi hanya bisa terlungkup sambil menahan sakit yang luar biasa, matanya meneteskan air mata karena melihat beberapa ekor harimau yang mulai melangkah menghampirinya.
Mencium darah segar tentu membuat binatang itu tidak sabar untuk menyantap mangsanya. terdapat lima ekor harimau yang menghampiri wanita itu.
Saat binatang buas itu mendekati Jenice, Jenice semakin ketakutan dan memejamkan matanya. lalu harimau itu mulai mengigit daging Jenice begitu juga dengan yang lain.
"Aaarrrghh....," teriakan Jenice yang tubuhnya di cabik-cabik oleh lima harimau itu yang menyantap dirinya.
__ADS_1
Di siang itu Jenice menerima siksaan yang cukup sadis, bukan hanya di seret dengan mengunakan mobil selama setengah jam, lima jarinya juga di potong dan kemudian ia harus menanggung sakit yang luar biasa karena dagingnya di makan oleh lima binatang buas itu. setelah speuluh menit kemudian wanita itu tewas dan dagingnya habis menjadi rebutan lima binatang buas itu