Ranjang Psikopat Dalam Penjara

Ranjang Psikopat Dalam Penjara
Masa Lalu


__ADS_3

Leo bergerak maju mundur dan sambil mencium bibir tipis calon istrinya itu. ke dua tangan Leo mengenggam telapak tangan Rose dengan erat.


"Leo, jangan kasar!" erangan Rose yang merasa gerakan yang sangat cepat di bagian bawahnya.


"Maaf," ucap Leo yang berbisik di telinga Rose.


Leo perlahankan gerakannya sambil mencium leher Rose. tangan nakalnya sambil meremas buah dada yang kenyal dan juga menghisapnya.


Setelah beberapa saat kemudian Leo menghentikan aksinya setelah mencapai kenikmatan berulang kali.


Rose tertidur karena kewalahan melayani calon suaminya itu. Leo mengecup dahinya dan mengeluarkan pusakanya. kemudian Leo langsung menuju ke kamar mandi dan membersihkan badannya yang penuh dengan keringat.


Setelah selesai mandi Leo keluar dari kamar mandi dengan memakai kimono jubah dan melangkah ke kasur. ia mengambil cincin permata dari jas yang dia kenakan tadi dan menyarungkan ke jari manis calon istrinya.


"Semoga mimpi indah, Istriku," ucap Leo yang mengecup dahi Rose.


Keesokan harinya.


Rose yang baru bangun dan membuka matanya mendapati ia tidur di dalam pelukan Leo.


"Semalam aku ketiduran? berapa lama dia melakukannya? kenapa pinggangku sakit sekali," batin Rose.


Saat Rose yang ingin bangkit ia mendapati ada cincin permata yang melingkar jari manisnya.


"Cincin ini...apakah pemberiannya?" batin Rose.


"Apakah dia serius ingin melamarku?" batinnya


Rose menatap cincin itu selama beberapa saat dan merasa tidak percaya bahwa dirinya mendapatkan cincin dari pria yang baru dia kenal tidak lama.


"Selamat pagi," ucap Leo yang mencium wajah calon istrinya.


"Cincin ini?"tanya Rose yang menoleh ke samping.


"Ini adalah cincin lamaranku, itu tandanya kau sudah menjadi istriku, dan untuk seterusnya kita akan menikah. aku akan mengadakan pesta untukmu," jawab Leo.


"Jangan pesta lagi! aku sudah pernah menikah," kata Rose.


"Pernikahan itu bukan penikahan yang seharusnya, jadi tidak masalah. sama sepertiku, aku juga sudah menikah dan bahkan ada pesta. dan kali ini aku ingin mengadakan pesta besar dan mewah untukmu. karena kamu layak mendapatkannya," ucap Leo dengan mencium wajah istrinya.

__ADS_1


"Apa kau serius ingin menjadikan ku sebagai istrimu?"


"Tentu saja, apa kamu mengira aku hanya bermain denganmu? aku bukan tipe pria yang suka bersenang-senang dengan wanita. aku telah memilih mu dan kau bertanggung jawab menjadi istriku," jawab Leo dengan senyum.


"Bagaimana hubungan mu dengan Jenice? apakah kalian sudah resmi bercerai?"


"Aku sudah tanda tangan surat penceraian, dan itu artinya adalah aku bukan suami dia lagi atau sebaliknya," jawab Leo.


"Dan bagaimana dengan Mancy? apa kau yakin dia bisa menerimanya?"


"Dia hanya adik angkatku saja, yang selamanya tidak ada hubungan lain. aku juga tidak berhutang lagi padanya. hutang budi ku pada orang tuanya sudah ku lunaskan," jelas Leo.


"Hutang budi? apa aku boleh tahu apa yang orang tuanya lakukan untukmu sehingga kau rela menikahi Jenice?"


"Di saat aku berusia lima belas tahun aku kehilangan orang tua, aku adalah anak yatim piatu, mereka meninggal karena kecelakaan, kami pergi jalan-jalan dengan hati yang sangat gembira. saat itu aku duduk di belakang. papa ku menyetir mobil dan tiba-tiba saja mobil kami di tabrak dari samping oleh truk minyak. mobil kami terhempas jauh. ke dua orang tua ku langsung meninggal tanpa pesan terakhir untukku," ungkap Leo yang mengingat masa lalu.


Flashback On.


"Papa.....Mama....," teriakan seorang anak laki-laki yang di dalam mobil yang tak lain adalah Leo. posisi mobilnya dalam keadaan terbalik.


"Papa, bangun...."teriak Leo dengan histeris.


"Jangan tinggalkan aku! cepat bangun! jangan tinggalkan aku! aku berjanji pada kalian akan menjadi orang yang kuat dan tidak mudah di tindas," teriak Leo yang juga terluka di kepalanya akibat benturan kuat di kepalanya mengenai kaca jendela.


Leo yang tidak merasa apa-apa dari sejak kecil, luka itu tidak membuatnya kesakitan..


Leo berulang kali berusaha membangunkan orang tuanya yang telah meninggal dunia.


Kemudian Leo berusaha membuka pintu mobil yang telah rusak itu dan sangat sulit di buka. Leo berkali-kali menendang pintu tersebut.


Brak...


Brak...


Brak...


Brak...


"Aaarrgghh...," teriakan Leo yang sedang histeris dan sambil menendang pintu mobil berkali-kali sehingga kakinya mengeluarkan darah.

__ADS_1


Brak...


Brak...


Brak...


Setelah mencoba beberapa kali akhirnya pintu pun terbuka, Leo pun merangkak keluar dan membuka pintu bagian depan. ia kesulitan untuk membukanya karena pintu yang telah rusak total akibat hentakan yang kuat.


"Mama, bangun! cepat bangun. jangan tidur lagi!" teriak Leo yang memecahkan kaca mobilnya sehingga tangannya terluka.


Ia berusaha menarik ibunya yang telah meninggal itu.


"Aaarrgghhh....bangun...jangan tinggalkan aku!" teriak Leo yang berusaha menarik ibunya. akan tetapi kaki ibunya terhimpit sehingga Leo tidak kuat untuk menariknya keluar.


Ia tidak putus asa dan berusaha berulang kali. kemudian mencoba ingin menarik ayahnya itu.


"Pa, cepat sadar! jangan pejam matamu. papa sudah berjanji akan membawa kami liburan ke korea. cepat bangun dan bawa kami ke sana!" teriak Leo dengan histeris sambil menarik ayahnya dalam posisi terbalik.


Tidak lama kemudian tangki minyak bocor, pejalan kaki yang melihat kondisi Leo yang dalam bahaya mereka pun langsung menghampirinya dan menarik dia menjauh dari sana.


"Singkirkan tangan kalian!" teriak Leo yang berusaha meronta karena di tarik oleh empat pria pejalan kaki di sana.


"Jangan berada di sana lagi! orang tua mu sudah pergi. kau harus merelakannya. mobil itu akan meledak," ucap salah satu pejalan kaki yang menahan Leo.


"Tidak mungkin, papa dan mamaku hanya tidur saja. mereka mengantuk karena melakukan perjalanan jauh," teriak Leo yang sedang menangis dan ingin melangkah menuju ke arah mobil itu yang sudah mulai terbakar. empat pria itu langsung menahannya.


"Lepaskan aku!" bentak Leo yang melawan mereka berempat. wajah Leo berlumuran darah dan sambil melawan mereka berempat, ia menangis dengan sangat histeris.


Api semakin besar dan tidak lama kemudian terjadi ledakan di mobil itu.


Duar...duar....duar...


"Tidaaaak......," teriak Leo yang ingin berlari ke arah mobil itu.


"Papa...Mama.....," teriak Leo yang histeris saat melihat tubuh orang tuanya di lalap api.


Leo meronta berusaha melepaskan pegangan mereka akan tetapi dia gagal melakukannya, mereka yang melihat Leo melawan lalu menekan ke jalan aspal itu.


"Papa....Mama....," tangisan Leo yang menangis tanpa berhenti. rasa sakit di hatinya tidak bisa di jelaskan lagi, ia meningat canda tawa orang tuanya semasa hidup. banyak kenangan indah muncul di pikirannya sehingga membuatnya semakin terluka. ia berteriak selama beberapa menit sambil melihat ayah dan ibu tercintanya di bakar menjadi abu.

__ADS_1


"Aaarrrgghh," teriakan Leo dengan nada tinggi


__ADS_2