Ranjang Psikopat Dalam Penjara

Ranjang Psikopat Dalam Penjara
Pertemuan Hinez Dan Rose


__ADS_3

"Ikat dulu lukamu, agar bisa menghentikan darahnya," kata Rose yang melilit dengan mengunakan syalnya dan mengikat bagian luka Leo.


Setelah selesai mengikat mereka pun meninggalkan lokasi itu.


Dalam perjalanan.


"Rose, aku sepertinya melihat mobil ini ada bekas goresan, apakah kamu menabrak orang?"


"Bukan begitu, tapi aku dikejar polisi," jawab Rose yang sedang menyetir.


"Dikejar polisi? apa yang telah terjadi?"


"Aku menerobos lampu merah, dan aku juga mengunakan kecepatan yang tinggi saat menyusulimu," jawab Rose.


"Hm...kelihatannya perjalananmu juga tidak mudah sehingga mampu membuat polisi itu mengejarmu," kata Leo dengan seraya bercanda.


"Jangan bercanda! saat itu aku tidak ada pilihan lain," ujar Rose dengan merasa kesal.


"Rose, aku rasa kita kedatangan tamu lagi," ujar Leo yang melihat ke kaca spion yang terdapat beberapa polisi sedang mengejar mereka.


"Begini saja, aku akan mengantarmu ke rumah sakit, dan kemudian aku akan ikut mereka ke kantor polisi," ucap Rose.


"Tidak bisa, tidak ada yang bisa membawamu pergi ke kantor polisi."


"Lalu, apa kita harus bermain dengan mereka? kau sedang terluka."


"Aku tidak masalah, aku hanya tidak ingin mereka membawamu pergi."


"Biarkan saja mereka membawaku, setelah itu kau bisa menyuruh orang untuk menjaminku," kata Rose.


"Tidak bisa! aku tidak izinkan. kalau ingin ke kantor polisi maka kita akan pergi bersama. jika tidak maka jauhkan saja mereka dari kita."


"Lukamu mengeluarkan banyak darah, aku tidak mau melibatkanmu," ujar Rose yang menginjak pedal gas.


"Jangan khawatir denganku! mari kita bermain dengan mereka!"


"Baiklah, tapi mobilmu mungkin akan menjadi semakin rusak," jawab Rose yang sedang melajukan mobilnya.


"Mobilku boleh rusak, tapi wanitaku tidak boleh dibawa pergi," kata Leo.

__ADS_1


Rose melajukan mobilnya sambil melihat ke kaca spion, ia membelok ke kiri dan melewati beberapa mobil lainnya. setelah itu ia juga tanpa ragu menyelip ke bagian tengah di antara dua mobil lain yang sedang berjalan, setelah itu ia mempercepatkan kecepatan dan melewati dua mobil tersebut. polisi yang mengejarnya berusaha mendapatkan sasarannya itu. akan tetapi karena banyaknya kendaraan di jalan besar sehingga membuatnya kesulitan untuk mendekati mobil yang di bawa oleh Rose.


"Rose, kau belajar menyetir di mana?" tanya Leo.


"Saat aku masih muda dulu. usia 18 tahun, kenapa?"


"Luar biasa, kau sangat hebat sehingga mampu membuat polisi mengejarmu. aku saja masih kalah darimu," kata Leo dengan mengusik calon istrinya.


"Kau mengejekku? jika bukan karena kau pelupa maka semua ini tidak akan terjadi."


"Ha-ha-ha-ha...baiklah, aku ingin melihat dengan cara apa kau bisa terlepas dari mereka," ucap Leo sambil tertawa.


Rose mengendarai mobilnya dan membelok ke salah satu gang kecil di sana. ia menerobos ke gang kecil itu untuk menjauh dari kejaran polisi, beberapa mobil polisi kesulitan untuk mengejar sasarannya itu karena banyak kendaraan yang lalu lalang sehingga mereka tidak bisa melewati kendaraan tersebut. setelah melewati gang kecil Rose langsung membelok ke arah kiri.


"Bagaimana, berapa nilaiku?" tanya Rose yang berhasil terlepas dari kejaran polisi.


"Luar biasa, semua mobil kau lewati dan juga melalui gang kecil itu, kau luar biasa," ucap Leo dengan tertawa.


"Dan nilai untukmu sangat tinggi 100 untukmu," kata Leo dengan senyum.


"Baiklah, dan saatnya kita menuju ke rumah sakit!" ujar Rose.


Rosa menghentikan mobilnya dan keluar dari mobilnya. sementara Leo sedang melepaskan safety belt dan sesaat kemudian ia di bantu Rose melangkah masuk ke dalam.


"Suster, sampaikan ke dokter aku sudah datang!" kata Leo yang sedang masuk ke dalam salah satu ruangan darurat.


"Tolong cepat tangani lukanya!" teriak Rose yang merasa khawatir.


Saat Leo dibawa para suster masuk ke dalam ruangan darurat, Rose hanya bisa menunggu di luar. dan tidak lama kemudian dokter Hinez berlari ke arah ruangan darurat itu. ia menghentikan langkahnya saat melihat wanita yang ia kenal itu.


"Rose...," sapa Hinez yang menatap ke arah Rose yang adalah wanita yang mengisi hatinya.


"Hinez, kau dokter di sini?" sapa Rose yang merasa tidak menyangka.


"Iya, dan kenapa kau menunggu di sini?" tanya Hinez yang penasaran.


"Aku sedang menunggu seseorang, dia terluka," jawab Rose yang menunjukan ke arah ruangan itu.


"Di dalam itu adalah temanmu?"tanya Hinez dengan merasa penasaran.

__ADS_1


"Iya, apa kamu adalah dokternya? tolong selamatkan dia!"pinta Rose dengan merasa cemas.


"Aku akan berusaha, duduklah dulu!" jawab Hinez yang menatap wanita itu tanpa beralih pandangan.


"Dokter Hinez, pasien mengeluarkan banyak darah, sudah diberikan suntikan tapi darah masih belum berhenti," kata salah satu suster yang keluar dari ruangan itu.


"Rose, jangan cemas! aku akan menanganinya!" ucap Hinez yang melangkah masuk ke dalam ruangan itu.


"Kenapa di saat ini kami bertemu? dan dia juga menjadi dokter Leo," gumam Rose.


Hinez hampir hilang fokus karena melihat mantannya ia pun berusaha beralih pikirannya dan berfokus pada pasien yang ada di depan matanya itu.


"Ada apa denganmu? kenapa sering saja ada yang ingin membunuhmu?" tanya Hinez yang menyiram cairan ke bagian luka pasiennya itu.


"Kau sudah tahu kehidupanku, yang akan menjadi incaran siapapun," jawab Leo yang berbaring di ranjang.


"Aku tidak tahu mau gembira ataupun sedih melihatmu."


"Kenapa kau berkata demikian?"


"Kau lihat saja! lukamu begitu dalam dan kau tidak bisa merasakan apapun, sementara di samping itu jika kau sering terluka maka dagingmu ini akan menjadi semakin parah karena terluka terus," jelas Hinez.


"Jangan cemas dengan hal itu! aku belum mau mati, cepat bersihkan lukanya, calon istriku sedang menungguku diluar," ujar Leo.


"Calon istri? siapa maksudmu?"tanya Hinez yang tangannya langsung berhenti kerja.


"Apa kau ada melihat seorang wanita cantik di luar? dia adalah calon istriku," kata Leo.


Mendengar kata sahabatnya itu dokter Hinez langsung terdiam dan merasa tertekan. hatinya bagaikan di tusuk belati.


"Hei...ada apa denganmu?" tanya Leo yang melihat dokter itu terdiam dan termenung.


"Ah...tidak apa-apa, iya...aku ada melihatnya, apakah dia adalah wanita yang mencuri hatimu?" tanya Hinez yang berpura-pura tidak terjadi apa-apa.


"Iya, dia adalah wanita satu-satunya di dunia ini yang menarik perhatikanku. dan dia juga adalah wanita yang ingin ku nikahi," jawab Leo.


"Sekian banyak wanita di dunia ini aku tidak menyangka kau bisa mengenalnya," kata Hinez yang sambil menjahit luka sahabatnya itu.


"Seperti yang ku katakan sebelumnya, kami saling kenal saat berada di dalam penjara, dia membunuh suaminya demi melindungi diri. jadi dia tidak bersalah," jelas Leo yang lagi-lagi membuat dokter itu terdiam.

__ADS_1


__ADS_2