Ranjang Psikopat Dalam Penjara

Ranjang Psikopat Dalam Penjara
Menolak Bercerai


__ADS_3

Mansion Leo.


Kian mendatangi rumah Leo atas perintah dari bosnya.


"Bos," sapa Kian yang berdiri di belakang Leo.


"Hm...lusa kita harus berangkat, kelompok brengs*k itu menganggu bisnis kita. dan mereka juga menangkap Ana untuk mengamcamku," ujar Leo yang sedang menikmati whiskey.


"Apakah Alord tidak mengambil tindakan? putrinya di tangkap kenapa dia tidak bertindak?" tanya Kian.


"Pihak musuh kita ingin aku yang keluar dan aku harus pergi! selain itu aku juga ingin bertemu orang itu," jawab Leo.


"Kenapa mereka ingin mengunakan putri Alord untuk mengancam bos?"


"Mungkin karena hubungan ku dengan Alord yang bisa di katakan cukup akrab. dan aku juga yakin sudah banyak pihak yang tahu kalau Alord ingin menikahkan putrinya kepadaku," jawab Leo.


"Semua ini demi kekuasaan saja, Alord tidak bodoh, pernikahan ini hanya demi dirinya sendiri," ujar Kian.


"Aku bisa membaca pikiran si tua itu, semoga saja putrinya tidak mati di tangan kelompok brengs*k itu," kata Leo.


"Tuan," panggil Emil yang baru melangkah masuk.


"Ada apa?" tanya Leo yang menoleh ke arah asistennya.


"Tuan, Herles Muffis baru pulang ke rumahnya hari ini," jawab Emil.


"Hubungi Mick! besok kita akan ke rumahnya, aku ingin mengugat cerai wanita itu. sudah waktunya," perintah Leo.


"Baik, Tuan," jawab Emil.


"Kian, hubungi anggota kita yang di itali sana! untuk siapkan senjata setelah aku tiba kita langsung serang tanpa basa basi," perintah Leo.


"Baik, Bos," jawab Kian.

__ADS_1


Keesokan harinya.


Mansion Muffis.


Siang itu Leo bersama Mick yang adalah pengacara pribadinya dan juga Emil mendatangi tempat tinggal Herles.


Leo duduk di sofa berhadapan dengan Herles dan istrinya, sementara Mick mengeluarkan surat gugat cerai dan meletakan di depan meja Herles.


Jenice yang melihat surat itu merasa sedih dan bercampur kecewa.


"Leo, apakah kau sudah nekad melakukan ini?" tanya Jenice yang matanya berkaca-kaca.


"Benar, ini adalah keputusanku. kau tinggal tanda tangan saja," jawab Leo sambil menghisap rokoknya.


"Leo, keinginanmu sudah tercapai, dan kini kau ingin tinggalkan Jenice setelah bisnisku hancur," ucap Herles yang merasa kecewa.


"Herles Muffis, aku sudah katakan apa alasan ku menikahi putrimu, dan sekarang aku sudah puas bermain dengan putrimu, jangan basa basi lagi. segera tanda tangan!" kata Leo dengan ketus.


"Leo, apa kau harus begitu kejam terhadapku? sehingga tidak memikirkan bahwa kita telah menjadi suami istri selama sepuluh tahun?"


"Aku tidak akan tanda tangan!" jawab Jenice mengambil surat itu dan melemparkan ke arah Leo.


"Kau tidak ingin tanda tangan juga tidak apa-apa, lagi pula bagiku kau sudah bukan istriku. kau masih ingin memaksak sesuatu yang tidak mungkin, ini sama saja kau membuat dirimu semakin terjerumus," ucap Leo yang bangkit dari tempat duduknya.


"Jenice Muffis, lebih baik kau pikir baik-baik! aku tidak akan menganggapmu sebagai istriku, kau hanya akan menjadi seorang badut jika kau tidak ingin melepaskan ikatan yang palsu ini. Jenice Muffis, kau sedang menyiksa dirimu sendiri," ketus Leo yang melempar surat penceraian yang telah di tanda tangan itu ke wajah istrinya.


"Jenice, tanda tangan! jangan menolak lagi!"bentak Herles yang bangkit dari tempat duduknya.


"Papa, aku...."


"Apa kita masih tidak cukup susah? dari awal dia hanya membohongi kita, apa lagi yang kau inginkan? kita sudah di ujung tanduk dan jangan sampai ada hubungan dengan dia lagi!" kata Herles yang sambil menahan emosi.


"Leo, apa kau tidak merasa menyesal?"tanya Jenice yang menoleh ke arah suaminya itu.

__ADS_1


"Untuk apa aku menyesal? aku tidak ingin ada hubungan dengan kalian sama sekali, surat ini sudah ku tanda tangan, dan kita sudah bercerai. jika saja kau masih menolak tanda tangan ini adalah urusanmu," ketus Leo yang kemudian melangkah pergi dengan diikuti oleh Emil.


"Nona Muffis, setuju atau tidak, tuan Downson tetap sudah menceraikan Anda," ucap Mick pada Jenice.


"Dia ingin menceraikan ku dengan begitu saja? maka dia harus bayar ganti rugi, aku sudah membuang waktuku selama sepuluh tahun bersamanya," kata Jenice dengan tegas.


"Kami tahu Anda pasti akan meminta ganti rugi, ambil ini dan menontonlah sampai habis! setelah itu Anda baru pertimbangkan dengan baik, apakah Anda masih mau minta ganti rugi atau tidak," kata Mick dengan menyerahkan sebuah kaset dvd kepada Jenice.


Sesaat kemudian Mick melangkah pergi.


"Jenice, kaset apa yang dia berikan?" tanya Herles.


"Aku akan membukanya," jawab Jenice yang memasukan kaset itu ke Dvd miliknya.


Saat Herles dan Jenice menonton isi rekaman itu mereka membulatkan mata besarnya.


"Jenice....kenapa bisa seperti ini?" tanya Herles dengan nada ketus.


"Pa, aku...." ucap Jenice yang terhenti karena di tampar oleh ayahnya.


Plak...


"Aarrghhh...."


"Memalukan, sangat memalukan sekali, apa kau tahu kenapa Leo menyerahkan kaset ini? tujuannya untuk mengancam kita, kalau kau menolak tanda tangan maka dia akan sebarkan rekaman ini. dan di saat itu nama kita semakin hancur. kau melakukan hubungan dengan pria lain dan bisa di ketahui oleh dia. katakan sudah berapa lama?" tanya Herles dengan penuh emosi.


"Tiga tahun," jawab Jenice yang menyentuh wajah bekas tamparan ayahnya.


"Saat dia di dalam penjara dia bisa mengetahui semuanya, ini membuktikan jika selama ini dia mencari kesalahanmu. kenapa kau bisa begitu lalai? ternyata Tommy Florencia bukanlah pria ke dua yang bersamamu," bentak Herles yang merasa kesal.


"Aku merasa kesepian, dia menjauh dariku selama ini. pernikahan ini tidak berarti apa-apa baginya. tapi sangat berarti bagiku," jawab Jenice dengan sambil menangis.


"Kau merusakan dirimu sendiri karena seorang pria yang tidak mencintaimu. apa kau tidak merasa rugi? kenapa kau bisa begitu bodoh sekali? dan apa manfaatnya kau melakukan semua ini? apakah dia kembali padamu? apakah dia merasa cemburu? apakah dia mencintaimu? semuanya tidak, Jenice. dia tidak peduli sama sekali denganmu. apapun yang kau lakukan dia tidak peduli sama sekali," kata Herles sambil mengelus dadanya.

__ADS_1


"Pa, aku sangat mencintainya sehingga tidak ingin kehilangan dia, dia begitu mudah dan tega untuk menceraikan ku. apakah aku begitu tidak berarti baginya? kenapa bisa begini? apa salahku mencintainya? apa salahku? kenapa harus begitu kejam hanya karena dendamnya? bagaimana denganku, kenapa dia sama sekali tidak memikirkan perasaan ku? selama ini aku tidak menyinggungnya, aku malah menunggunya selama sepuluh tahun. apakah aku tidak cukup baik?"kata Jenice sambil menangis dengan histeris.


__ADS_2