Ranjang Psikopat Dalam Penjara

Ranjang Psikopat Dalam Penjara
Membaca Pesanan


__ADS_3

"Leo, cepat sadar! bukalah matamu dan lihatlah aku yang selama ini di sisimu!" ucap Loney yang menyentuh wajah pria itu.


"Rose...," sebut Leo yang masih belum sadar.


"Leo, kau sedang bicara denganku?" tanya Loney yang merasa gembira.


"Rose...."


Loney yang tidak bisa mendengarkan ucapan Leo ia lalu mendekatkan telinganya dengan Leo.


"Rose...,"sebut Leo dengan suara rendah.


Loney yang mendengar sebutan nama wanita dari mulut Leo raut wajahnya langsung berubah.


"Leo, siapa Rose?"


"Rose...," sebut Leo yang tidak sadar


"Apakah dia sudah berada di dalam hatimu? sehingga dalam kondisi tidak sadar kau memanggil namanya," ucap Loney yang merasa kecewa.


Tidak lama kemudian Kian melangkah masuk ke kamar bosnya.


Klek...


"Dokter Loney," sapa Kian yang menghampiri ranjang.


"Kian, siapa Rose?" tanya Loney.


"Dia adalah calon istri bos."


"Calon istri?"


"Benar, kenapa?"


"Kelihatannya Rose sangat penting bagi Leo, di saat dia belum sadar saja masih memanggil namanya," ucap Loney yang merasa sedih.


"Nona Florencia memang sangat penting bagi bos, dan ini juga pertama kalinya aku melihat bos begitu perhatian dengan seorang wanita," kata Kian.


"Bukankah dulu dia juga sangat perhatian terhadap Mancy?"


"Tapi itu hanya sebagai adik dan kakak saja, beda lagi dengan hubungan bos dan nona Florencia," ujar Kian.


"Seorang wanita kaya yang cantik seperti Jenice tidak mampu mencuri hatinya, dan seorang Mancy yang selama di sisinya juga hanya di anggap sebagai adiknya," kata Loney.


"Kian, di mana mereka berkenalan?"


"Maaf, Dokter Loney. ini adalah urusan pribadi bos, aku tidak bisa banyak bicara," ucap Kian.


"Baiklah, aku mengerti. di mana pun mereka bertemu ini bukan yang terpenting lagi. karena yang paling penting adalah Rose bisa mengerakkan hatinya," kata Loney yang menatap ke arah Leo.


Sebulan Kemudian.


Setelah tiga bulan Leo koma dan masih juga belum sadarkan diri, Loney setiap hari memantau kondisi pasiennya itu.

__ADS_1


Selain memberikan obat dari suntikan infus ia juga selalu saja memijat tangan dan kaki Leo. dan selalu saja menemani di samping sambil berbicara dengannya.


"Ini sudah bulan ke tiga, kau masih saja tidak mau sadar. apa kau ingin wanitamu lari dengan pria lain kau baru mau sadar? kata Kian kau tidak ingin dia tahu kalau kau ada penyakit. wanita sangat mudah curiga. kau menghilang begitu saja. andaikan dia tidak sabar menunggumu ataupun dia mencurigaimu ada wanita lain, dia pasti pergi meninggalkan mu," kata Loney yang duduk di samping ranjang.


Setelah beberapa menit kemudian Leo mengerakan jarinya.


Loney yang melihat gerakan pasiennya ia merasa gembira dan langsung memanggil nama Leo.


"Leo, buka matamu! aku tahu kau mendengar suaraku!"


Sesaat kemudian Leo membuka matanya dan melihat ke arah wanita yang sedang duduk di sampingnya.


"Loney..."


"Akhirnya kau sadar setelah koma tiga bulan," kata Loney dengan senyum.


"Tiga bulan? apakah kondisiku parah sehingga aku tidak sadar selama itu?"


"Cukup parah, ini adalah tanda-tanda penyakitmu semakin parah. hanya saja kau masih beruntung karena tidak langsung meninggal," jawab Loney.


Leo bangkit dan duduk dengan bersandar.


"Bagaimana rasanya tubuhmu? apa ada yang tidak nyaman?"


"Hanya merasa lemas."


"Selama tiga bulan kamu tidak sadar pasti merasa lemas."


"Selama ini kau menjagaku?"


"Terima kasih," ucap Leo.


"Aku tidak mau ucap terima kasih, aku ingin kau makan bersamaku. traktir aku makan makanan yang ku suka!"


"Tidak masalah, atur saja waktu dan tempatnya, di mana handphone ku?"


"Kian menyimpannya, dia sangat menjaga privasimu," jawab Loney.


"Dia memang selalu begitu."


"Apakah kau ingin menghubungi dia?"


"Siapa maksudmu?"


"Rose."


"Kau mengenalnya?"


"Tentu saja tidak, selama ini kau selalu saja memanggil namanya. mana mungkin aku tidak dengar."


"Apa dia sangat penting bagimu? sehingga di saat koma saja kau merindukan dia juga," tanya Loney.


"Aku harus pulang, dia sedang menungguku," kata Leo yang ingin turun dari ranjang.

__ADS_1


"Dengan kondisi seperti ini kau ingin pulang? dia akan mencemaskanmu jika melihat kondisimu," ujar Loney yang menahan Leo.


"Hubungi saja dia dan beri kabarmu padanya!" ucap Loney.


"Tolong panggilkan Kian!" pinta Leo yang kembali duduk dengan bersandar.


"Baiklah, aku akan panggilkan dia," jawab Loney yang melangkah keluar menemui pengawal sahabatnya itu.


Setelah beberapa saat kemudian Kian masuk ke dalam kamar.


"Bos, akhirnya kamu sadar," ucap Kian yang menghampiri bosnya.


"Dalam tiga bulan ini apa kamu ada hubungi Sonya?"


"Sudah, Bos. aku sering memgubunginya untuk memastikan kondisi Nona Florencia."


"Bagaimana dengan dia?" tanya Leo.


"Bulan lalu nona Florencia ingin ke itali akan tetapi Sonya mengatakan tidak tahu tempat tinggal Anda, dan Nona Florencia batal datang. hingga kini dia masih tinggal di rumah Anda. hanya saja dia sudah bekerja," jawab Kian


"Bekerja? dia bukannya tidak memiliki uang, kenapa harus bekerja?" tanya Leo yang merasa tidak senang.


"Kata Sonya dia sudah melarang, akan tetapi keinginan nona Florencia tidak bisa dihentikan."


"Setiap dia keluar apakah mereka masih melindunginya?"


"Masih, Bos. mereka melindunginya ke mana pun nona Florencia pergi."


"Aku ingin segera pulang, mana handphoneku?"tanya Leo.


Kian mengeluarkan handphone Leo dan berikan kepada bosnya itu.


"Maaf, Bos. di saat Anda koma aku hanya bisa matikan handphonenya."


"Tidak apa-apa, jika saja aku tidak menjawab panggilannya dia pasti lebih khawatir," jawab Leo yang menghidupkan handphonenya.


Saat handphonenya menyala, banyak pesan masuk di kotak pesannya. nama pengirim yang dia baca adalah Rose, Mancy dan Jenice.


Leo membuka pesan pertama dari Rose.


"Leo, sudah sebulan kenapa kau tidak ada kabar? dan nomormu juga tidak aktif."


Pesan ke dua.


"Leo, apa kamu baik-baik saja? kenapa tidak ada kabar sama sekali, ini sudah dua bulan. apa kamu mengalami kesulitan di sana?"


Pesan ke tiga.


"Leo, baca pesanku! jangan mematikan handphonemu! aku tidak suka jika kau menghilang begitu saja. dan aku juga sudah bekerja. jangan salahkan bibi. aku sendiri yang ingin bekerja karena aku merasa bosan di rumah tanpa melakukan apapun."


Pesan ke empat.


"Leo, sudah tiga bulan dirimu tidak ada kabar, aku semakin merasa kau sedang menghadapi masalah di sana. aku ingin menemuimu akan tetapi aku tidak tahu jalan itali. bibi dan anggota mu yang lain tidak ingin memberitahuku. walau aku bertanya berulang kali mereka hanya diam saja."

__ADS_1


"Maaf, Rose. aku sedang tidak bisa menghubungimu," ucap Leo yang sedang membaca semua pesan dari calon istrinya.


__ADS_2