Ranjang Psikopat Dalam Penjara

Ranjang Psikopat Dalam Penjara
Penyakit Aneh


__ADS_3

"Tuan, luka yang Anda alami bukan luka kecil. tapi Anda tidak bisa merasa sakit. aku takut...."ujar Emil yang terhenti.


"Tidak ada yang harus di takutkan, ini adalah kondisi tubuhku jadi aku lebih paham," kata Leo dengan tegas


"Iya," jawab Emil.


"Kalian pergilah!" perintah Leo.


Sesaat kemudian Ric dan Emil pergi meninggalkan tempat itu.


Leo menghampiri Rose yang sedang tidur dengan pulas.


"Apakah penyakitku ini akan sembuh atau mungkin saja aku bisa meninggal karena penyakit aneh ini. bahkan dokter Hinez juga tidak ada cara untuk menyembuhkanku," batin Leo.


Leo mencium wajah Rose dan kemudian ia pun berbaring di samping Rose dan kemudian tidur dengan sambil memeluknya.


Di sisi lain Emil dan Ric bertemu dengan seorang pembunuh andalan yang tak lain adalah Kian. Kian adalah pengawal pribadi Leo selama ini. selama Leo berada di dalam penjara Kian melakukan semua perintah bosnya itu.


"Kian, bos ingin kamu mengurus Fulris dan Kane," ujar Emil yang menghampiri Kian.


"Di mana mereka?" tanya Kian yang sedang duduk di motornya.


"Kane di rumah sakit dan Fulris masih berada di kantor saat ini," jawab Ric.


Tanpa menunggu lama Kian langsung pergi dengan membawa motornya.


Rumah sakit.


Kian mendatangi rumah sakit itu. Kian di kenal sebagai pembunuh yang tanpa memberi ampun terhadap semua korbannya. menyiksa dan kemudian membunuh adalah hobinya. ia melakukan semua perintah Leo dan tanpa gagal selama ini.


"Di mana kamar ketua polisi?"


"Di kamar ujung," jawab Suster yang menunjuk ke arah ujung sana.


Kian melangkah menuju ke tempat yang di tunjukkan oleh suster tadi. ia lalu membuka pintu kamar itu dan kemudian melangkah masuk ke dalam. lalu dia menghampiri Kane yang sedang tidur tanpa mendengar hentakan kaki Kian yang mendekatinya.


"Hanya ketua polisi sudah berani melawan bos," gumam Kian.


Kian mengeluarkan pisaunya dan langsung menikam jantung Kane yang sedang tidur.


Srek...


"Aarrgghh...." jeritan Kane yang terbangun dan merasa sakit yang luar biasa di bagian tusukan itu.


"Kau...."


"Kau telah meremehkan Leo Downson," ujar Kian dengan senyum sinis.


Kian memutar pisaunya sehingga mengeluarkan banyak darah.


"Aarrgghhh....,"jerit Kane yang tidak lama kemudian tergeletak tidak bernyawa.

__ADS_1


Setelah selesai membunuh, Kian meninggalkan kamar itu dan melanjutkan tugasnya untuk menemui kepala detektif.


Ia memperlajukan motornya sehingga mendahului semua mobil-mobil yang di jalan besar itu.


Setelah beberapa saat kemudian Kian tiba di depan kantor detektif. saat turun dari motor ia mengeluarkan dua senjatanya dan melangkah masuk ke dalam kantor itu. di malam itu masih ada empat orang detektif yang masih sedang bertugas, salah satunya ketua detektif yang berada di ruangannya.


"Kau siapa?" tanya salah satu anak buah Fulris yang mengeluarkan pistolnya dan menodong ke arah Kian.


"Aku datang untuk mengambil nyawa Fulris," jawab Kian yang langsung melepaskan tembakan ke arah tiga detektif itu.


Dor...dor...dor...


Tiga detektif itu langsung tewas karena tembakan dari Kian yang menembus jantung mereka.


Tidak lama kemudian. Fulris keluar dari ruangannya karena mendengar bunyi tembakan.


"Kau siapa? berani sekali menyerang ke kantor kami. letakan senjatamu!" bentak Fulris yang menodong senjatanya ke arah Kian.


Kian langsung melepaskan tembakan ke arah Kepala detektif itu.


Dor...dor...dor...


Tembakan Kian menembus kaki kanan, lengan dan pergelangan tangan Fulris sehingga senjatanya terlepas dari pegangan.


"Aarrghh...."jeritan Fulris yang kesakitan.


"Apa mau mu? dari mana asalmu?" tanya Fulris dengan menahan sakit.


"Aku adalah utusan Leo Downson. malam ini adalah hari kematianmu,"kecam Kian yang melepaskan tembakan ke arah Fulris.


Dor...


"Apa mau mu?" tanya Fulris yang sedang kesakitan.


"Menyiksa dengan perlahan dan kemudian baru membunuhmu," jawab Kian.


"Jangan sembarangan! di sini adalah kantor detektif. kau tidak akan bisa lari," ujar Fulris.


"Tujuanku hanya kamu, tapi jika ada yang ikut campur maka mereka juga akan mati," kecam Kian.


"Leo Downson sangat berani mengirimmu ke sini," ketus Furlis.


"Tentu saja, kau juga ingin melawannya, bukan? berapa bayaran si tua untuk mu sehingga kau berani sekali menyinggung Leo Downson?"


"Leo Downson adalah tahanan, apa salahku jika aku ingin menuntutnya lagi?"


"Kau tidak salah sama sekali, tapi sayangnya kau harus mati," kata Kian yang mengeluarkan pisau tajamnya dan menghampiri Furlis yang sudah terluka.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Furlis yang merasa cemas dan semakin memundurkan langkahnya.


"Sudah ku katakan, melawan bosku kau harus tahu siapa dia," ujar Kian yang melangkah maju menghampiri Furlis.

__ADS_1


"Jangan mendekat!" bentak Furlis yang merasa cemas.


"Kau takut dengan pisauku? tenang saja dia akan membuatmu merasa nikmat," kata Kian dengan menikam bagian pinggang Furlis.


Srek....


"Aaarrghh...," jeritan Furlis yang kesakitan.


Kian menikam sedalam-dalamnya dan kemudian dia mencabut pisau itu dan melakukannya sekali lagi.


Srek.


"Aarrghh....," jeritan Furlis yang lagi-lagi merasa sakit yang luar biasa.


Kian yang menancapkan pisaunya ke pinggang Furlis lalu menikamnya berulang kali. sehingga tidak lama kemudian Furlis tumbang dan tewas di tempat. setelah Furlis tewas Kian membawa jasadnya pergi meninggalkan kantor detektif.


Setelah setengah jam kemudian Kian tiba di depan rumah Edward Hamilton.


Ia melempar jasad Furlis ke depan pintu Edward Hamilton. kondisi Furlis terluka cukup parah, darah berserakan di seluruh tubuhnya dan juga mengotori depan rumah Edward Hamilton.


Kian sengaja menekan bel yang ada di samping pintunya.


Ting....tung...ting...tung...


Setelah tugasnya selesai ia pun pergi meninggalkan tempat itu.


Karena mendengar bunyi bel, Edward membuka pintunya. saat ia melihat jasad yang ada di depan matanya kakinya merasa lemas sehingga hampir ambruk. wajahnya memucat dan merasa cemas.


"Kenapa bisa begini? seorang detektif bisa terbunuh," gumam Edward.


"Siapa yang membunuhnya? kami sedang mencari kesalahan Leo Downson, apakah kematian Furlis ada hubungan dengan dia?" batin Edward..


Keesokan harinya.


Penjara pria


Petugas pria mendatangi ke tempat pengurungan Leo.


"Leo, Mancy ingin bertemu denganmu," kata petugas itu yang sedang berdiri di luar.


"Nanti saja aku bertemu dengannya,"jawab Leo yang sedang push up.


"Nanti? tapi dia sedang menunggumu."


"Rose masih belum bangun, cepat pergi jangan menganggunya sedang tidur!" ujar Leo dengan suara kecil.


"Tapi wanita yang di luar itu?"


"Sampaikan saja ke dia, sekarang aku belum bisa menemuinya. aku akan menunggu Rose bangun dan pergi bersamaku untuk menemui dia," jawab Leo.


"Baiklah," jawab Pertugas itu yang kemudian melangkah pergi.

__ADS_1


"Leo, ada apa?" tanya Rose baru membuka matanya.


"Hanya ada orang yang ingin bertemu denganku," jawab Leo.


__ADS_2