Ranjang Psikopat Dalam Penjara

Ranjang Psikopat Dalam Penjara
Leo Mendatangi Rumah Edward


__ADS_3

"Kalau kalian mau mati coba saja," kecam salah satu pengawal yang melindungi Rose sambil menodong senjata ke arah anggota Edward.


Anggota Edward yang tidak memiliki senjata lagi-lagi hanya bisa terdiam saat beberapa pistol menodong ke arahnya.


"Macaulai, bawa mereka pergi!" perintah salah satu pengawal.


Anggota Edward di bawa pergi oleh mereka tanpa melakukan perlawanan.


"Nona, maaf. kami terlambat."


"Tidak apa-apa," jawab Rose.


"Apakah Anda terluka?"


"Aku tidak terluka, terima kasih karena datang di waktu yang tepat," ucap Rose.


"Sama-sama, kami keluar dulu!" jawab mereka dengan hormat dan melangkah keluar.


"Edward Hamilton, Joice, kalian akan menyesal suatu saat nanti, jangan salahkan aku membohongi kalian selama ini. karena kalau aku tidak melakukan itu, maka aku pasti akan mati di tanganmu lebih awal," gumam Rose.


Mansion Hamilton.


"Tuan, utusan kita gagal lagi, kali ini mereka di bawa pergi," ujar Zeko yang adalah salah satu bawahan Edward.


"Tidak berguna sama sekali, apa sudah tahu siapa yang melindunginya?" tanya Joice.


"Mereka memiliki senjata dan untuk saat ini masih belum tahu siapa dalang belakangnya," jawab Zeko.


"Kalau bukan karena janin itu, wanita itu pasti sudah ku suruh orang untuk membunuhnya," ketus Edward.


"Setiap kali tindakan kita selalu gagal, siapa yang begitu melindungi wanita itu, aneh sekali," bentak Joice yang merasa kesal.


Tidak lama kemudian nada dering masuk ke handphone milik Edward. saat Edward membaca nama panggilan masuk raut wajahnya langsung berubah.


"Hallo, masih ada keberanian kau menghubungiku, murahan," ketus Edward.


"Hahahahaha....Papa mertuaku yang baik, bukankah kau sangat merindukan cucumu ini, sehingga berulang kali ingin menculikku, Papa, jangan lupa. wanita hamil tidak boleh ketakutan ataupun berlari. andaikan aku berlari untuk menjauh dari anak buahmu bukankah sama saja janinku akan terguncang. aku yakin mertuaku yang baik pasti tidak ingin sesuatu yang tidak baik terjadi pada darah daging keluarga Hamilton," kata Rose.


"Kau mengancamku?"


"Mana berani aku mengancammu, kamu adalah mertuaku, dan juga kakek dari anakku. aku hanya ingatkan saja. andaikan aku keguguran karena ulahmu yang sering mengirim anggota untuk mengejarku, maka jangan salahkan aku."


"Atau kalau suatu saat sampai aku melakukan aborsi, kau juga jangan salahkan aku. karena mungkin saja di saat itu aku sudah jenuh karena di kejar oleh anggotamu terus."

__ADS_1


"Kalau kau berani melakukannya jangan salahkan aku mengambil nyawamu."


"Sebelum kau ambil nyawaku, aku yang akan menghabisi nyawa cucu mu ini, jangan lupa kau sudah tua dan tidak memiliki pewaris lain. hanya janin dalam kandunganku yang bisa menjadi penerusmu. andaikan kau masih menginginkan anak ini maka jangan ganggu hidupku lagi, maka aku akan melahirkan dengan tenang."


"Kau berani mengancamku."


"Aku hanya mengatakan yang sebenarnya saja, ingat satu hal. melahirkan anak ini atau tidak semua tergantung pada suasana hatiku. jangan lupa, suamiku sendiri saja aku bisa membunuhnya dengan tanganku sendiri, apa lagi darah dagingnya. jika kamu masih menyinggungku maka aku akan aborsi dan kemudian aku akan mengirim janin yang aborsi itu ke alamatmu," kata Rose dengan mengancam.


Sesaat kemudian Rose langsung memutuskan panggilannya.


"Edward Hamilton, aku akan membuat kalian merasa menyesal seumur hidup. kalian tidak pernah menganggapku selama aku menjadi menantu kalian dan bukan itu saja, kau juga berusaha membuatku dihukum seumur hidup. kini lihat saja pembalasanku," ucap Rose.


Mansion Hamilton.


"Edward, ada apa?" tanya Joice.


"Dia mengancamku, kalau kita menganggu dia lagi maka dia akan aborsi janin itu," jawab Edward dengan menahan emosi.


"Apa, dia mengancam kita dengan janin itu? berani sekali dia," bentak Joice.


"Lebih kita menghentikan dulu niat kita, aku tidak mau karena niat kita malah mengorbankan pewaris kita satu-satunya. andaikan jika dia memang hamil," kata Edward.


"Kita tunggu saja dia setelah melahirkan, selepas itu kita baru tangkap dia lagi," ujar Joice.


Syiuk...syiuk...syiuk...syiuk...syiuk...


Pukulan yang dilakukan oleh anggota Leo dengan mengunakan rotan.


"Aarrghh...." teriakan anggota Edward yang kesakitan. tubuh mereka semua terluka sangat parah karena telah menerima pukulan kuat sehingga mengeluarkan darah.


Syiuk...syiuk...syiuk...syiuk...syiuk...


"Aarrghh...." teriakan mereka dengan serentak.


Tidak lama kemudian Leo mendatangi ke penjara bawah tanah dengan ditemani oleh Kian dan Ric.


"Bagaimana rasanya disiksa? apakah rasanya sangat nikmat?" tanya Leo yang menghampiri anggota Edward yang badan mereka di penuhi oleh darah.


"Ingin menangkap istriku? kalian belum layak, tapi kalian jangan khawatir, karena aku pasti akan mengantar organ dalam kalian ke alamat orang yang mengutus kalian," kata Leo yang mengeluarkan pisau favoritnya.


"Jangan lukai kami! kami hanya menerima perintah," pinta salah satu anggota Edward dengan suara rendah.


"Apapun alasannya, kalian sudah salah besar karena telah menyinggungku. mana mungkin aku akan melepaskan kalian. lebih baik kalian mati saja," ujar Leo yang menusuk bagian jantung.

__ADS_1


Srek.


"Aarrghh...."


Leo langsung mencongkel jantungnya sehingga jatuh keluar dari tubuh korbannya.


"Aarrghh...." teriakan anggota Edward yang merasa sakit yang luar biasa dan tidak lama kemudian tewas dalam kondisi diikat.


Leo melakukan hal yang sama terhadap tahanannya yang lain.


Setelah satu jam kemudian Leo selesai menyiksa mereka semua dengan cara yang kejam.


"Kirim organ dalamnya ke depan rumah Edward Hamilton! dan bukan itu saja. buka paketnya dan tuang semua organ ini ke depan pintunya. aku ingin melihat apa mereka masih berani melawanku!" perintah Leo.


"Baik, Bos," jawab anggotanya dengan serentak.


Tidak lama kemudian Leo meninggalkan penjara bawah tanah itu.


"Bos, kita ingin ke mana?" tanya Ric yang berjalan di belakang Leo bersama Kian.


"Menjumpai Edward Hamilton," jawab Leo yang berjalan menuju ke mobil yang sudah dibukakan pintu oleh Emil.


Setelah semuanya masuk ke dalam mobil mereka pun meninggalkan tempat itu dan menuju ke alamat Edward.


Setelah setengah jam kemudian mobil Leo berhenti di depan rumah Edward Hamilton.


Emil membukakan pintu mobil belakang untuk bosnya itu. Leo keluar dan melangkah menuju ke pintu besar rumah yang dia datangi.


Ric mengetuk pintu rumah besar itu.


Tuk...tuk...tuk...tuk..


Tidak lama kemudian seseorang membuka pintu dari dalam.


Klek.


"Siapa kalian?" tanya Joice yang membuka pintunya.


"Anda adalah nyonya Hamilton?" tanya Leo.


"Benar, kamu siapa?"


"Aku datang mencari suamimu, dan sekalian ada kado besar untuk kalian berdua," jawab Leo dengan senyum.

__ADS_1


__ADS_2