Ranjang Psikopat Dalam Penjara

Ranjang Psikopat Dalam Penjara
Kedatangan Ketua Polisi


__ADS_3

"Leo, kebangkrutan ku apakah tujuan utamamu?" tanya Herles.


"Iya, hanya saja kau dan putrimu belum bunuh diri,"jawab Leo dengan senyuman iblis.


"Herles Muffis, selama lima belas tahun kau menikmati hidup mewah. semua kebahagiaan mu itu dari dua nyawa yang tidak berdosa, apa kau tidak merasa sedikit bersalah? kau adalah manusia yang berhati binatang. sampaikan ke putrimu aku akan menceraikan dia setelah aku keluar. aku sudah bosan bermain dengan kalian. sudah waktunya akhiri semuanya," ujar Leo yang melangkah pergi dari ruangan itu.


Herles hanya bisa menerima semua balasan dari menantunya sendiri, perusahaannya sudah di ambang kebangkrutan, tidak mendapatkan dukungan dari pihak manapun. nama baik keluarganya pun sudah tercemar. dirinya hanya bisa pasrah menerima kehilangan bisnis keluarga yang selama ini sudah dia jalani.


Herles berjalan dengan wajah lesu dan mengusap kasar wajahnya itu. ia memandang langit yang mendung sambil menarik nafas panjang. ia mengingat kejadian lima belas tahun yang lalu. sepasang suami istri yang tak lain adalah sahabatnya sendiri. demi uang Herles mengkhianati persahabatan mereka. sehingga mengorbankan dua nyawa yang tidak berdosa.


"Apakah ini karma? aku mendapatkan apa yang ku inginkan dan sekarang aku kehilangan segalanya hanya dalam sekelip mata," batin Herles.


Wajah Herles semakin pucat dan keringat dingin. tidak lama kemudian ia memejamkan mata dan tumbang tidak sadarkan diri.


Jenice yang membawa mobil sendiri baru tiba di depan penjara. saat ia melihat ayahnya yang tergeletak tidak bergerak ia langsung keluar dari mobilnya dan berlari ke arah pria tua itu.


"Papa, Papa, Papa...." teriak Jenice yang menghampiri ayahnya.


"Papa, Papa, Papa, bangun!" teriak Jenice yang menepuk pelan wajah ayahnya itu.


Jenice berulang kali membangunkan Herles akan tetapi tidak berhasil, rasa cemas dan takut meliputi dirinya sehingga ia menangis. karena tidak kuat untuk mengendong ayahnya itu, ia pun meminta tolong kepada petugas yang di sana.


Keesokan harinya.


Di siang hari itu penjara besar didatangi oleh seorang kepala polisi yang berniat ingin menyelidiki kasus mengenai penyiksaan terhadap beberapa petugas penjara.


Sebelumnya penyiksaan empat petugas wanita telah tersebar hingga luar penjara. mereka yang di siksa oleh Leo Downson telah cacat dan trauma sehingga tidak normal seperti semula. sementara dua petugas wanita lainnya yang telah di perkosa oleh tahanan pria kini harus tinggal di rumah sakit jiwa. setelah itu dua petugas pria yang di siksa dengan sadis telah tersebar ke telinga ketua polisi itu.


Ketua polisi yang di kenal sombong dan angkuh selama ini bertugas memantau kondisi penjara besar.


"Tuan Kane, apakah ada sesuatu yang mau di sampaikan?" tanya ketua petugas yang sedang berdiri di hadapan ketua polisi itu.


"Leo Downson seberapa hebat dirinya sehingga bisa merajalela di sini?" tanya Kane yang sedang duduk di kursi ketua petugas.


"Dia? Tuan Kane, ada apa dengan dia?"


Plak..


Hentakan meja yang di lakukan oleh Kane yang bangkit dari tempat duduknya.


"Kau masih saja ingin menyembunyikan hal ini," bentak Kane dengan nada kesal.


"Sudah berapa petugas yang harus di siksa selama ini, kau sebagai ketua petugas di sini dan lihatlah apa yang sudah kau lakukan," bentak Kane.


"Kejadian ini sudah di dengar oleh pihak atasan, dan kau tidak pernah melapor kejadian ini. seorang tahanan di sini sangat bebas menyiksa orang. apa dia di beri wewenang untuk melakukan semua ini?"bentak Kane.


"Tuan Kane, ini...."


"Kau sangat gagal dalam bertugas, mulai hari ini kau bukan bagian di sini lagi, kau dipecat," ketus Kane dengan nada kesal.

__ADS_1


"Tuan Kane, aku...."


"Panggil dia keluar! aku ingin bertemu dengan Leo Downson, apakah dia sehebat itu sehingga bisa begitu mudah dia menyiksa orang," bentak Kane.


"Iya," jawab ketua petugas dengan menurut


Setelah lima belas menit.


Leo mendatangi kantor ketua petugas yang di mana ketua polisi Kane yang sedang menunggunya.


"Ketua polisi yang bernama Kane, untuk apa kau mencariku?" tanya Leo yang duduk berhadapan dengannya.


"Leo Downson yang di kenal sebagai Devil di dalam penjara, tidak menyangka kau bisa mengenalku," kata Kane dengan bersikap sombong.


"Selagi kau masih hidup aku tentu mengenalmu, kecuali ketika kau sudah menjadi mayat yang busuk maka aku tidak bisa mengenali mu lagi," jawab Leo dengan senyum.


"Leo Downson, apa kau tahu apa akibatnya melawanku?"tanya Kane dengan mengancam.


"Apa yang ingin kamu lakukan? menembak atau membunuhku?" tanya Leo dengan tatapan aura membunuh.


"Kau hidup mewah di dalam penjara selama ini, bukan hanya itu, kau juga di temani oleh seorang tahanan wanita," ujar Kane.


"Tuan Kane, aku hidup mewah di dalam tidak secara gratis. pihak penjara juga menerima uangku. jadi kau tidak bisa melarangku sama sekali."


"Aku sebagai ketua polisi berhak memindahkan mu ke kurungan lain," kecam Kane yang dengan menantang Leo.


"Kalian semua adalah pecundang, jangan mengira sangat mudah untuk memindahkanku setelah menerima uangku," jawab Leo.


Prok...prok...


Tepukan tangan Kane yang memerintah sepuluh anak buahnya masuk ke ruangan


"Tuan Kane," sapa mereka dengan serentak.


"Bawa dia ke kurungan lain! aku ingin melihat apakah dia berkemampuan untuk melawan," perintah Kane.


Anak buah Kane lalu menahan Leo dengan ingin membawanya ke tempat kurungan lain.


Leo menampar kuat wajah salah satu anak buah Kane.


Plaaakk...


"Aauhkk...," jeritan anak buah Kane yang langsung tumbang dan tak sadarkan diri.


"Tahan dia!" perintah Kane dengan nada keras.


"Ingin memindahkanku? tidak semudah itu," ketus Leo yang langsung memukul wajah semua anak buah Kane.


Buk...

__ADS_1


"Aarrghh...." jeritannya anak buahnya yang tumbang akibat pukulan kuat dari Leo.


Buk...


"Aarrghh...."


Buk...


"Aarrghh...."


Buk...


"Aarrghh...."


Buk...


"Aarrghh...."


Buk...


"Aarrghh...."


Buk...


"Aarrghh...."


Buk...


"Aarrghh...."


Buk...


"Aarrghh...."


Satu persatu anak buah Kane tumbang dengan mulut mereka yang mengeluarkan darah. pukulan kuat dari Leo menanggalkan gigi mereka.


"Kau berani melawan, coba saja melawan peluruku!" bentak Kane yang mengeluarkan senjata dan menodong ke arah Leo.


"Lepaskan aku! lepaskan aku!" teriak Rose yang di bawa oleh polisi ke kantor ruangan itu.


"Apa maksudmu?" tanya Leo dengan tatapan aura membunuh.


"Wanita ini adalah pemuasmu, sudah saatnya kembalikan dia ke penjara sebelah dan mulai lagi menjalankan hukuman dari awal," kata Kane.


"Atas dasar apa mulai dari awal?" bentak Rose dengan kesal.


"Aku adalah ketua polisi, dan semua yang berhubungan dengan penjara aku berhak mengambil keputusan," ketus Kane.


"Persetan dengan kalian," bentak Rose.

__ADS_1


"Ingin memindahkan dia harus ada izin dariku, hanya mengandalkan posisimu yang hanya ketua polisi sudah ingin melawanku, kau terlalu memandang tinggi dirimu sendiri," ketus Leo.


__ADS_2