
"Membunuh suaminya dan di penjara? apakah suaminya adalah Lucas Hamilton? pria pemain wanita?" batin Hinez.
"Ada apa dengan suaminya sehingga dia berani membunuhnya?" tanya Hinez dengan berpura-pura.
"Lucas Hamilton adalah pria yang paling suka bermain wanita, dan dia juga sering membawa wanita pulang setiap malam, selama dua tahun pernikahannya sama sekali tidak bahagia, Rose menjalani hidup rumah tangga yang penuh dengan penderitaan. jika aku di posisinya aku juga akan membunuh pria itu. pria itu mengupah orang untuk memperk*sanya, sehingga Rose berusaha melindungi diri sendiri dan tidak hanya sampai di situ, Lucas Hamilton juga ingin membunuhnya, demi keselamatan sendiri dia juga harus membunuh suaminya," jelas Leo yang panjang lebar.
Hinez yang mendengar kabar yang menimpa mantan kekasihnya itu ia terdiam dan merasa kesal terhadap keluarga Hamilton.
"Apa brengs*k itu mati?"
"Tentu saja mati," jawab Leo.
"Keluarga Hamilton begitu terkenal, putra tunggalnya mati di bunuh aku yakin dia pasti membalas dendam," ujar Hinez.
"Dia melakukannya dan dia menyuap hakim dan jaksa untuk menjatuhi hukuman seumur hidup terhadap Rose," kata Leo.
"Dia melakukannya demi melindungi diri, tidak seharusnya meringkus selama itu."
"Bukti rekaman yang terjadi di simpan oleh mereka, dan bukan hanya membuat Rose menerima hukuman itu saja, mereka juga ingin menghancurkan hidup Rose selama di penjara."
"Rose tidak pantas menikah dengan keluarga seperti itu, mereka bukan manusia melainkan adalah binatang," kata Hinez dengan merasa kesal dan sambil menjahit luka tembak sahabatnya itu.
"Kelihatannya kau menaruh dendam terhadap mereka?"
"Aku tidak kenal mereka, mana mungkin aku menaruh dendam pada mereka," ujar Hinez.
Setelah satu jam kemudian.
Hinez bersama Leo keluar dari ruang rawat.
"Leo...." panggil Rose yang menghampiri calon suaminya itu.
Hinez memandang ke arah Rose yang mendekati sahabatnya.
"Bagaimana dengan lukamu?" tanya Rose yang merasa cemas.
"Aku sudah tidak apa-apa, jangan cemas!" jawab Leo yang mengecup dahi Rose. Hinez yang melihat kemesraan mereka langsung memalingkan wajahnya ke arah lain.
__ADS_1
"Rose, aku perkenalkan sahabatku padamu!" ucap Leo pada Rose.
"Ini adalah Hinez sahabatku, dia yang selama ini mengobatiku," kata Leo sambil memperkenalkan Hinez pada Rose.
"Selamat untuk kalian yang akan menikah tidak lama lagi," ucap Hinez dengan senyum paksa.
"Terima kasih," ucap Rose yang merasa canggung.
"Lukamu baru di jahit, cepat pulang istirahat. jangan sampai keluar darah lagi. aku masih ada tugas lain. aku pergi dulu," kata Hinez yang merasa tidak nyaman dan kemudian melangkah pergi.
"Hei...aku belum habis bicara kau sudah buru-buru pergi," ujar Leo pada sahabatnya itu.
"Leo, mari kita pulang!" ajak Rose.
"Mari!" jawab Leo yang merangkul pinggang Rose.
Saat Leo dan Rose melangkah pergi Hinez keluar melihat mereka dari belakang. ia tidak pergi sama sekali melainkan hanya ingin mengelak dari situasi yang canggung.
"Sekian lama tidak bertemu, tidak menyangka banyak hal yang tidak menyenangkan terjadi pada dirinya, hidupnya sangat menderita selama ini. dan aku malah tidak tahu apa-apa dan belajar selama ini di luar negeri, kini aku kembali tapi sudah terlambat, wanita yang paling ku kasihi sudah tidak bersama dengan suaminya. tapi bersama dengan sahabatku sendiri. Leo telah menyelamatkan hidupnya dan membebaskan dia dari penjara, tapi apa aku bisa melepaskan dia begitu saja setelah bertahun-tahun lamanya aku menyimpan rasa rindu pada dia," batin Hinez.
Mansion Leo.
"Sonya akan menyiapkan makan siang, Rose, kau temankan aku saja di kamar," jawab Leo yang memegang tangan Rose dan melangkah menuju ke kamar.
"Leo, apakah sekelompok pembunuh itu akan datang mencarimu lagi?" tanya Rose yang duduk di ujung kasur.
"Pasti akan datang lagi, ini juga bukan pertama kali. saat dalam penjara dia juga yang mengutuskan lima belas pembunuh untuk mengincarku. setelah aku keluar dari penjara dia masih melakukannya berulang kali," jawab Leo dengan senyum.
"Ini sangat bahaya bagimu, lain kali biarlah Ric dan Kian menemanimu. walau kau tidak sakit tapi kau tidak boleh terluka lagi. jika tidak, ini sangat bahaya bagimu," kata Rose dengan merasa khawatir.
"Aku akan menghubungi Ric dan Kian jangan cemas. Rose, aku tidak menyangka hari ini kau akan menjadi penyelamatku," ujar Leo yang duduk di samping Rose.
"Apa kau tidak berencana menghancurkan sarangnya saja?"
"Menghancurkan sarangnya?"
"Iya, dari pada dia yang datang mencarimu, kenapa kamu tidak menyuruh anggotamu untuk menyerangnya?"
__ADS_1
"Aku pernah berpikir seperti itu, hanya saja ini belum waktunya. aku harus menyusun rencana dari awal sebelum bertindak. berapa jumlah anggotanya dan di mana saja sarangnya berada," jelas Leo.
"Apakah Sandez memiliki dendam yang kuat padamu, sehingga dia berulang kali ingin membunuhmu?"
"Kami saingan bisnis dan juga saat perebutan wilayah jatuh ke tanganku, oleh karena itu dia merasa tidak puas dan ingin kematian ku," jawab Leo.
"Kenapa aku merasa kau sepertinya bukan pebisnis saja, tapi juga mafia?"
"Mungkin ini hanya perasaanmu saja," kata Leo dengan senyum.
"Kau memiliki senjata di bawah kasur dan juga memiliki anggota yang banyak. kamu lebih mirip mafia dari pada seorang pebisnis," ujar Rose.
"Aku seorang pebisnis ataupun mafia kamu tetap menyukaiku, kan?" tanya Leo dengan mengoda Rose.
"Apa aku bisa tidak menyukaimu?"
"Tentu saja tidak bisa, karena aku sudah memilihmu, jadi kau hanya bisa bersamaku," jawab Leo dengan mencium wajah calon istrinya.
Mansion Sandez.
Prak...
Hentakan meja yang di lakukan oleh Sandez yang marah besar karena kegagalan anak buahnya.
"Yang pergi puluhan orang, dan semuanya gagal. apa bisa tolong jelaskan situasi seperti apa di saat itu?" bentak Sandez dengan penuh emosi.
"Tuan, Saat itu Leo hanya bersendirian dia tidak membawa pengawalnya, tapi kita gagal karena seorang wanita datang membantunya," jelas Young.
"Seorang wanita datang membantunya? maksudmu adalah kita kalah dari seorang wanita?" tanya Sandez yang menahan emosi.
"Wanita itu membantu Leo meledakan mobil utusan kita, sehingga mereka tewas tak tersisa," kata Young.
"Tidak berguna sama sekali, semua pembunuh yang kita upah adalah pembunuh yang berbayaran tinggi dan sekarang begitu mudah semua mati begitu saja. bukankah ini hanya membuang waktu dan uangku saja," ketus Sandez dengan merasa kesal.
"Maaf, Tuan."
"Dari dia berada di dalam penjara hingga keluar semua rencana kita gagal, sudah berapa uang yang kita hambur hanya demi seorang Leo Downson," bentak Sandez dengan emosi.
__ADS_1
"Tuan, apa yang akan kita lakukan selanjutnya?"
"Awasi dia setiap saat! cari titik kelemahannya, selidiki siapa wanita itu? pengawalnya atau wanitanya!" perintah Sandez.