
Rose di bawa oleh anggota Edward menuju ke tempat tahanan keluarganya.
"Masuk!" bentak anggota Edward yang mendorong Rose masuk ke dalam gudang. kemudian mereka mengunci pintu dari luar.
"Tidak ku sangka kau juga di bawa ke sini," ketus Tommy yang sedang mengejek.
"Mungkin saja pria itu sudah kabur dan tidak melindunginya lagi," ujar Claudia dengan menghina.
"Anak durhaka, akhirnya kau kena balasannya, karena ulahmu kami juga menjadi sasaran mereka. dan kini kau juga harus berada di sini," kata Kian dengan nada ketus.
"Pa, Ma, mungkin saja pria itu sudah bosan dengan tubuhnya dan membiarkan dia di culik, mungkin saja pria itu sedang bersenang-senang dengan wanita lain sekarang," ketus Tommy yang dalam kondisi terikat.
Rose berjalan menghampiri kakaknya itu dan kemudian melayangkan tangannya ke wajah pria itu.
Plak.
"Aarrggh..." jeritan Tommy yang merasa kesakitan.
"Kurang ajar, berani sekali kau menampar kakakmu," bentak Claudia dengan nada tinggi.
"Putramu tidak pernah mendapatkan didikanmu, oleh sebab itu aku hanya mewakilimu untuk mendidik dia. agar mulutnya di jaga,"jawab Rose dengan senyum
"Lepaskan ikatanku!" bentak Tommy dengan nada tinggi.
"Lepaskan ikatanmu kemudian kau ingin menindasku? aku tidak begitu bodoh," ujar Rose dengan senyum.
"Kita hanya akan mati di sini karena ulahmu, lepaskan ikatan kami!" bentak Kian dengan nada tinggi.
"Walau aku lepaskan ikatan kalian, kita semua tetap tidak bisa keluar dari sini juga. jadi simpan tenaga kalian dari pada berteriak terus," ketus Rose.
"Semua ini karenamu, anak durhaka. jangan lupa kau margamu adalah Florencia," bentak Kian.
"Kau sudah salah, Tuan Florencia. margaku adalah Downson, Rose Downson. aku sudah ikut dengan nama keluarga suamiku," kata Rose dengan senyum.
"Jangan lupa di tubuhmu itu mengalir darahku," ketus Kian.
"Darah busuk darimu hanya mengotori tubuhku," ketus Rose.
"Kurang ajar," bentak Kian yang ingin bangkit akan tetapi dirinya di ikat di kursi.
"Lebih baik gunakan nafasmu dengan baik sebelum kita mati sebentar lagi," ujar Rose pada ayahnya itu.
"Semua ini karenamu, jika tidak kami tidak akan menjadi korban di sini," bentak Claudia dengan kesal.
"Selama ini kalian tidak pernah menganggapku sebagai putri kalian, dan aku sudah banyak berkorban untuk keluarga ini. dari cari uang demi makan tiga kalian dalam sehari, dan juga hutang kalian sehingga harus menjualku dan membuat ku menderita. apa masih tidak cukup semua ini?" tanya Rose dengan emosi.
"Kau adalah anak kami, sudah seharusnya kau berkorban demi kami," kata Claudia dengan tegas
__ADS_1
"Lalu, bagaimana dengan putra kalian yang selama ini tidak melakukan apapun? untuk apa kalian melahirkan dia kalau kerja dia hanya makan dan tidur? sekolahnya tinggi tapi tidak ada hasil sama sekali," ketus Rose dengan menghina kakaknya itu.
"Diam, pelac*r," bentak Tommy yang bernada tinggi.
Plak...
Tamparan yang di lakukan oleh Rose terhadap Tommy.
"Pelac*r yang kau maksudkan ini telah banyak mencari uang untuk makan mu dari kecil hingga dewasa, pelac*r yang kau maksudkan ini telah dikorbankan demi keluarga dan demi untuk sekolahmu yang tinggi itu. tanpa aku apakah kau mengira kau sanggup duduk di universitas tinggi? semua biaya sekolahmu dari hasil menjual ku kepada keluarga Hamilton. kau masih saja tidak tahu malu dan mengatakan aku adalah pelac*r," bentak Rose yang merasa kesal.
"Kalian tidak berhak menghinaku, aku adalah anak perempuan yang sudah kalian korbankan selama ini," bentak Rose pada ahli keluarganya.
Mansion Hamilton.
Ric membawa sejumlah anggotanya menerobos pagar rumah Hamilton dengan mobilnya.
Brak...brak...
Tabrakan mobilnya yang merusakan pagar tinggi itu.
Beberapa mobil berhenti di halaman kediaman mewah milik keluarga Hamilton. Ric dan anggotanya keluar dari mobil mereka.
"Hancurkan semuanya yang ada di sini! termasuk semua tanaman ini juga kalian cabut semuanya!" perintah Ric dengan tegas dan sambil membawa pistol.
"Tanaman juga di cabut?" tanya salah satu anggotanya merasa aneh.
"Baik," jawab anggotanya dengan serentak.
Ric menerobos ke dalam rumah Hamilton dengan beberapa anggotanya.
"Kalian kenapa ada di sini?" tanya Joice yang masih merasa takut pada mereka.
"Di mana suamimu?" tanya Ric dengan nada ketus.
"Keluar, ada apa lagi dengan kalian?" tanya Joice yang berlari ke pojokan sofa sana.
"Suami mu itu menangkap nona Florencia dan kini kami hanya ingin membalas saja apa yang dia lakukan," ketus Ric yang sambil menembak ke arah Vas bunga.
Dor...
Prang...prang...
Bunyi pecahan Vas akibat terkena peluru.
"Aaarrghhh..." teriakan Joice yang sedang ketakutan.
Prang....prang...
__ADS_1
Pukulan kayu yang di lakukan oleh anggota Ric memecahkan meja dan barang lainnya.
Prak...prak....prak....
"Aaarrghh..." teriakan Joice yang ketakutan.
"Hancurkan semuanya!" perintah Ric sambil menghancurkan lemari hiasan barang antik milik keluarga Hamilton.
Prang....prang....prak....prak....
Joice yang merasa ketakutan hanya bisa berdiri di pojokan sambil berteriak.
Semua anggota Ric menghancurkan semua barang yang ada di dalam rumah itu.
Setelah setengah jam kemudian Ric dan anggota telah menghancurkan semua barang-barang mahal yang ada di dalam rumah itu.
"Bawa wanita ini pergi!" perintah Ric pada anggotanya.
"Tidak...aku tidak mau. kalian ingin membawaku ke mana?" teriak Joice yang sedang ketakutan sehingga memucat wajahnya.
Anggota Ric menarik secara paksa wanita tua itu keluar dari rumahnya.
"Aku tidak mau ikut kalian, cepat lepaskan aku!" teriak Joice yang di tarik ke dalam mobil.
"Kalian ingin membawaku ke mana?" tanya Joice yang ingin keluar dari mobil akan tetapi ia di tahan oleh dua anggota Ric yang duduk di kiri dan kanannya.
"Bukankah kau ingin bertemu dengan suamimu? maka duduk dengan diam!" bentak salah satu anggota Ric.
"Wanita tua, kau tenang saja. kita lihat saja apa yang di lakukan suamimu terhadap calon istri bos kami. dan kami akan membalasnya dengan cara yang sama," ujar anggota Ric yang duduk di sebelah kirinya.
"Lepaskan aku! lepaskan aku!" teriak Joice yang melawan di dalam mobil. ia sambil berteriak dan menangis karena mengingat kejadian sebelumnya yang menimpa dirinya.
Gudang tempat kurungan keluarga Florencia. Edward baru tiba di depan gudang dan masih belum mengetahui jika istrinya telah di bawa menuju ke tempat yang sama.
Edward datang bersama dengan sejumlah anggotanya.
"Tuan," sapa anggotanya yang berdiri di luar gudang
"Hm...buka pintunya!" perintah Edward.
Anggotanya lalu membuka kunci dan kemudian mendorong pintu gudang itu hingga terbuka.
"Rose Florencia, akhirnya kau jatuh ke tanganku juga, sekian lama kau menantangku. menantuku, hahahahah." ujar Edward dengan tertawa.
"Mertuaku yang bodoh, apa kau mengira bisa mengurungku di sini?" tanya Rose yang bersikap tenang.
"Hari ini kau tidak akan bisa lari. mereka akan menikmati tubuhmu di depan keluargamu," kata Edward.
__ADS_1
"Tuan Hamilton, lakukan saja apa maumu! lepaskan kami dan biarkan aku membantu mu untuk menahan tangannya agar dia tidak bisa melawan," teriak Tommy dengan berharap.