Ranjang Psikopat Dalam Penjara

Ranjang Psikopat Dalam Penjara
Siksaan Untuk Emily


__ADS_3

Setelah selesai memasak Leo dan Rose makan bersama di ruang makan.


"Bagaimana rasanya?" tanya Leo yang sambil menyantap makanannya.


"Rasanya lumayan, hanya saja dagingnya terlalu hancur," jawab Rose yang tertawa kecil.


"Sangat sulit memotong ayamnya," jawab Leo.


"Bukan sulit, hanya saja kamu belum pernah melakukannya."


"Lain kali aku akan lebih berhati-hati," kata Leo yang menyuapi istrinya.


"Hahahaha...seorang pria kasar sepertimu memang tidak sesuai di dapur," kata Rose yang mengusik suaminya.


"Jangan tertawain aku! percaya atau tidak aku akan melakukan dengan baik suatu saat nanti,"ucap Leo yang menyuap istrinya


Emily yang di bayar harus di tahan oleh Emil setelah niatnya ketahuan oleh Leo dan Rose. ia di bawa ke markas tempat anggota Leo berkumpul. dan di kurung dalam penjara untuk menunggu perintah dari Leo.


Setelah beberapa jam kemudian Emil yang masih berada di markas menerima panggilan dari atasannya.


"Hallo, Tuan," sahut Emil yang menjawab pamggilan itu.


"Potong wanita itu menjadi beberapa bagian dan kirim ke alamat Shote Harters, dan ingat masukkan sebuah hadiah besar untuknya!" perintah Leo yang di seberang sana.


"Baik, Tuan,"jawab Emil.


Sesaat kemudian mereka memutuskan panggilannya.


"Ric, tuan perintahkan potong wanita itu menjadi beberapa bagian dan kirimkan ke alamat Shote Harters dan jangan lupa berikan dia sebuah hadiah besar," kata Emil pada temannya itu.


"Baik, aku sudah mengerti!" jawab Ric yang sudah paham dengan keinginan bosnya itu.


Ric Lalu menuju ke dalam penjara yang di mana tempat Emily di kurung. ia mengambil parang yang tajam untuk melakukan perintah dari bosnya.


"Baringkan dia di lantai!" perintah Ric pada anggotanya.


Anggotanya mengeluarkan Emily dari dalam penjara dan menahannya di lantai. ke dua tangan dan kaki Emily di tahan oleh empat anggota Ric.


"Tolong jangan sakiti aku! aku mohon padamu, aku hanya terpaksa saja dan tidak ada pilihan lain. tolong lepaskan aku!" tangisan Emily yang merasa ketakutan karena melihat parang yang di tangan Ric.


"Tidak ada pilihan lain? apa kau sedang berbohong? kau bisa kembali ke rumah bos, dan kau bisa saja memberitahu bos bahwa kau di ancam tapi kau tidak melakukannya," bentak Ric.


"Aku mohon jangan! tolong jangan!" pinta Emily yang histeris.


"Aku akan memulainya dari lengan mu, agar kau bisa merasakan nikmatnya saat di potong," ujar Ric yang mendekatkan parangnya di bagian lengan Emily.


"Tidaaaaaak....," tangisan Emily yang semakin ketakutan.


Ric mulai menghentakan parang tajamnya ke lengan kiri wanita itu.


Prak...


Hentakan kuat parang tersebut mengenai lengan wanita itu.

__ADS_1


"Aaarrrghhh.....," teriakan Emily yang kesakitan sehingga mengeluarkan air matanya


Potongan yang di lakukan oleh Ric masih belum putus akibat tulang wanita itu, sehingga Ric melakukan potongan ke dua kali


Prak ...


"Aaarrrgghh....,"


"Aaarrrgghh....,"


"Aaarrrgghh....,"


Setelah berhasil memutuskan tangan kiri wanita itu, Ric melanjutkan ke sebelah tangan kanan.


Prak ...


Potongan yang di lakukan Ric bagaikan sedang memotong daging ayam.


"Aaarrrgghh....,"


"Aaarrrgghh....,"


"Aaarrrgghh....,"


Teriakan Emily yang kesakitan dan akhirnya tidak sadarkan diri.


"Siram air!" perintah Ric pada anggotanya.


Anggotanya lalu mengambil sebaskom air menyiram wajah wanita itu. kini kondisi wanita itu sangat megenaskan ke dua tangannya sudah putus dan sisa ke dua kakinya dan kepalanya.


"Bunuh saja aku langsung!" pinta Emily yang sekarat.


"Terlalu beruntung kalau kau mati begitu saja, harus menyiksamu baru kami merasa puas," ketus Ric dengan senyum iblis dan melanjutkan aksi parangnya yang tajam ke paha wanita itu.


Prak...prak...


Dua potongan ke paha wanita itu, Ric menghentakan parangnya sehingga daging paha dan tulang wanita itu terputus.


"Aaarrrghhhh....," teriakan Emily yang lagi-lagi menanggung sakit yang luar biasa. tidak lama kemudian ia tidak sadarkan diri.


"Siram!" perintah Ric pada anggotanya untuk menyiram wanita itu sehingga sadar. ia memang sengaja ingin korbannya di siksa dalam keadaan sadar.


Byiur....


Siraman berulang kali mengenai wajah wanita itu sehingga pada akhirnya Emily tersadar dengan wajahnya yang memucat.


Saat wanita itu sadar Ric lagi-lagi memotong sebelah kaki wanita itu.


Prak....prak....


Potongan yang di lakukan oleh Ric dan berhasil memutuskan semua kaki dan tangan sehingga terputus dari tubuh wanita itu.tidak lama kemudian wanita itu tewas secara mengenaskan. sementara seluruh tubuh Ric di kotori oleh darah Emily.


"Kak, dia sudah tewas," kata salah satu anggotanya.

__ADS_1


"Potong lehernya dan kirim semua ini ke alamat Shote Harters!" perintah Ric yang menyerahkan parang kepada anggotanya.


Sisa kepalanya dan akhirnya di potong oleh anggotanya itu.


Prak...


Hentakan parang itu berhasil langsung memisahkan kepala Emily dari tubuhnya.


"Masuk ke peti dan jangan lupa hadiah besar itu letakan di bawah agar Shote tidak menyadarinya!" perintah Ric yang sedang lap wajahnya yang di penuhi oleh darah korbannya.


"Baik, Kak," jawab anggota dengan serentak.


Semua anggota melakukan perintah dari Ric dengan memasukkan hadiah besar ke dalam peti dan kemudian meletakan potongan anggota tubuh Emily yang sudah menjadi enam bagian.


Mansion Leo.


Ric menghubungi bosnya untuk mengabari bahwa perintahnya telah di laksanakan.


"Kerja yang bagus, kirim ke alamatnya dan membiarkan dia menikmatinya, kita tidak perlu turun tangan untuk membunuhnya," kata Leo dengan sambil tertawa dengan gembira.


"Baik, Bos," jawab Ric yang di seberang sana. dan tidak lama kemudian mereka memutuskan panggilannya.


"Leo," suara panggilan Rose yang melangkah masuk ke dalam ruangan pribadi suaminya. ia membawakan minuman untuk sang suaminya.


Leo bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menghampiri istrinya dan mengambil minuman dari tangan istrinya


"Rose, kenapa tidak menyuruh Sonya saja yang melakukannya?" tanya Leo yang sambil memapah istrinya melangkah ke sofa.


"Bibi juga sedang sibuk, dia memiliki banyak pekerjaan yang harus di selesaikan. lagi pula aku sudah tidak apa-apa," jawab Rose yang duduk di sofa.


"Jangan banyak bergerak dulu, aku tidak mau jahitan mu terbuka," ujar Leo yang mengkhawatirkan istrinya.


"Jangan cemaskan aku! jahitannya mulai mengering, dan tidak sakit lagi."


"Tanganmu masih terluka, dan jangan terkena air dulu!"


"Iya, aku tahu. aku hanya ingin melakukan pergerakan agar badan ku tidak lemas."


"Baiklah, duduk saja di sini dan temani aku!" ucap Leo dengan senyum.


"Apa aku akan menganggu kerja mu?"


"Tentu saja tidak, aku malah merasa senang jika kau menamaniku," jawab Leo dengan senyum.


"Bagaimana dengan meksiko? apakah bisnis mu hingga sekarang masih di ganggu?"


"Iya, aku ada mengutus anggota untuk melawan mereka, tidak ada masalah besar."


"Leo, pergilah kalau mereka memang membutuhkanmu! aku tidak apa-apa di sini," ujar Rose.


"Aku akan membawamu pergi bersama, setelah kamu sembuh," kata Leo dengan senyum.


"Menungguku hanya menunda kerjamu saja," ucap Rose.

__ADS_1


"Lebih penting istriku dari pada bisnisku, bisnis ku bisa di awasi oleh sejumlah anggota, tapi beda dengan istriku, aku yang akan mengawasimu karena aku tidak percaya pada yang lain," ujar Leo yang mencium wajah istrinya.


__ADS_2