
"Mana ada seorang istri yang menyuruh suaminya melepaskan celana di depan orang ramai," kata Leo yang melirik tajam ke arah istrinya.
"Baiklah, kalau kau tidak mau, aku masih ada cara lain, apakah wanita itu hamil anakmu atau tidak," ujar Rose yang mendekati Sandia.
"Apa yang kau ingin lakukan?" tanya Sandia yang memundurkan beberapa langkah.
"Aku hanya ingin memastikan apakah kau memang hamil atau tidak," jawab Rose yang mendekati wanita itu.
"Kau jangan sembarangan, jika aku sampai keguguran apa kau akan bertanggung jawab?" ketus Sandia yang merasa cemas.
"Oh...tenang saja kalau begitu aku tidak akan menyakiti perutmu, tapi aku akan menyakiti bagian lain," kata Rose.
"Bagian lain? apa maksudmu?"tanya Sandia.
Rose mengangkat kakinya dan menendang bagian bawah tubuh wanita itu.
Bruk...
"Aaarrghh....," rintihan Sandia yang kesakitan sehingga menjongkok sambil memegang bagian bawahnya itu.
"Wanita pengoda sepertimu harus di beri pelajaran, ingin mengoda suami orang harus melihat juga siapa istrinya," bentak Rose dengan kesal.
Atas perlakuan Rose telah menarik semua perhatian para hadirin yang di sana.
"Hei...kalian berani sekali!" bentak salah satu pria itu.
"Bawa mereka keluar!" perintah Leo pada anggotanya.
"Ric, kurung mereka! aku akan memberi mereka pelajaran!" perintah Leo pada anggotanya itu dengan nada kecil.
"Siap, Bos," jawab Ric dengan patuh.
Ric dan anggotanya menarik pria asing itu dan Sandia keluar dari acara tersebut. di saat mereka keluar para tamu di sana menepuk tangan mereka karena melihat aksi dari sang pengantin yang mengusir wanita lain yang berniat ingin mengoda suaminya itu, andaikan pengantin lain pasti saja sudah percaya dengan apa yang di katakan oleh wanita itu, tapi tidak dengan Rose Downson yang malah memilih percaya pada suaminya dan juga bersikap tegas mengusir wanita itu tanpa ragu.
Prok...prok...prok...prok...
Tepukan meriah semua tamu yang bangkit dari tempat duduk mereka.
Setelah pembuat onar itu di usir, acara di lanjutkan dengan makan-makan dan minum.
"Rose, bagaimana perasaanmu hari ini?" tanya Leo yang mengambilkan minuman untuk pengantinnya.
"Sungguh menyenangkan sekali, dalam sehari aku bisa menjadi pengantin dan juga menghajar orang," jawab Rose dengan bercanda.
"Istriku memang sangat luar biasa, aku menyukai sikapmu," ucap Leo yang mencium wajah istrinya.
__ADS_1
"Leo, siapa menurutmu yang mengirim mereka datang untuk mengagalkan pernikahan kita?"
"Aku akan menyelidikinya setelah ini, tidak akan ku lepaskan pelakunya," jawab Leo yang bersulang dengan istrinya.
Tidak lama kemudian datanglah seorang wanita yang tak lain adalah Mancy yang juga mendapatkan undangan dari kakak angkatnya itu.
Ia berjalan menuju ke arah Leo dan Rose yang sedang minum bersama.
"Selamat buat kalian," ucap Mancy dengan senyum paksa.
"Mancy, aku mengira kau tidak hadir," kata Leo.
"Kakakku menikah mana mungkin aku tidak hadir, selamat untuk kakak iparku," ucap Mancy yang mengulurkan tangannya dan ingin bersalaman dengan Rose.
Rose dengan ramah bersalaman dengan adik angkat suaminya itu.
"Terima kasih, sudah hadir," balasan ucapan Rose dengan senyum.
"Sama-sama," jawab Mancy.
"Mancy, silakan pilih makanan yang kamu suka," kata Leo dengan senyum.
"Tenang saja! aku pasti akan menghabiskan makanan di sini, anggap saja kedatanganku hanya untuk menumpang makan," jawab Mancy yang melangkah pergi mengambil makanan.
"Dia sudah menerima hubungan kita, dia akan baik-baik saja," jawab Rose.
"Ini yang ku harapkan dari dia, aku tidak ingin dia menjadi musuh kita," ucap Leo dengan bersulang dengan istrinya.
Hinez yang melihat Leo dan mantannya itu menikah dan sangat mesra, ia menghabiskan beberapa gelas minuman.
"Selamat buat kamu Rose, kau telah menemukan kebahagiaanmu, aku berharap Leo akan selalu bersamamu," batin Hinez.
Acara di hari itu berlangsung hingga pukul 23.00, tamu beransur pulang setelah acara makan selesai.
Setelah itu Leo dan Rose juga kembali ke kediaman mewah mereka.
Sementara Shote Harters sedang emosi karena rencananya yang lagi-lagi gagal, niat ingin mengagalkan pernikahan musuhnya itu dan juga ingin menimbulkan ke onaran di pesta itu, akan tetapi yang terjadi tidak sesuai dengan keinginannya.
"Di mana Sandia?" tanya Shote pada anggota yang berdiri di hadapannya.
"Mereka dibawa pergi oleh anggota Leo Downson," jawab salah satu anggotanya.
"Sia.lan, rencanaku gagal untuk ke dua kalinya, aku tidak akan biarkan begitu saja," ketus Shote dengan melempar gelasnya ke lantai.
Prang...
__ADS_1
Pecahan gelas hingga berkeping-keping.
"Bos, apa yang harus kita lakukan? apa kita harus menyelamatkan mereka?"
"Kita tidak akan bisa berhasil, jumlah anggotanya sangat banyak, hanya saja selama ini Leo Downson tidak pernah keluarkan mereka jika tidak ada urusan penting," jawab Shote.
"Sandia adalah wanita yang paling sering memuaskanku, sekarang dia malah ditahan," ketus Shote dalam hati.
"Carikan wanita yang lebih cantik dari Sandia!" perintah Shote pada anggotanya.
"Segera kami laksanakan," jawab anggotanya dengan serentak.
"Leo Downson, aku tidak percaya tidak bisa mengalahkanmu," ketus Shote.
Mansion Leo.
"Besok lusa kita akan berangkat ke meksiko, setelah urusan ku selesai kita bulan madu selama tiga bulan," ucap Leo yang sedang menindih istrinya yang masih mengenakan gaun pengantin.
"Aku akan ikut saja ke mana pun kamu pergi," kata Rose yang mencium bibir suaminya.
"Kau adalah pengantin yang paling cantik, memiliki mata yang indah, wajah yang menawan, hidung mancung dan bibir yang tipis dan indah. tidak ada kekurangan sama sekali. aku Leo Downson beruntung bisa memiliki wanita sempurna sepertimu," ucap Leo yang mencium bibir istrinya.
Rose membalas ciuman dengan mesra selama beberapa menit, setelah itu mereka melanjutkan melakukan hubungan intim.
Keesokan harinya.
Jenice yang sudah membaca berita mengenai pernikahan membanting dan menghancurkan semua barang yang di rumahnya itu.
Prang...prang...prang...
"Dia menikahi wanita itu akhirnya, ternyata diriku ini bukan apa-apa baginya. Leo Downson. hidup ku hancur begitu saja di tanganmu. perusahaan ku hancur. papaku meninggal. dan kini kau malah menikah dan hidup bahagia bersama wanita lain," ketus Jenice.
"Aku tidak akan berdiam diri saja, aku mendapatkan penghinaan karenamu, aku yang dulu adalah nona besar yang di hormati oleh semua orang. kini aku bukan siapa-siapa lagi. bahkan lebih rendah dari wanita penghibur," ketus Jenice yang merasa dendam.
Jenice melangkah ke dapurnya dan memecahkan semua piring-piringnya dan juga alat dapur lainnya
Prang...prang...prang...prang....
Pecahan piring dan gelas yang di lempar oleh Jenice.
Semua peralatan dapur berjatuhan berserak di lantai termasuk sendok, garpu dan pisau.
Jenice lalu mengutip salah satu alat dapur di lantai itu, dan menatap tajam pada alat yang di pegangnya.
"Kalau aku tidak bisa memiliki mu maka orang lain juga tidak akan bisa," ucap Jenice yang menatap pisau yang di pegangannya.
__ADS_1