Ranjang Psikopat Dalam Penjara

Ranjang Psikopat Dalam Penjara
Nasib Tragis Edward dan Joice


__ADS_3

Ric dan anggotanya pergi begitu saja dan meninggalkan mereka di dalam kondisi terluka parah, tidak ada yang tahu bagaimana dengan nasib mereka setelah itu.


Mansion Leo.


Kian bersama bosnya di ruang pribadi.


"Bos, Ric mengatakan mereka sudah mendapatkan siksaan dan setelah itu Ric dan anggota meninggalkan gudang itu," kata Kian yang berdiri di hadapan bosnya yang sedang duduk di kursi besarnya.


"Bagus sekali, dua keluarga itu pantas mendapatkan balasan setimpal, ini adalah hasil yang ku mau. setelah ini hidup atau mati mereka hanya tergantung pada Tuhan saja," jawab Leo yang duduk bersandar.


"Bos, apakah nona tidak tahu penyiksaan yang terjadi pada keluarganya?"


"Aku tidak memberitahunya, walau bagaimanapun keluarga Florencia adalah keluarga kandungnya, jadi, walau mereka putus hubungan, hubungan darah tetap tidak akan putus. aku hanya merasa tidak puas dengan sikap mereka terhadap Rose sehingga aku ingin menyiksa mereka," jelas Leo.


"Setelah ini aku yakin mereka tidak bisa apa-apa lagi, dalam kondisi terikat dan tidak ada bantuan mereka pasti mati," ujar Kian.


"Semua ini hanya tergantung pada nasib mereka saja," ucap Leo yang bangkit dari tempat duduk.


"Pulanglah istirahat! kita sudah sibuk semalaman."


"Jika tidak ada hal lain, aku permisi!" ucap Kian dengan menunduk dan melangkah pergi.


Setelah Kian pergi Leo kembali ke kamarnya.


Klek.


Leo melangkah masuk ke dalam kamar dan menghampiri kasur yang di mana Rose sedang tidur dengan di tutupi selimut tebal di tubuhnya.


Leo duduk di samping wanita itu dan menatap senyum pada calon istrinya.


"Banyak yang terjadi dalam semalam, dan pada akhirnya orang yang ingin melukaimu telah mendapatkan balasannya, aku hanya bisa diam-diam menyiksa keluargamu, karena aku merasa sangat benci terhadap mereka yang sering menghinamu," batin Leo.


Tidak lama kemudian Leo berbaring di samping Rose, ia mengecup dahi wanita itu dan kemudian memejamkan matanya.


Setelah beberapa jam kemudian hari telah siang.


Edward yang memucat dan lemah berusaha bangkit dengan ke dua tangannya yang terluka parah. saat ia melihat di depannya ia mendapati istrinya tidak berada di sana lagi.

__ADS_1


Sementara keluarga Florencia tidak sadarkan diri dengan mulut mereka yang di penuhi darah.


"Ke mana Joice pergi?" gumam Edward.


Edward berusaha untuk berdiri mencari keberadaan istrinya, semua pakaian istrinya telah robek habis oleh para pria itu.


Sementara Joice berjalan hanya dengan mengenakan celana da.lamnya saja, ia berjalan dengan kondisi mental yang sudah terganggu.


"Lucas, jangan pergi! bawa mama bersamamu, anakku!" ucap Joice yang di sepanjang jalan. wanita itu berjalan terus tanpa berhenti dan berbicara di sepanjang jalan.


"Lucas, bawa mama pergi bersamamu, mama mau ikut!"


"Kemana kamu pergi, putraku? putraku, mama sangat merindukan mu, dan juga telah lama tidak melihatmu."


Keadaan Joice menarik perhatian semua pejalan kaki di sana, penampilan Joice yang telanjang tentu saja membuat mereka merasa heran dan ada yang mengejek dan menertawainya.


"Bukankah dia adalah istri Edward Hamiton? aku pernah melihat majalah mereka."


"Iya, benar katamu. dia adalah nyonya Hamilton. apa yang sudah terjadi padanya?"


"Dia memanggil nama putranya di sepanjang jalan, bukankah nama putranya adalah Lucas? berarti memang dia."


"Ini gila, apa yang sudah terjadi? kenapa dia berdarah dan tidak waras? apakah dia di perk*sa?"


"Mana ada yang mau perk*sa wanita tua."


Edward mengejar istrinya dalam kondisi pusing di kepalanya, tubuhnya bersimbah darah dari tangannya sendiri, tentu saja kondisi pria tua itu lagi-lagi menarik perhatian dari pejalan kaki di sana.


Keadaan sepasang suami istri itu tidak mendapatkan simpati dari siapapun, karena mereka terkenal dengan kesombongannya dan juga suka merendahkan orang lain.


"Dia adalah pemilik perusahaan Hamilton yang baru bangkrut itu," kata salah satu pejalan kaki yang melihat Edward berjalan dengan kondisi lemah dan terluka parah di tangannya.


"Iya, tadi pagi ada berita mengenai mereka. aku mengira hanya kabar burung saja, tapi kelihatannya nyata."


"Joice, Joice," teriak Edward yang mengejar istrinya yang berjalan ke arah simpang jalan besar yang sedang di lalui kendaraan.


Edward berusaha mempercepatkan langkahnya untuk menyelamatkan istrinya yang sedang dalam bahaya, tidak ada orang yang ingin membantunya sama sekali.

__ADS_1


"Tolong halang istri saya!"teriak Edward pada pejalan kaki di sana. tidak ada yang memperdulikan permintaan pria tua itu, mereka hanya pergi begitu saja.


"Lucas, tunggu mama, sayang. mama pergi bersamamu," ucap Joice yang melihat bayangan putranya di tengah jalan itu.


Joice yang terkena gangguan jiwa langsung berlari ke tengah jalan tanpa memandang ke kiri dan kanan. banyaknya mobil sedang lalu lalang di simpang itu membuat mereka tidak sempat berhenti dan pada akhirnya~✓


Brak....


Tabrakan mobil mengenai Joice sehingga terpelanting jauh dan terhempas ke jalan.


"Joiceee...."teriak Edward yang berusaha mempercepatkan langkahnya.


Joice yang di tabrak langsung mengeluarkan darah dari mulut dan hidungnya.


"Lucas, Lucas," sebut Joice sesaat yang akhirnya meninggal dalam kondisi mengenaskan.


Edward yang berlari ke sana tanpa melihat kendaraan yang sedang melaju, ia pun~✓


Brak...


Tabrakan mobil mengenai Edward sehingga membuat tubuh pria tua itu terlempar jauh.


Bruk..


Hentakan kepala Edward yang mengenai jalan aspal itu. hentakan kuat membuat kepalanya mengeluarkan darah yang banyak. simpang jalan terjadi kemacetan akibat insiden tersebut.


Edward yang terluka parah berusaha ingin merangkak ke arah istrinya yang tergeletak tidak bergerak akan tetapi pandangan pria itu mulai buram dan kemudian darahnya yang keluar semakin banyak sehingga mengenai wajahnya.


"Joice...," sebutan dari mulut Edward yang akhirnya ia juga meninggal dalam kondisi terlungkup.


Di simpang jalan besar sepasang suami istri meninggal karena di tabrak, bagi mereka sudah tidak asing dengan pria dan wanita itu. kondisi Edward dan Joice sama-sama mengenaskan. meninggal begitu saja tanpa ada yang ingin memghampiri mereka.


Sementara keluarga Florencia tidak sadarkan diri karena kondisi mereka yang begitu parah, darah keluar semakin banyak dari semalam. wajah mereka memucat dan tidak ada yang datang memyelamatkan mereka. tidak tahu bagaimana mereka bisa bertahan hidup dengan kondisi yang cukup parah itu.


Keesokan harinya.


Berita kematian Edward dan Joice mengemparkan New York, semua kalangan bisnis mengenal mereka sebagai pebinis yang sombong dan kejam terhadap siapapun. Edward selalu saja mengunakan kekuasaannya melawan sesama pebisnis sehingga membuat mereka harus meringkus ke dalam penjara. tentu hal ini sudah menyebabkan banyak orang-orang yang dari kalangan bisnis yang sangat membenci dirinya.

__ADS_1


__ADS_2