Ranjang Psikopat Dalam Penjara

Ranjang Psikopat Dalam Penjara
Karma Joice


__ADS_3

"Tidak usah buang waktu kami, minggir!" bentak Kian yang mendorong pintu itu dengan kasar sehingga Joice memundurkan beberapa langkah.


Leo lalu melangkah masuk ke dalam rumah besar itu dan duduk di sofa ruang tamu.


"Joice, siapa yang begitu bising di sana?" tanya Edward yang baru turun dari lantai dua.


"Tuan Hamilton, kita bertemu lagi," sapa Leo yang memandang ke arah pemilik rumah itu yang sedang berjalan menuruni tangga.


"Kau....


untuk apa kau datang ke rumahku?" tanya Edward yang merasa tidak percaya dengan kemunculan Leo.


"Untuk menemuimu, dan tidak lama lagi kado yang ku siapkan untukmu akan tiba," jawab Leo dengan santai.


"Keluar!" perintah Edward yang menatap ke arah Leo.


Kian dan Ric mengeluarkan senjata dan menodong ke arah Edward.


"Kalau kau masih berani bicara sepatah kata lagi, jangan salahkan aku menembak kepalamu," kecam Kian.


Edward dan Joice merasa cemas dan hanya bisa diam pasrah.


"Duduk dan bicara baik-baik saja, aku tidak berniat jahat sama sekalipun. setelah keluar dari penjara aku sangat merindukanmu sehingga aku menyediakan kado besar untukmu. agar aku bisa melepaskan rindu," ucap Leo yang menatap senyum pada sepasang suami istri itu.


"Tuan Hamilton, bukankah Anda sangat hebat? tapi kenapa hari ini aku malah merasa kau tidak sehebat yang ku bayangkan?" ujar Ric yang menghampiri Edward dan memukul keras pada bagian perut pria itu.


Bruk...


"Aaughk...," jerit Edward yang merasa kesakitan.


"Aarrghhh...," teriakan Joice yang ketakutan dengan tindakan anggota Leo.


"Duduk dan bersantai saja, aku ingin bicara dengan kalian," kata Leo dengan mengeluarkan rokoknya. sementara Kian menyalakan api untuk bosnya itu.


"Saat aku di penjara aku menemui seorang dokter wanita yang meriksa kondisi Rose Florencia, dan aku juga mendengar perbincangannya bahwa nyonya Hamilton akan mengirim Rose Florencia ke penjara pria agar digilir oleh mereka sehingga hamil. dan setelah dia melahirkan maka dia harus melayani pria itu lagi dan seterusnya," kata Leo yang menatap tajam kepada mereka berdua.


"Apa hubunganmu dengan dia?" tanya Edward.


"Dia pantas mendapatkan perlakukan seperti itu, karena dia seperti pela.cur," ketus Joice.


"Apa kalian tahu apa akibat yang di terima oleh dokter itu adalah perbuatanku, dia digilir oleh sejumlah tahanan pria dan dua petugas wanita juga sama harus melayani sejumlah pria sehingga menjadi pasien tetap di rumah sakit jiwa," kata Leo dengan terus terang.


"Apa hubunganmu dengan dia?" tanya Edward.


"Dia adalah calon istriku."

__ADS_1


"A-apa? calon istrimu?" tanya Joice dengan merasa tidak percaya.


"Setiap kalian ingin menyakitinya sama saja kalian harus berhadapan denganku, aku akan mendatangi kalian. kau mengirim orang untuk menculiknya, dan utusanmu itu kini sudah berada di tanganku. nasibnya bagaimana kalian pasti sudah bisa menebaknya," ujar Leo sambil menghisap rokok.


Edward dan Joice yang mendengar ucapan Leo lagi-lagi membuat mereka hampir tidak bisa percaya.


Leo menepuk tangan sebagai perintah buat anggota yang berada di luar pintu.


Sesaat kemudian seorang anggotanya bersama enam pria asing masuk dan menghampiri bosnya itu.


"Bos, mereka sudah datang," kata anggotanya sambil menunjuk ke arah enam pria itu.


"Bagus...bagus...," jawab Leo dengan senyum.


"Siapa mereka?" tanya Edward yang melihat ke arah pria asing itu.


"Mereka adalah duda kesepian yang akan mencari pasangan. karena tipe istrimu sangat cocok melayani mereka. oleh sebab itu aku menyuruh mereka datang," jawab Leo dengan santai.


"Apa, kau sangat keterlaluan," ketus Edward yang bangkit dari tempat duduknya.


Bruk..


Pukulan yang dilakukan oleh Ric mengenai bagian perut Edward.


"Aukhh...."


"Kenapa kau diam saja? bukankah ini adalah keinginanmu untuk membalas menantumu? dan kini aku hanya ikuti caramu saja," kata Leo pada Joice.


"Tidak...tidak...aku tidak mau," jawab Joice yang gemetar disekujur tubuhnya.


"Kalian nikmatilah wanita ini, walau sudah tua dan berkerut tapi cocok untuk usia kalian," ujar Leo pada enam pria itu.


Enam pria itu lalu mendekati wanita itu, Edward yang ingin bangkit dari tempat duduknya lagi-lagi diancam oleh Ric dengan senjatanya.


"Jangan sembarangan! aku akan melapormu!" gertak Edward.


"Ha-ha-ha-ha...aku tidak takut sama sekali dengan ancamanmu," jawab Leo sambil tertawa.


"Jangan...jangan mendekat!" teriak Joice yang sedang ketakutan.


Enam pria itu menarik tangan Joice dan membawanya menuju ke kamar.


"Tidak mau...tolong aku, Edward!" teriak Joice yang sedang ketakutan.


"Joice...," teriak Edward.

__ADS_1


"Leo Downson, jangan melakukan itu! cepat suruh mereka berhenti!" teriak Edward.


"Berhenti!" perintah Leo pada enam pria itu. di saat mereka berhenti Edward menarik nafas lega karena Leo membatalkan niatnya. begitu pula dengan Joice yang terduduk ke lantai karena lemas di kakinya.


"Siapa yang menyuruh kalian melakukannya di kamar?" tanya Leo pada enam pria itu.


Saat Edward mendengar ucapan Leo lagi-lagi merasa terkejut dibuatnya. ia langsung menatap ke arah Leo yang duduk di hadapannya


"Apa maksudmu?" tanya Edward.


"Maksudku adalah lakukan saja di ruangan ini! dan biarkan suaminya melihat dengan mata sendiri jika istrinya sedang melayani pria lain!"perintah Leo pada enam pria asing itu.


"Jangan...aku tidak mau," teriak Joice yang lagi-lagi ketakutan sehingga menangis.


"Nyonya Hamilton, ini adalah karma untukmu, karena ingin wanitaku melayani sejumlah pria di dalam penjara. dan apa yang kau ingin lakukan pada orang lain tetap akan terjadi padamu," jawab Leo.


"Leo Downson, jangan melakukan itu!" bentak Edward.


"Jangan membuang waktu lagi, lakukan sekarang. tapi sampai dia mati karena aku sangat suka menyiksa orang hidup," perintah Leo.


"Baik," jawab enam pria itu dengan serentak.


Joice diseret ke ruangan pojokan sana dan dirobek pakaian atas bawah oleh enam pria itu dengan kasar.


Sementara Ric menarik lengan Edward menuju ke pojokan untuk memaksanya harus melihat istrinya itu digilir oleh pria itu.


"Edward, selamatkan aku!"teriak Joice yang merasa ketakutan.


"Edward, tolong aku...tolong," teriak Joice yang merasa ketakutan karena pakaiannya dirobek oleh mereka semua sehingga tanpa sehelai benang.


"Joice...Joice...," teriak Edward yang ditahan oleh Ric.


"Tolong lepaskan dia! apapun yang kau minta aku berikan padamu," pinta Edward pada Leo.


"Ha-ha-ha-ha...hidupku tidak kekurangan apapun, aku hanya ingin istrimu merasakan seberapa sakit dan malu jika melayani beberapa orang pria sekaligus," jawab Leo dengan tertawa senang.


Edward yang ingin bangkit menolong istrinya ia langsung ditendang oleh Ric berkali-kali.


Bruk...bruk...bruk....


"Aarrghhh...,"jeritan Edward yang kesakitan.


Ric lalu menjambak rambut pria tua itu dan memaksakan melihat ke arah istrinya yang akan digilir oleh beberapa pria itu.


Setelah wanita itu tanpa sehelai benang. salah satu pria itu langsung menyetubuhinya didepan Edward.

__ADS_1


"Aarrgghh...," teriakan Joice yang merasa malu dan sakit hati sambil melihat ke arah suaminya.


Edward yang melihat dengan mata sendiri ia hanya bisa pasrah karena tak berdaya.


__ADS_2