Ranjang Psikopat Dalam Penjara

Ranjang Psikopat Dalam Penjara
Terluka Parah


__ADS_3

Sisa pembunuh 10, 13, 14 dan 15. yang maju bersama.


Pembunuh 10 menikam pundak sebelah kiri Leo.


Srek...


Sementara pembunuh 13 menikam pundak sebelah kanan Leo.


Srek...


Pembunuh 14 dan 15 berniat menyerang wajah lawannya, dua tangan Leo langsung menahan senjata tajam itu sehingga mengeluarkan darah dan menetes ke atas tanah.


Luka beberapa tikaman yang di tubuhnya tidak membuatnya merasa sakit. tentu saja sangat mengherankan bagi semua orang yang di sana.


"Hanya ini yang kalian bisa? menyerang di saat lawan kalian sedang lemah, julukan pembunuh profesional sangat tidak sesuai untuk kalian,"kata Leo dengan menghina.


"Nama yang sesuai untuk kalian adalah pembunuh pengecut," ketus Leo yang menampar wajah mereka berempat.


Plak...


"Aarrghh...."


Plak...


"Aarrghh...."


Plak...


"Aarrghh...."


Plak...


"Aarrghh...."


Tamparan kuat dari Leo menjatuhkan mereka berempat.


Setelah mereka tumbang dan kesakitan pada wajah mereka, Leo dengan santainya mencabut dua pisau tajam yang menancap di pundaknya.


Pembunuh yang masih hidup merasa heran dengan lawannya, beberapa tikaman tidak bisa mengalahkan lawannya itu. bukan hanya tidak kalah tapi juga tidak merasa apa-apa walau terkena banyak tikaman.


"Apa kalian masih ingin membunuhku? mari berdirilah dan tikam aku lagi!" kata Leo dengan menantang mereka.


Mereka berempat berdiri dan menyerang Leo secara bersamaan.


"Hiaaakkk...." teriak mereka berempat yang sama-sama maju menyerang Leo.


Leo mengcengkeram leher pembunuh 10 dan 13 dan langsung mematahkan leher mereka.


Krek...


Krek...


Dua pembunuh itu tewas langsung, dan kini sisa pembunuh 1, 3, 14 dan 15 yang masih hidup. pembunuh 1 dan 3 yang tadinya terluka di tangan, kini mereka ingin menyerang Leo bersama dengan pembunuh 14 dan 15.


Leo mengambil pisau menikam mereka berempat.


Srek...


Tikaman dari Leo yang mengenai jantung pembunuh 14.


"Aarrgghh....," jeritan pembunuh 14 yang sesaat kemudian tergeletak tidak bernyawa.

__ADS_1


Srek...


Tikaman dari Leo yang menancap ke bagian perut pembunuh 15.


"Aarrgghh....," jerit pembunuh 15 yang kemudian tewas.


Srek...srek...


Dua tikaman dari Leo yang mengenai jantung pembunuh 1.


"Aaugghh," jeritan pembunuh 1 yang merasa sakit sehingga muntah darah.


"Mari serang aku lagi!" kata Leo yang menatap tajam ke arah pembunuh 3.


"Leo Downson, apakah kau bukan manusia? sudah banyak luka di tubuhmu, tapi kau masih saja tidak merasa sakit," kata pembunuh 3 yang merasa heran.


"Tidak ada gunanya kau menikamku, semua tubuhku ini seperti daging yang sudah mati," jawab Leo dengan senyum dan melangkah mendekati pria itu


"Kau datang untuk mengambil nyawaku, mari sini dan lakukan lagi!"


"Kau bukan manusia," ketus pembunuh 3 yang menebas wajah Leo.


Srek..


"Kau sangat lemah sebagai pembunuh," ketus Leo yang mencakar wajah pembunuh 3.


Srek...


Tiga cakaran dari Leo merobek kulit wajah pria itu


"Aarrghh...." teriakannya yang sedang kesakitan pada wajahnya.


Srek....srek...


Dua tikaman menembus leher lawannya sehingga mengeluarkan darah yang banyak.


"Aarrghhhh....," jerit pembunuh 3 yang kemudian tewas dengan mengenaskan.


"Tidak berguna," ketus Leo yang melangkah masuk ke dalam.


Tahanan dan para petugas yang melihat luka yang di alami oleh Leo mereka merasa aneh dan terdiam. tidak ada keluhan sakit dari seorang Devil yang mereka kenal. mereka mengikuti Leo dari belakang karena merasa penasaran.


Leo melepaskan bajunya dan sambil berjalan ke ruang rawat yang di dalam penjara itu.


Tubuhnya terlihat sangat jelas dengan luka-luka di bagian dada, pundak kiri kanan, bagian perut serta bagian punggung. semua luka mengeluarkan darah hingga ke seluruh tubuhnya.


Leo mengambil jarum dan ingin menjahit lukanya sendiri.


"Biarkan aku membantumu!" kata dokter yang baru melangkah masuk ke ruangan itu.


"Tidak usah," jawab Leo yang mulai menjahit luka di bagian dadanya.


"Kau belum suntik bius," ujar Dokter yang merasa heran.


"Bius tidak berguna bagiku," jawab Leo yang sedang sibuk dengan tangannya.


Sementara tahanan dan petugas yang berdiri di luar sana sedang melihat dengan matanya yang tanpa berkedip.


"Apa dia bukan manusia?"tanya tahanan A.


"Tidak tahu," jawab tahanan C.

__ADS_1


"Kenapa dia tidak merasa sakit saat di tikam berkali-kali?" tanya tahanan D.


"Tidak tahu," jawab tahanan C.


"Aku malah merasa dia seperti Devil yang sesuai dengan namanya. lihatlah dia menjahit luka sendiri tanpa bius. apakah ini masih normal untuk seorang manusia?" tanya tahanan B.


"Tidak tahu," jawab tahanan C.


Leo menjahit luka sendiri dan tanpa merasa apapun pada tubuhnya.


Dokter itu pertama kali melihat seorang pasien menjahit luka sendiri dengan tanpa bius.


"Apa perlu aku membantu menjahit lukamu?" tanya Dokter itu.


"Keluar!" perintah Leo yang sedang menjahit luka bagian perutnya.


Karena merasa takut dokter itu langsung melangkah keluar.


"Apa kalian belum puas melihatku?" tanya Leo yang melihat ke arah mereka yang sedang berdiri di luar.


Karena takut dengan tatapan Leo mereka langsung pergi meninggalkan tempat itu.


Kini Leo hanya bersendirian menjahit lukanya, dan tidak lama kemudian Ric melangkah masuk ke dalam. karena melihat banyak luka di tubuh bosnya, Ric merasa sangat khawatir.


"Bos, apa Anda baik-baik saja?"


"Hari ini sangat buruk, penyakitku kambuh dan aku harus bertarung dengan lima belas pembunuh," kata Leo.


"Maafkan aku, ini salahku karena datang terlambat," ucap Ric dengan menunduk.


"Bukan salahmu, Sandez memang sengaja ingin membunuhku selagi aku masih di dalam penjara," ujar Leo.


"Dia sangat keterlaluan, apa kita tidak bertindak?"


"Setelah aku keluar aku harus ke itali untuk menemui dokter, kondisiku semakin parah dan hari ini aku sudah merasakan lemah pada tubuhku. jika bukan karena aku tidak bisa merasa sakit maka aku pasti sudah mati, mereka muncul di waktu yang tidak tepat," jelas Leo.


"Bos, biar aku menjahit lukamu!"


"Jahit bagian punggungku!"


"Baik, Bos," jawab Ric.


"Apa nona Rose mengetahui penyakit Anda?"


"Dia tidak perlu tahu, aku tidak tahu apakah penyakitku bisa sembuh atau tidak," jawab Leo.


"Bos, apakah bos serius dengan nona Rose?"


"Aku serius ingin bersamanya, hanya saja, apakah kondisiku ini bisa bertahan lama atau tidak," jawab Leo.


"Dokter itali itu sangat bagus dan terkenal, mungkin saja dia bisa menyembuhkan penyakit Anda," kata Ric.


"Selama beberapa tahun ini sudah berapa dokter yang ku cari, tapi tidak ada yang mampu menyembuhkan ku. aku bahkan sudah serahkan nasibku pada takdir," ucap Leo.


"Bos pasti bisa sembuh," kata Ric yang sedang menjahit luka di bagian punggung Leo.


Beberapa minggu kemudian.


"Dua hari lagi kau akan bebas, apa kau akan membantuku keluar dari sini atau meringankan hukuman untukku?" tanya Rose yang duduk di ranjang.


"Aku akan membebaskanmu setelah itu kau akan tinggal bersamaku untuk selamanya,"jawab Leo dengan senyum.

__ADS_1


__ADS_2