Ranjang Psikopat Dalam Penjara

Ranjang Psikopat Dalam Penjara
Ancaman Untuk Rose


__ADS_3

"Rose, siapa yang menghubungimu? ada apa dengan kakakmu?" tanya Leo yang merasa penasaran.


"Tidak tahu siapa yang di sana, dia mengatakan jika keluargaku bersama mereka, dan ingin aku keluar bertemu dengan dia. kalau tidak, maka keluarga Florencia akan mati," jawab Rose dengan santai dan duduk di sofa.


"Apa kau tidak peduli pada mereka?"


"Untuk apa aku peduli? namaku juga sudah bukan Florencia, seharusnya dari awal sudah bukan. di saat mereka menjual ku kepada keluarga Hamilton,di saat itu aku sudah bukan bagian dari keluarga itu. jadi untuk apa aku harus peduli?"


"Rose, apa kau tidak merasa penasaran siapa yang ingin mengancammu? dan apa tujuannya?" tanya Leo yang duduk di samping Rose.


"Aku bisa menebaknya, kalau bukan Edward Hamilton siapa lagi yang akan melakukan itu?"


"Apa kau memang membiarkan keluargamu begitu saja?"


"Edward Hamilton ingin membalas dendam terhadapku, tidak ada gunanya jika mereka melukai keluarga itu."


Tidak lama kemudian nada panggilan masuk ke handphone milik Rose. Rose yang melihat nama panggilan telah mengetahui apa niat orang yang menghubunginya itu.


"Kalau tidak ada masalah maka dia tidak akan ingat padaku," ujar Rose yang menunjukan nama yang menghubunginya itu.


"Ada apa?" tanya Rose yang menjawab panggilan tersebut.


"Rose, kau telah menyinggung orang, cepat datang selamatkan kami!" kata Claudia yang di tahan oleh mereka.


"Hahahahah...Nyonya Florencia, apa kau tidak salah? jangan lupa ya kalian sudah menjual ku kepada Edward Hamilton, dan di saat itu juga kita sudah tidak ada hubungan apa-apa, jadi jangan melibatkan aku lagi!" ketus Rose yang merasa kesal.


"Rose, jangan keterlaluan! semua ini terjadi karena kamu juga, kau harus selamatkan kami!"


"Apa kau sedang memohon padaku?atau memerintahku?" tanya Rose dengan sengaja.


"Jangan keterlaluan!"


"Bukankah kalian sangat berani? kenapa malah berubah menjadi penakut?" tanya Rose dengan menyindir.


"Rose Florencia...."


"Namaku adalah Rose Downson, bukan Rose Florencia," jawab Rose dengan ketus.

__ADS_1


"Hallo, jangan main-main! keluargamu ada di tanganku sekarang, datang ke sini jika kau masih sayangkan nyawa mereka," bentak pria yang di seberang sana.


"Terserah kalian mau lakukan apa saja, mereka tidak ada hubungan denganku sama sekali," jawab Rose dengan sengaja.


"Kalau kalian butuh uang jual saja mereka, mereka ada tiga orang. dua yang tua itu kalian bisa jual mereka untuk melakukan kerja kebun atau di mana pun, sedangkan yang muda kalian bisa jual ginjalnya. atau tidak kalian juga bisa serahkan kepada nyonya Hamilton untuk dijadikan suami baru," kata Rose dengan bersikap santai.


"Rose Florencia, apa kau tidak peduli pada nyawa keluargamu? jangan menyesal jika kami membunuhnya!"


"Silakan saja! tidak perlu melapor padaku," jawab Rose yang memutuskan panggilannya.


Prok...prok....prok...


Tepukan tangan yang di lakukan oleh Leo.


"Kenapa kau tepuk tangan?"


"Aku merasa kagum padamu yang cukup tegas ini, kau bisa langsung mengabaikan mereka yang pernah menyulitkan hidupmu," kata Leo dengan senyum.


"Kalau aku peduli lagi pada mereka, mereka bukan hanya tidak berterima kasih padaku, tapi juga akan mengorbankan ku lagi. jika aku pergi maka tidak akan bisa pulang lagi," ujar Rose yang menoleh ke calon suaminya itu.


Sementara keluarga Florencia yang di tahan di sebuah gudang dan di ikat di kursi tidak bisa melawan sama sekali. anggota suruhan Edward menjaga mereka dengan ketat.


"Lepaskan kami! lepaskan kami! jika ada apa-apa cari saja Rose Florencia, dia tidak ada hubungan dengan kami," bentak Tommy dengan nada kesal.


"Kami tidak mengenalmu, kenapa kau bersikap seperti ini pada kami? apa salah kami? kami juga tidak ada uang," tanya Kian yang duduk di kursi dan terikat.


"Kalian tidak perlu banyak bicara! tuan Hamilton ingin kami menangkap kalian, jadi walau kalian melawan juga tidak berguna," ketus pria yang menculik mereka.


"Tuan Hamilton kenapa ingin menangkap kami? kami adalah besannya, tidak mungkin dia ingin menangkap kami," kata Claudia yang merasa tidak percaya.


"Percaya atau tidak adalah urusan kalian, siapa yang menyuruh putri kalian menyinggungnya," ketus penculik itu.


Tidak lama kemudian Edward Hamilton mendatangi gudang itu.


"Sekeluarga yang tidak berguna," bentak Edward yang melangkah masuk ke dalam gudang itu.


"Edward Hamilton, kenapa kau melakukan ini pada kami?" tanya Kian dengan nada kesal.

__ADS_1


"Kita adalah sekeluarga, kenapa kalian malah mengikat kami di sini?" tanya Claudia.


"Kalau ada masalah seharusnya kau menjumpai wanita itu, dan bukan melibatkan kami," ketus Tommy.


"Rose Florencia telah mengambil hal yang terpenting bagiku," ketus Edward dengan nada emosi.


"Aku tahu yang kamu maksudkan adalah Lucas, tapi kami tidak mengetahui apa-apa mengenai itu," jawab Claudia.


"Dia tidak seharusnya membunuh Lucas, aku juga tahu ini salah dia," kata Kian.


"Dia bukan hanya telah membunuh putra semata wayangku, dia juga sudah membunuh cucuku satu-satunya," bentak Edward dengan kesal.


"Cucumu?" tanya Kian dengan merasa heran.


"Putri yang kalian jual kepada kami telah mengugurkan cucu kami, tidak cukup dia membunuh putra kami bahkan cucu kami yang masih tidak mengerti apa-apa juga di bunuhnya," bentak Edward.


"Kalau memang dia pelakunya, seharusnya kau mencarinya dan bukan mencari kami. kami tidak ada hubungan dengan semua ini," ujar Tommy yang berusaha ingin melepas diri.


"Tapi dia adalah ahli keluargamu, kalian ingin lari dari tanggung jawab di saat dia melakukan kesalahan? dia merenggut dua nyawa yang tidak bersalah dan mereka adalah penerusku. apa mungkin aku akan diam saja," bentak Edward dengan kesal.


"Edward, lepaskan kami! dan kami akan membantu mu membawa dia menjumpaimu!" pinta Claudia yang berharap.


"Apa kalian akan membantu dia?"


"Tentu saja tidak, mana mungkin kami membantunya, dari dulu dia paling suka melawan. lepaskan kami dulu dan aku berjanji padamu bahwa kami akan membawanya menjumpai kalian," ucap Claudia yang berusaha menyakinkan Edward.


"Kalian mengira aku adalah anak kecil yang bisa di bohongi? kalian hanya ingin mencari pembelaan saja, aku tidak akan termakan omong kosong kalian," ketus Edward dengan nada tinggi.


"Awasi mereka dengan ketat, jangan lepaskan mereka tanpa perintah dariku!" perintah Edward yang melangkah pergi.


"Edward, Edward, lepaskan kami! kami tidak tahu apapun, kami bisa membawanya menjumpaimu," teriak Claudia.


"Tidak ada gunanya kau berteriak, dia tidak akan melepaskan kita," ujar Kian yang menarik nafas panjang.


"Semua ini karena wanita sia.lan itu, kita ikut terlibat karena dia," ketus Tommy dengan nada kesal.


"Bagaimana caranya agar kita bisa keluar dari sini? wanita itu tidak peduli sama sekali," kata Claudia dengan merasa cemas.

__ADS_1


__ADS_2