
"Kau wanita kejam," ketus Edward.
"Kejam? ha-ha-ha-ha...papa mertuaku yang baik, lebih kejam siapa di saat kalian mendukung putramu bermain- bermain dengan wanita lain dan mengabaikan menantu mu ini? dan sekarang aku hanya mengembalikan janin ini pada kalian. janin ini aku tidak mau. aku merasa jijik setiap memikirkan darah daging pria tidak berguna itu berada di dalam rahimku. oleh karena itu aku ingin menyiksanya hingga tewas," kata Rose dengan sengaja.
Edward dan Joice semakin histeris dan tertekan saat mengira janin dalam toples itu adalah darah daging putra kesayangannya.
"Aku tidak pingsan saat mereka membunuhnya, aku hanya di suntik obat bius saja. karena aku ingin melihat pewaris kalian disiksa. apa kau tahu mereka mulai dari mana saat melakukan aborsi?" tanya Rose.
"Cukup," bentak Edward yang merasa sakit hati sehingga mengeluarkan air matanya.
"Aku melihat dia bergerak sangat lucu, alat itu mencabut salah satu kakinya. dia meronta karena merasa kesakitan. dan aku sangat senang sekali. dan setelah itu kaki satunya lagi juga dicabut sehingga dia tidak memiliki kaki lagi dan...," ujar Rose yang dihentikan oleh Joice.
"Cukup! jangan lanjutkan lagi!" teriak Joice yang merasa sakit hati.
"Ha-ha-ha-ha...setelah dua kakinya dicabut, dia masih bergerak. tidak lama kemudian giliran tangannya yang dicabut. tidak bisa dibayangkan betapa sakitnya dia. dan setelah itu sisa satu tangannya juga dicabut. dan terakhir kepalanya. aku lupa menyuruh orang untuk merekamnya. untuk kalian jadikan sebagai kenangan," lanjut Rose dengan sengaja.
"Diam! sudah cukup!" bentak Edward dengan merasa kesal.
Leo mendorong pria tua itu sehingga tersungkur.
Bruk...
"Arghhh...," jerit Edward yang merasa sakit pada tubuhnya.
"Edward...," teriak Joice yang melihat suaminya tersungkur di lantai samping ranjangnya.
"Edward Hamilton, tidak ada yang boleh meninggikan suaranya terhadap istriku," bentak Leo dengan kesal.
"Edward Hamilton, Joice, janin ini aku tinggalkan untuk kalian. jaga baik-baik darah daging putra kalian itu. aku merasa sangat bahagia di saat menyiksa anak dari putra kalian ini. dan kini aku sudah mulai hidup baru. selama ini aku seperti hidup di dalam neraka. dan kini aku sudah bebas. sementara putra kalian itu hanyalah sampah tidak berguna bagiku," ketus Rose dengan mengejek.
"Rose Florencia...," teriak Joice yang bertambah histeris.
__ADS_1
Rose menekan dua pundak mertuanya itu dengan erat.
"Jaga kesehatanmu baik-baik, karena kau harus melihat aku hidup bahagia. dan aku juga ingin panjang umur karena masih ingin melihat kalian hidup menderita di sisa-sisa hidup kalian," kata Rose dengan jarak yang sangat dekat dengan mertuanya.
"Wanita gila," ketus Joice.
"Aku pernah berusaha menjadi istri dan menantu yang baik buat keluarga Hamilton, tapi apa yang kudapatkan? pengkhianatan dan rasa sakit yang kalian berikan, ingin aku di tahan seumur hidup? ingin aku digilir oleh sejumlah pria? tapi Tuhan punya mata. semua niat jahatmu kaulah yang mengalaminya. dan aku bebas dari semua itu. atau...kalau kau masih mau, aku akan meminta Leo mencarikan beberapa pria lagi untuk melakukannya padamu lagi?" ujar Rose dengan sengaja.
"Lepaskan aku!" teriak Joice.
Rose mengenggam kuat dagu wanita itu dengan berkata," mertuaku, kau sudah tua, seharusnya hidup bahagia bersama suami dan anakmu. tapi sekarang apa yang kau dapatkan adalah hasil dari keinginannmu sendiri. andaikan kau baik padaku di masa lalu. maka aku mungkin saja tidak akan membunuh putra dan pewarismu ini. semua ini adalah sebab dan akibat dari keluargamu sendiri," kata Rose yang melepaskan tangannya.
"Leo, mari kita pergi!" ajak Rose yang melangkah pergi.
"Jaga sikap kalian mulai hari ini! jangan bermain dengan ku jika tidak mau semakin parah," kecam Leo pada sepasang suami istri itu.
Joice melihat isi toples kecil itu ia merasa histeris dan berteriak
Joice menangis sambil berteriak dengan tanpa berhenti.
"Dia benar-benar hamil, dan dia bunuh darah daging kita," ucap Edward yang merasa lemas.
"Nasib putra kita begitu tragis, dia sudah meninggal karena di bunuh dan kini bahkan darah dagingnya juga harus menerima nasib yang sama, putraku...cucu kesayanganku...," tangisan Joice yang merasa sakit di dada. ia sambil menepuk dadanya berulang kali.
"Jangan melihat lagi! aku akan menyuruh orang menguburnya secara layak," kata Edward yang mengambil toples itu dan di tutupi kain.
Joice merasa terluka dan menangis dengan semakin histeris. sementara Edward merasa menyesal atas kehilangan janin yang dia mengira adalah cucu kandungnya.
"Aku yang selama ini hidup serba ada, tidak ku sangka di masa tua aku kehilangan semuanya. putraku meninggal, cucuku satu-satunya meninggal, selama ini aku hidup di atas angin tidak ada sesiapapun yang bisa melawanku. dan kali ini aku malah harus bertekuk lutut pada seorang Leo Downson," gumam Edward.
Leo dan Rose meninggalkan rumah sakit setelah menyerahkan janin bayi tersebut.
__ADS_1
Dalam perjalanan.
"Rose, bagaimana dengan perasaanmu, setelah membalas mereka?" tanya Leo yang memegang tangan calon istrinya.
"Hatiku merasa puas sekali karena melihat mereka tertekan dan merasa sangat kehilangan. di usia mereka yang sudah tua mereka sangat mengharapkan bisa mendapatkan penerus. dan sekarang harapan mereka sudah pupus. aku yakin mereka pasti tidak bisa menerimanya," jawab Rose.
"Dendammu sudah terbalas, dan mulai hari ini jangan di pikirkan lagi! kita akan mulai hidup baru dan bahagia.apa kau bisa melupakan masa lalu dan mulai hidup baru denganku?"
"Tentu saja bisa, asal kau jangan pernah seperti pria brengs*k itu," jawab Rose dengan senyum.
"Aku tidak seperti brengs*k itu, dalam kamusku kau adalah satu-satunya wanita dalam hidupku," ucap Leo yang mencium bibir Rose berulang kali.
"Apa kau akan sering keluar berbisnis?" tanya Rose.
"Iya, aku sering keluar berbisnis," jawab Leo.
"Aku akan menikah denganmu, tapi aku ingin meminta satu syarat. jika kau setuju maka aku akan menikah denganmu," ujar Rose.
"Katakan saja apa syaratmu?"
"Aku ingin ikut ke mana pun kau pergi, kalau kau keluar berbisnis maka aku ingin ikut denganmu," jawab Rose yang menatap dekat dengan Leo.
"Apa kau tidak yakin denganku?" tanya Leo dengan senyum.
"Yang namanya pria tidak ada yang bisa di percaya, tanpa istrinya di sampingnya dia pasti akan bermain dengan wanita lain," kata Rose yang menarik dasi calon suaminya.
"Kau ingin mengawasiku setiap saat?"tanya Leo dengan menyentuh dagu istrinya.
"Iya, walau anak harimaumu ini tidak ada sayap, tapi dia memiliki empat kaki dan bisa saja dia masuk kandang sembarangan ," jawab Rose dengan tatapan dekat.
"Kalau begitu maka awasilah anak harimauku dengan ketat," kata Leo dengan mengoda.
__ADS_1