Ranjang Psikopat Dalam Penjara

Ranjang Psikopat Dalam Penjara
Rencana Penculikan


__ADS_3

"Kenapa kamu tertawa terus? apa ada yang lucu?" tanya Mancy yang menatap kesal ke arah Rose.


"Apa kau yakin ingin memeluk dan mencium anak harimau Leo?" tanya Rose dengan mengejek calon suaminya itu.


"Kenapa, memangnya tidak boleh?" tanya Mancy dengan menahan emosi.


"Boleh saja, itu hak kamu, tapi kamu harus minta izin dulu dengan Leo. kalau dia izinkan jangankan kau ingin menciumnya, bahkan kalau kau ingin memotong dan memasak sop juga tidak apa-apa," jawab Rose sambil menahan tawa.


"Sayang, apa kamu sudah puas tertawa?" tanya Leo yang menatap tajam ke arah Rose.


"Maaf, maaf. aku tidak sengaja," ucap Rose yang menahan tawanya dan melangkah masuk ke dalam.


"Kenapa dia tertawa terus? memang lucunya di mana?" tanya Mancy yang merasa kesal.


"Kamu sudah bisa pergi! kalau butuh sesuatu hubungi saja Emil," kata Leo yang ingin melangkah masuk.


"Sebentar, Kak!"


"Ada apa lagi?"


"Kak Leo, aku hanya ingin memastikan saja, apa kamu tidak akan menikahiku?"


"Tidak akan, karena aku akan menikahi Rose dalam waktu dekat. aku berharap di saat itu kau hadir sebagai adikku," jawab Leo.


"Apa setelah kalian menikah maka kau akan memgabaikanku?"


"Tentu saja tidak, kau masih bisa meminta bantuan padaku lewat Emil jika kau butuh sesuatu, hanya saja kita harus jaga jarak," jawab Leo.


"Baiklah, aku akan pergi dan tidak akan menganggumu lagi. semoga kalian bahagia," ucap Mancy yang merasa kecewa dan pergi meninggalkan kediaman Leo.


Setelah wanita itu pergi Leo melangkah masuk menemui calon istrinya yang duduk di salah satu ruangan sambil membolak balikan majalah.


"Kau sangat hebat sekali," ucap Leo yang menghampiri Rose yang duduk di sofa.


"Ada apa denganku?"tanyanya yang menoleh ke calon suaminya itu.


"Ada apa denganmu? kau memberitahunya tentang anak harimauku?"


"Aku hanya mengatakan anak harimau saja, dan tidak mengatakan dengan jelas," jawab Rose.


"Iya, atas ulahmu dalam sekejap anak harimauku menjadi terkenal," kata Leo yang menyentil dahi calon istrinya.


"Aakkh...,"

__ADS_1


"Kenapa salahkan aku? dia mengatakan kau sudah meniduri dia, tentu saja aku mengunakan cara ini untuk mengujinya, dan salahku di mana?"


"Dia berkata seperti itu padamu?"


"Iya, saat kau baru bebas dan dia menjumpaiku di penjara, niat dia ingin aku menjauh darimu, sehingga merekayasa cerita seperti ini. tentu saja aku harus mencari cara untuk mengujinya. ternyata tatomu itu berguna juga," jelas Rose dengan seraya bercanda.


"Apa kau menyukainya?" tanya Leo yang berbisik di telinga Rose dengan mengoda.


"Jangan bercanda! siapa yang menyukainya," ketus Rose.


"Apa kau merasa malu? bukankah kau sangat sayang pada anak harimauku?"


"Sudah, jangan berkata yang tidak-tidak!" ketus Rose.


Di sisi lain Mancy yang sedang merasa kecewa dan sedih berjalan sambil merenung masa-masa di saat ia bersama dengan Leo di saat dulu.


"Aku menyukai kak Leo dari kecil, dan kini aku malah harus relakan dia bersama wanita lain, apa aku sanggup? apa aku bisa melepaskan dia hidup bahagia bersama wanita lain? tanpa dia apa yang harus ku lakukan?" batin Mancy.


Gedung Supertall.


"Tuan Sandez, Tiger sudah pulang ke rumahnya, apakah kita akan bertindak?" tanya Young.


"Pasti akan bertindak, aku malah tidak sabar ingin membunuhnya," jawab Sandez dengan duduk bersandar.


"Sebelumnya lima belas pembunuh profesional tewas begitu saja di tangannya, dia hanya sendiri dan begitu mudah baginya untuk menewaskan mereka semua. dia tidak mudah," ujar Young yang berdiri di hadapan bosnya.


"Baik, Tuan," jawab Young.


Mansion Leo.


Leo sedang berada di ruang pribadinya sambil memeriksa dokumen bulanan dari perusahaannya.


"Bos, saat bos belum pulang, anggota Edward Hamilton ingin menangkap nona Florencia," kata salah satu pengawal Rose


"Anggota Edward Hamilton? berani sekali dia, lalu apa yang terjadi?"


"Kita memiliki senjata sehingga mereka tidak bisa berbuat apa-apa."


"Mereka pasti akan mengincarnya lagi, awasi dan lindungi Rose dengan ketat. dia sudah bekerja dan kalian wajib menjaga keselamatannya!"


"Baik, Bos."


Di siang hari itu Rose sedang bekerja di perusahaan fashion ia di lindungi oleh pengawalnya dari jarak jauh.

__ADS_1


Sementara dalam perusahaan tersebut terdapat beberapa petugas cleaning service yang berkelakukan aneh sedang mengamati Rose yang lagi fokus pada kerjanya.


"Apa itu wanita yang harus kita culik?" tanya pria asing itu dengan berbisik pada temannya.


"Iya, dia adalah sasaran kita. kali ini kita harus bisa membawanya ke hadapan tuan Hamilton."


"Di sini banyak karyawan mana bisa kita menangkapnya."


"Kita menunggu saja waktu yang tepat, setelah ia lepas kerja atau sudah jam makan siang kita baru bertindak."


"Baiklah."


"Apapun yang terjadi kita harus berhasil membawanya ke hadapan tuan Hamilton, karena jika kita gagal maka nyawa kita jadi taruhannya."


Jam dinding menunjukan pukul 12.00


Para karyawan semuanya meninggalkan pekerjaan mereka dan menuju ke kantin untuk makan siang. saat itu tinggallah Rose yang masih berada di ruangan dan sedang sibuk dengan tugasnya.


Anggota Edward yang menyamar sebagai petugas cleaning service melangkah masuk ke ruangan Rose.


"Nona Florencia, permisi. kami bagian dari cleaning service."


"Untuk saat ini saya masih sedang bekerja, mungkin besok saja ya!" jawab Rose yang menoleh ke arah dua petugas itu sambil meraih gunting yang di bawah mejanya.


"Nona, Anda bisa melanjutkan kerjanya, dan biarkan kami selesaikan tugas kami," kata salah satu petugas penyamar itu. dan tidak lama lagi kemudian temannya yang lain ikut masuk ke dalam ruangan tempat Rose bekerja.


"Penyamaran kalian sangat buruk, berapa upah kalian untuk menangkapku?"


"Nona Florencia ternyata tidak bodoh. jika begitu maka ikut kami pergi bertemu dengan tuan Hamilton! dia sedang menunggu kamu di sana."


"Ikut kalian bertemu dengannya bukankah sama saja aku cari mati?"jawab Rose.


"Tentu saja tidak, kalau saja dalam rahimmu mengandung janin pewaris keluarga Hamilton mereka pasti tidak akan membunuhmu."


"Janinku apa hubungannya dengan mereka? aku bahkan merasa jijik dengan janin ini, aku malah berencana ingin aborsi saja dari pada harus bertaruh nyawa melahirkan darah dagingnya," kata Rose.


"Kau tidak ada kesempatan melakukan hal itu."


"Apa kau yakin? aku bisa saja membunuh janin ini langsung di depan matamu, dari pada aku harus di bawa pergi oleh kalian. dan jangan berharap aku akan ikut," gertak Rose yang mengancam dengan guntingnya.


"Kalau kau melakukan itu, sama cari mati sendiri."


"Kalau aku ikut kalian pergi aku juga akan mati, lebih baik aku mati bersama janinku, dengan begitu kalian yang akan di salahkan," kata Rose yang sengaja megulurkan waktu.

__ADS_1


Brak...


Dobrakan pintu yang dilakukan oleh para pengawal Rose.


__ADS_2