Ranjang Psikopat Dalam Penjara

Ranjang Psikopat Dalam Penjara
Hukuman Untuk Anggota


__ADS_3

"Sonya, masak bubur untuk Rose! nanti kalau dia sudah bangun aku ingin menyuapinya," pinta Leo pada pelayannya itu.


"Baik, Tuan," jawab Sonya.


"Tuan, apa perlu saya panggilkan dokter untuk periksa nyonya?"


"Panggilkan dokter Linna! jangan panggil dokter pria!" perintah Leo dengan tegas.


"Baik Tuan," jawab Sonya dengan menurut.


Leo melangkah menuju ke kamarnya.


Klek.


Pintu kamar di buka oleh Leo, kemudian ia menghampiri istrinya yang sedang tidur.


Leo duduk di tepi kasur sambil menatap istrinya. rasa khawatir melihat wanita yang dia cintai terluka dan berbaring lemah di atas kasur.


"Semua anggota ku tidak berguna, melindungimu saja mereka bisa gagal," ucap Leo dengan suara rendah.


Setelah satu jam kemudian Leo melangkah keluar dari kamarnya, dan menuju ke ruangan kerja sebelah yang telah di tunggu oleh beberapa anggotanya yang melindungi Rose.


"Bos, maaf. ini salahku. hari ini aku tidak melindungi nyonya dengan baik," ucap anggota Leo dengan serentak.


Plak...plak...plak...plak...plak...plak...


Tamparan yang di lakukan oleh Leo yang mengenai wajah semua anggotanya.


"Aku percayakan istriku pada kalian, tapi apa hasilnya? di saat Rose dalam bahaya kenapa kalian tidak ada?" tanya Leo dengan nada tinggi.


"Bos, kami akan menerima hukuman," ucap mereka dengan serentak dan sambil menunduk.


"Pergi lari di luar sana, keliling rumah ini sebanyak dua ratus kali!" perintah Leo dengan kesal.


"Baik, Bos," jawab Mereka dengan serentak.


Dengan perintah Leo semua anggota yang melindungi Rose keluar menjalani hukuman mereka, tempat tinggal Leo sangat luas, mereka harus berlari sebanyak dua ratus putaran di luar sana.


Setelah beberapa menit kemudian dokter Linna datang memeriksa kondisi Rose yang masih belum bangun.


"Bagaimana dengan kondisi istriku?".


"Untung saja lukanya tidak begitu dalam sehingga kau masih bisa tangani sendiri," jawab Linna sambil memeriksa luka jahitan pasiennya


"Dia mengunakan tangannya menahan pisau itu, dengan begitu tikaman itu tidak begitu dalam," ujar Leo yang berdiri di ujung kasur.


"Istrimu harus banyak istirahat dan jangan bergerak."


"Tanpa pesanmu aku juga tahu," jawab Leo.


"Leo, apa kamu tidak berencana membawanya ke rumah sakit?"


"Tidak, aku memiliki banyak musuh, banyak yang sudah tahu aku telah menikah, jadi aku tidak mau istriku menjadi sasaran mereka."

__ADS_1


"Kenapa tadi kau tidak menghubungiku?"


"Dokter seperti kalian hanya akan membahayakan nyawa istriku, dia sedang kritis mana mungkin bisa menunggumu datang ke sini," jawab Leo dengan berterus terang.


"Aku tahu kau sangat ahli dalam menjahit tapi untuk dirimu, sedangkan Rose beda denganmu, andaikan kau salah menjahit maka fatal akibatnya."


"Kau adalah dokter yang pintar mengoceh, lihat saja jahitanku sama dengan kalian. walau aku bukan dokter aku juga bisa menjahit, selama ini ketika aku terluka tidak butuh dokter seperti kalian yang menjahit lukaku," ketus Leo.


"Iya, iya, kau sangat hebat. aku malas berdebat denganmu, kau selalu saja keras kepala."


"Cepat berikan obatmu untuk istriku, setelah itu kau boleh pergi!"


"Tenang saja aku hampir selesai,"jawab Linna dengan sambil sibuk dengan tangannya.


"Aku akan mengirim obat ke sini, kau tenang saja," ujar Linna.


"Aarghh..," rintihan Rose yang baru sadar.


"Rose, apa kamu merasa sakit?" tanya Leo yang menghampiri istrinya.


"Iya," jawab Rose yang memejamkan matanya.


"Cepat berikan obat pereda sakit!"titah Leo pada Linna.


"Aku akan menyuntiknya dulu," jawab Linna yang mengeluarkan jarum suntikan dari tasnya.


"Aku akan menyuruh Emil untuk menjemput obat di rumah sakit."


"Aku akan menhubungi suster untuk menyediakan obatnya nanti," ujar Linna yang sedang menyuntik pinggang Rose.


"Rose, apa kamu masih sakit?" tanya Leo yang merasa khawatir.


"Sudah mendingan," jawab Rose yang membuka matanya dan melihat Leo yang berada di sampingnya.


"Hai, Rose. aku adalah Linna," sapanya dengan ramah.


"Hai, Dokter Linna. terima kasih sudah datang," balas ucapan Rose dengan senyum.


"Sama-sama, aku tidak berani tidak datang karena aku tidak mau rumah sakit menjadi korban ledakan dari Leo," jawab Linna dengan sengaja menyindir pria itu.


"Kau sudah boleh pergi!" ketus Leo pada wanita itu.


"Kau ini sangat tidak punya hati nurani, saat istrimu sudah sadar kau malah mengusirku begitu saja,"kata Linna yang sudah tidak heran dengan sikap temannya itu.


"Jangan banyak bicara! istriku sedang istirahat!"


"Leo, jangan begitu kasar!" ucap Rose.


"Tidak apa-apa, sudah biasa. suami mu ini akan kasar pada setiap orang. dia hanya bersikap lembut terhadapmu,"kata Linna dengan senyum


"Aku pergi dulu, semoga cepat sembuh," ucap Linna dengan senyum ramah pada Rose


"Terima kasih banyak, Dokter Linna," ucap Rose dengan senyum.

__ADS_1


"Sama-sama."


Sesaat kemudian Linna pergi meninggalkan kediaman Leo.


"Rose, jangan banyak bergerak dulu! bagaimana lukamu?" tanya Leo yang menyentuh wajah istrinya


"Tidak sakit lagi setelah suntikan dari dokter Linna."


"Baguslah, maaf. ini kesalahanku tidak melindungimu dengan baik."


"Bukan salahmu, tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi."


"Aku harus melindungimu dengan lebih ketat, agar tidak terulang lagi," ucap Leo yang mengecup dahi istrinya.


"Leo, di mana Jenice?"


"Dia sudah pulang."


"Pulang?"


"Iya, aku sudah menyuruh Kian mengantarnya pulang."


"Apa yang kamu lakukan padanya? tidak mungkin, kan kau lepaskan dia begitu saja?" tanya Rose yang sudah memahami suaminya itu.


"Jangan membahas dia lagi! apapun yang ku lakukan terhadapnya itu pantas dia terima," kata Leo.


"Aku yakin dia pasti sudah meninggal."


"Dia harus menanggung akibatnya karena menyakitimu, sayang," ucap Leo yang mencium bibir istrinya.


"Jangan bahas dia lagi ya! apa kamu sudah lapar?"tanya Leo dengan senyum.


"Belum, aku masih mau berbaring sebentar."


"Aku akan menemanimu," kata Leo yang berbaring di samping istrinya.


"Leo, besok kau akan pergi ke meksiko?" tanya Rose yang menoleh ke samping.


"Aku tidak akan pergi, aku ingin menunggu lukamu sembuh baru berangkat, kita akan pergi bersama."


"Bukankah ada yang menganggu bisnismu? jangan di tunda lagi!"


"Di sana ada yang menanganinya, jadi tidak ada masalah, jangan khawatir!"


"Jangan menunda kerja mu karena aku, aku tidak ingin menganggu kerjamu, lagi pula penyembuhan pasti memakan waktu yang lama. aku tidak akan bisa ikut kau pergi. kau bisa pergi sendiri."


"Istriku dalam kondisi seperti ini mana mungkin aku bisa pergi dengan tenang."


"Lukaku juga tidak dalam, dan tidak begitu parah," kata Rose yang melihat tangannya dibalut perban.


" Perutmu dan tanganmu terluka dan aku ingin merawatmu selama proses penyembuhan,"kata Leo yang berbaring sambil memeluk istrinya.


"Aku mengira aku akan mati."

__ADS_1


"Kau akan hidup lama bersamaku dan tidak boleh cepat mati, apa kau tahu?" ujar Leo yang menyubit hidung mancung istrinya.


__ADS_2