
"Apakah kamu menyukai sebesar burung elang?" tanya Sandez dengan mengoda.
"Yang ku inginkan lebih dari itu, hanya saja tidak tahu apakah kamu sebesar yang ku inginkan," jawab Rose.
"Malam ini aku akan menunjukan padamu, gadis cantik," ucap Sandez.
.
"Cepat berangkat! aku tidak sabar ingin memberi pelajaran pada pria brengs*k itu," perintah Leo yang melangkah keluar.
"Siap, Bos," jawab Kian dan anggota lainnya yang ikuti bosnya dari belakang.
Di malam itu Rose makan bersama dengan Sandez. pria itu tidak menyadari jika musuhnya sedang dalam perjalanan ke rumahnya.
"Apa kamu menyukai makan malam ini?" tanya Sandez dengan senyum.
"Sangat suka," jawab Rose.
"Leo dan anggotanya sudah hampir tiba, dan aku malah ingin memberi pelajaran pada pria ini," batin Rose
"Apa kamu bisa memberitahu ku di mana kamar mu? aku ingin mandi cuaca terasa sangat panas," tanya Rose yang menyimpan pisau makanannya ke dalam lengan panjangnya.
"Mari silakan ikut aku!" ucap Sandez yang bangkit dari tempat duduknya.
Pria itu dengan senang hati membawa Rose menuju ke kamar yang luas dan mewah itu.
Klek..
Saat baru masuk ke kamar Rose mendorong Sandez ke tempat tidur dan menaikan baju pria itu.
"Cantik, kau sangat tidak sabar," ucap Sandez yang menyentuh wajah Rose.
"Aku tidak sabar ingin merasakan punyamu, apakah milikmu seperti burung gereja atau elang?" tanya Rose dengan berbisik di telinga.
"Wanita nakal, aku suka," kata Sandez.
"Buka celana mu dan aku ingin mulai permainannya, aku lebih suka di atas," ujar Rose dengan melepaskan tali pinggang pria itu.
"Pejamkan matamu, jika kau ingin merasakan sensasi yang luar biasa," ucap Rose di telinga Sandez.
Rose membuka kancing celana Sandez dan kemudian melepaskan semua celana pria itu. sementara Sandez hanya terbaring dan pasrah tanpa curiga terhadap Rose yang pintar mengodanya.
"Apa kau menyukainya? aku akan membuka celanamu yang satu-satunya tersisa."
"Aku malah tidak sabar ingin melahapmu," jawab Sandez dengan senyum.
"Tutup matamu, dan nikmatilah permainanku," kata Rose yang mengunakan tangannya menutup mata pria itu.
Sementara di luar kelompok Leo telah tiba, saat tiba mereka langsung langsung melepaskan tembakan bersama semua anggotanya.
Dor...dor...dor...dor...dor...dor..
Tembakan dari Leo dan anggotanya menewaskan anggota Sandez yang berjaga di pintu.
"Aarrghh....," jeritan anggota Sandez yang tumbang satu-persatu.
Dor...dor...dor...dor...dor...dor..
__ADS_1
Tembakan dari Kian dan Ric yang menembus tubuh lawannya.
"Aaarrghh....," teriakan anggota Sandez yang kemudian tumbang dan tewas.
Tidak lama kemudian anggota Sandez keluar dari lantai dua menuju ke lantai dasar, Leo dan anggotanya telah menerobos masuk ke dalam rumah itu.
Leo dan anggotanya menembak ke arah lantai dua yang di mana anggota lawan sedang berlarian ke anak tangga.
Dor...dor...dor...dor...dor...dor..
"Aaarrggh...." teriakan anggota Sandez yang di tembus oleh sejumlah peluru sehingga ada yang jatuh ke lantai bawah.
Bruk...bruk...bruk...
Bunyi hentakan tubuh mereka yang terjatuh dari lantai dua.
Dor...dor...dor...dor...dor...dor..
Dor...dor...dor...dor...dor...dor..
Tembakan beruntun dari kelompok Leo yang menewaskan anggota Sandez hingga tak tersisa.
Sandez yang mendengar suara tembakan dan ingin bangkit akan tetapi di tahan oleh Rose yang berada di atas tubuhnya. sementara Sandez sudah tanpa sehelai benang di bagian bawah tubuhnya.
"Kita masih belum bermain, tanggung jawabmu adalah memuaskanku," ucap Rose yang langsung memotong pusaka pria itu.
Srek...
Potongan yang dilakukan oleh Rose pada pusaka pria itu sehingga terputus.
Rose langsung menahan tangan pria itu yang ingin menamparnya.
"Bagaimana rasanya? apakah nikmat? aku lupa memberitahumu bahwa aku juga sangat suka menyiksa pria brengs*k sepertimu, dan kau adalah pria ke dua yang menjadi korbanku," kata Rose yang kemudian bangkit dari kasur.
"Aaarrrghh....," teriakan Sandez yang merasa kesakitan yang luar biasa.
Brak...brak...
Hentakan pintu yang di lakukan oleh Leo.
Prak...
Bantingan pintunya yang mengenai dinding.
"Rose..." panggil Leo yang menghampiri Rose yang sedang berdiri di samping kasur.
"Leo...?"
"Apa kamu terluka?"
"Dia yang terluka," jawab Rose yang menunjuk ke arah Sandez yang sedang kesakitan.
"Sayang, kau cukup kejam. rasanya sangat tidak menyenangkan jika sampai dia kehilangan burungnya," ucap Leo yang merangkul pundak Rose.
"Aku hanya menghukumnya saja, bagaimana kau bisa masuk ke dalam sini?"
"Mudah saja, kami menyerang saat mereka sedang lalai, oleh karena itu kami begitu mudah sudah bisa menerobos rumahnya," jawab Leo.
__ADS_1
"Dan ini atas bantuanmu juga, selama ini tidak ada yang tahu tempat tinggalnya," kata Leo dengan mengecup dahinya Rose.
"Aaarrghh....,teriakan Sandez yang merasa kesakitan dan darah yang mengotori kasurnya.
"Apa yang akan kamu lakukan terhadap dia?"
"Bunuh saja," jawab Leo yang langsung melepaskan tembakan ke arah jantung pria itu.
Dor...
"Aaarrghh....," jeritan sesaat Sandez yang akhirnya tewas di atas kasur.
"Bukankah sama saja sia-sia usahaku memotong senjatanya?"
"Aku belum bertanya padamu, kenapa kau mengatakan aku adalah burung gereja?" tanya Leo yang mencubit wajah wanita itu.
"Seharusnya lebih cocoknya adalah anak burung gereja dari pada anak harimau," jawab Rose yang mengusik calon suaminya itu dan kemudian melangkah keluar.
"Rose Downson, percaya atau tidak malam ini aku akan membuat pinggangmu patah," ujar Leo yang ikuti langkah Rose yang menuju ke ruangan
"Bos, mereka semua sudah tewas, tidak ada yang tersisa lagi," kata Ric.
"Mari kita pergi!" perintah Leo yang merangkul pinggang Rose dan melangkah menuju ke pintu besar.
Sandez dan anggotanya tewas begitu saja di malam itu, tanpa persiapan anggota Sandez di bunuh dengan begitu mudah. tidak butuh waktu yang lama Leo berhasil menghapus kelompok Sandez.
"Rose, besok kita makan siang bersama di sebuah restoran," ucap Leo yang melangkah menuju ke mobilnya.
"Baiklah, atur saja!" jawab Rose yang kemudian masuk ke dalam mobil.
"Kita akan makan bersama Hinez," ucap Leo yang duduk di samping Rose sementara Ric yang menyetir mobil.
"Apa, Hinez?"
"Iya, kau masih ingat dengan dia, kan? dia adalah dokter dan juga sahabatku," jawab Leo.
"Aku ingat dengan dia."
"Aku ingin Hinez menjadi pedamping pengantin pria," ujar Leo dengan senyum.
"Pedamping pengantin pria?"
"Benar, aku akan membahasnya saat kita makan bersama dengannya," jawab Leo memegang tangan Rose.
"Leo, ada yang ingin ku katakan padamu," kata Rose yang menunduk.
"Ada apa?"
"Apa kamu sudah lama mengenal Hinez?" tanya Rose.
"Sudah lama, kami adalah sahabat baik," jawab Leo.
"Kenapa, apa kamu baik-baik saja?"tanya Leo yang melihat Rose terdiam.
"Aku pernah memiliki seorang kekasih sebelum menikah dengan Lucas Hamilton," kata Rose.
"Siapa dia? kenapa selama ini aku belum pernah mendengar kau mengatakannya?" tanya Leo dengan penasaran.
__ADS_1