Ranjang Psikopat Dalam Penjara

Ranjang Psikopat Dalam Penjara
Janin Aborsi


__ADS_3

"Apa kamu serius dengan apa yang kamu katakan?" tanya Rose dengan menoleh ke Leo yang sedang duduk di sampingnya.


"Tentu saja, aku tidak sabar ingin melihat mereka menjadi gila," jawab Leo.


"Apa rencanamu?"


"Aku sudah menyuruh Emil melakukan sesuatu."


"Apa yang dia lakukan?"


"Aku akan menunjukan padamu di saatnya tiba," jawab Leo dengan senyum.


"Mari kita pilih gaunnya dulu," ujar Leo.


"Baiklah, semua modelnya sangat indah sehingga agak sulit untuk memilih," jawab Rose.


"Pilih saja dengan perlahan," jawab Leo sambil memeluk calon istrinya.


Mansion Sandez..


"Beberapa orang yang pergi untuk mengambil nyawanya.dan semua bisa gagal dalam bertugas. kalian semua hanya menghabiskan uangku saja,"bentak Sandez.


"Tuan Sandez, mereka sangat berhati-hati saat dalam menjalankan tugas, hanya saja tidak tahu bagaimana caranya lawan kita bisa menyadari hal ini," kata Young.


"Sudah berapa orang yang kita utuskan? dan sudah berapa yang tewas sia-sia. hanya seorang Leo Downson sudah berhasil membunuh beberapa banyak pembunuh handalan yang kita cari, apakah di dunia tidak ada yang lebih hebat darinya?" tanya Sandez dengan kesal.


"Tuan Sandez, aku akan mencari lagi pembunuhnya," jawab Young.


"Membosankan dan membuang waktuku," bentak Sandez.


"Sudah berapa banyak kau cari dari sejak kemarin? semuanya tidak ada yang berhasil sama sekali," tanya tuan Sandez dengan kesal.


"Tuan Sandez, biar saya mencobanya lagi, agar bisa merenggut nyawa pria itu," ucap Young.


"Pergilah! tapi aku tidak ingin mendapat hasil yang hampa lagi," jawab Sandez.


"Baik, Tuan," jawab Young dengan menurut.


"Keluar!"perintah Sandez dengan tegas.


Young langsung melangkah pergi keluar dari kediaman yang di tempati oleh bosnya itu


"Leo Dowson, sehebat apapun dirimu, kau tetap harus mati," gumam Sandez.


Rumah sakit.


Joice yang menjadi korban perkosa.an kini dirawat di rumah sakit, ia mengalami trauma yang cukup berat, selain digilir dia harus melihat organ-organ dalam manusia membuatnya semakin ketakutan dan mudah takut pada sesuatu.


Edward hanya diam tak berdaya walau sudah melapor ke pihak kepolisian, akan tetapi tidak ada tindakan sama sekali


"Tuan Hamilton, lebih baik anda istirahat dulu! tidak baik memaksa diri. biar kami yang menjaga nyonya," ujar Zeko.

__ADS_1


"Tidak tahu kenapa pihak kepolisan tidak menerima kasus laporan ini, sibrengs*k itu bebas melakukan apapun," ujar Edward.


"Nama baikku hancur diinjak olehnya.


aku sangat tidak puas," ketus Edward.


Edward mengeluarkan handphonenya dan menghubungi seseorang yang di seberang sana.


"Hallo, Tuan."


"Simon, cari orang untuk membunuh seseorang untukku!"


"Tuan, siapa yang ingin Anda selesaikan?"


"Leo Downson aku ingin menghapus dia, dan atur pembunuh yang kejam agar bisa segera ambil nyawanya!" perintah Edward.


"Baik, Tuan..segera saya cari,".ucap Simon yang di seberang sana.


"Berapapun bayarannya juga tidak masalah, asal berhasil rencana kita," jawab Edward sangking kesalnya


"Siap Tuan," jawab Simon yang diseberang sana.


"Leo Downson, lain kali jangan coba-coba denganku, aku ingin kau menyesal seumur hidupnya. lihat saja nanti apa akibatnya melawanku," ketus Edward.


"Aku adalah Edward Hamilton, siapapun tidak boleh menghinaku," batin Edward.


Keesokan harinya.


"Sangat lucu sekali, tapi sayang orang tuanya tidak menginginkan dia dan kejam padanya," gumam Leo.


Leo yang sedang melihat janin yang telah di aborsi. Emil mengambil dari rumah sakit, sebuah toples kecil dan janin itu dip masukan ke dalamnya.


"Janin ini hari ini baru diaborsi, Tuan," ujar Emil.


"Leo....," panggil Rose yang baru melangkah ke arah calon suaminya itu.


"Rose, ada yang ingin ku tunjukan padamu!"


"Apa itu?"


"Coba kamu lihat, ini adalah janin yang di aborsi dan kita bisa gunakan ini saja untuk mereka," ujar Leo yang menunjukan janin yang masih merah dan sudah hancur itu.


"Sangat sayang sekali, kenapa ibunya bisa begitu tega melakukan ini," ucap Rose yang merasa iba pada janin tersebut.


"Mungkin saja mereka tidak mampu, ataupun suaminya meninggalkan istrinya sehingga dia tekad mengugurkan kandungannya,"jelas Leo.


"Iya, dan janin ini dikorbankan, pada hal dia juga ingin hidup," kata Rose.


"Mari kita ke rumah sakit sekarang!" ajak Leo yang merangkul pundak calon istrinya.


"Mari, kita pergi!" jawab Rose.

__ADS_1


Setelah setengah jam kemudian.


Leo dan Rose tiba ke rumah sakit. Leo memegang tangan calon istrinya dan sama-sama melangkah masuk ke dalam dan menuju ke kamar yang di mana tempat Joice di rawat.


"Bos, ini kamarnya!" ucap Ric pada Leo, yang sebelummya dia mnyelidiki di mana Joice di rawat.


"Mari kita masuk!" ajak Leo pada Rose. mereka sama-sama melangkah masuk ke dalam kamar itu


Klek.


Ric membukakan kamar itu untuk bos dan istrinya.


"Tuan Hamilton, kita bertemu lagi," sapa Leo yang melangkah masuk ke dalam kamar itu bersama Rose dan melihat Edward sedang menyuapi istrinya.


Edward yang melihat mereka langsung bangkit dari tempat duduknya dan raut wajahnya langsung berubah, sementara Joice yang melihat kedatangan Leo, ia menjadi ketakutan dan trauma.


"Pergi...pergi...," teriak Joice yang sedang ketakutan.


"Joice, bertenanglah! tidak apa-apa. jangan takut!" bujuk Edward yang berusaha menenangkan istrinya.


"Untuk apa kalian ke sini lagi? apa tidak cukup dengan masalah yang kau perbuat?" tanya Edward dengan nada kesal.


"Papa, jangan salah paham! kali ini kedatanganku adalah hanya ingin membawa sesuatu saja untukmu," kata Rose dengan senyum.


"Mama mertuaku, apa kamu masih mengenalku? aku adalah menantu mu yang tidak kau anggap dulu. apa masih ingat padaku?" tanya Rose yang menghampiri Joice yang berbaring di ranjang.


"Wanita siluman," bentak Joice yang merasa kesal dan ingin bangkit dari ranjang akan tetapi di tahan oleh suaminya.


"Jangan emosi! biarkan saja!"bujuk Edward yang menenangkan istrinya.


"Untuk apa kalian datang lagi? cepat pergi!" tanya Edward yang menatap tajam pada pasangan itu.


"Kami baru pulang dari rumah sakit, Rose masih lemah dan harus banyak istirahat, jadi kami hanya singgah sebentar," jawab Leo dengan sengaja.


"Apa maksudmu?" tanya Edward.


"Rose baru melakukan aborsi semalam," jawab Leo.


"Apaaaa? aborsi?" tanya Edward dan Joice yang lagi-lagi histeris.


"Kenapa kau melakukan itu pada penerus kami?" tanya Edward dengan nada kesal.


"Mertuaku, kalian tenang saja! walaupun sudah aborsi, tapi aku masih tetap membawakan darah daging kalian ke sini,"kata Rose yang mengeluarkan toples kecil yang bungkus kain.


Rose menunjukan toples transparan yang bisa di lihat dengan jelas isinya kepada Edward dan Joice.


"A-apa ini?" tanya Joice dengan membulatkan mata besarnya.


"Ini adalah janin dari putra kalian, dan kini dia sudah mati," jawab Rose dengan sengaja.


"Kau...kau...membunuhnya?" tanya Edward yang merasa hancur karena pewaris satu-satunya telah tidak bernyawa.

__ADS_1


"Iya, karena aku tidak mau melahirkan keturunan keluarga Hamilton," jawab Rose.


__ADS_2