
Keesokan harinya.
Kian, Ric dan Emil menjumpai Leo, mereka sedang duduk di halaman luar.
"Bagaimana kondisi di meksiko?" tanya Leo sambil menghisap rokok.
"Justin sedang mengutuskan sejumlah anggota untuk menyerang pihak lawan, mereka terlalu berani melewati kawasan kita," jawab Emil.
"Apa tujuan mereka melakukan itu?" tanya Kian pada Emil.
"Tujuannya adalah menganggu bisnis kita, Ryaden sering saja berusaha berebut langganan kita, dia sering merusak harga pasaran. sehingga beberapa langganan kita berpaling padanya," jawab Emil.
"Bisnisnya sama dengan kita, menjual senjata api dan bahan peledak lainnya. selama ini jarang ada yang ingin bekerja sama dengannya. oleh sebab itu dia mengunakan cara ini untuk mendapatkan langganan," ujar Ric.
"Trik murahan," ketus Kian.
"Sampaikan ke Justin jangan ragu untuk membunuh mereka! siapa saja yang menganggu bisnis kita bunuh saja!" perintah Leo pada Emil.
"Baik, Bos," jawab Emil.
"Bos, apakah tidak jadi berangkat hari ini?" tanya Ric.
"Rose terluka dan aku tidak bisa tinggalkan dia dalam kondisi seperti ini."
"Wanita yang cemburu memang sangat menakutkan, kita tidak menyangka Jenice Muffis bisa melakukan hal seperti ini apa lagi di tempat ini," kata Emil.
"Dia sudah mendapat balasan lebih parah seratus ganda," ucap Kian
"Dia pantas menerimanya," lanjut Ric.
Mansion Shote Harters.
"Tuan, dalam dua hari ini Leo Downson tidak keluar dari rumahnya mungkin saja dia sedang merawat istrinya," ujar anggota Shote Harters yang sedang berdiri di hadapan bosnya itu.
"Wanita itu mencari mati sehingga harus melukai istri psikopat gila itu, apa lagi sampai ke rumahnya lagi. bukankah hanya mencari masalah," kata Shote Harters yang menghabiskan minuman dalam satu tegukan.
"Dia harus disiksa habis-habisan sebelum tewas, dan lebih mengenaskan lagi dia harus di makan binatang buas, Leo Downson benar-benar pria gila."
"Dia dikenal sebagai psikopat gila, setiap tahanannya pasti akan di siksa sebelum dibunuh. hanya saja yang mengejutkan adalah wanita itu adalah mantan istrinya dan dia juga tidak ragu menyiksanya dengan begitu sadis. Rose Florencia adalah wanita yang sangat penting baginya."
"Tuan, bagaimana jika kita tangkap wanita itu? Leo Downson sangat mengutamakan dia, mungkin saja dengan begini dia akan jatuh ke tangan kita."
"Menangkap wanita itu?" tanya Shote Harters yang berpikir sejenak.
"Benar, Tuan. Leo Downson tidak memiliki kelemahan sama sekali. dan mungkin saja istrinya adalah kelemahan dia," ujar anggotanya.
__ADS_1
"Wanita itu berada di dalam rumah tidak bisa begitu mudah untuk menangkapnya." kata Shote.
"Bagaimana kita cari cara untuk menyelinap ke dalam sana?"
"Menyelinap ke dalam sana? apa kamu merasa mudah untuk masuk ke dalam sana?"
"Rumahnya memiliki banyak anggota, mungkin saja kita bisa membeli salah satu dari mereka."
"Coba lakukan saja! jangan sampai ketahuan!" perintah Shote pada anak buahnya itu.
"Baik, Tuan," jawab anggotanya.
"Leo Downson, Rose Florencia adalah istrimu, apakah dia akan menjadi kelemahanmu? aku ingin tahu apa reaksimu jika istrimu jatuh ke tanganku, apa mungkin seorang psikopat sepertimu akan jatuh ke tangan ku demi seorang wanita," batin Shote.
Beberapa hari kemudian.
Rose mulai berjalan sendiri dengan perlahan, tusukan yang dia terima tidak begitu dalam. selama beberapa hari Leo merawatnya dengan penuh perhatian dan tidak ke mana pun, selama ini Rose hanya di rawat di dalam rumah, demi keselamatan istrinya Leo merawat dengan tangan sendiri, menganti perbannya dan juga menyuap istrinya makan tiga kali dalam sehari.
Rose berjalan menuruni anak tangga, dengan perlahan kakinya melangkah.
"Nyonya, apakah butuh sesuatu?" tanya seorang pelayan yang muncul di hadapan Rose.
"Tidak, aku hanya ingin jalan sebentar, di mana tuan?"
"Baiklah, aku akan berjalan sendiri," ucap Rose yang melangkah pelan hingga ke lantai dasar.
"Nyonya, apa ingin makan sesuatu?"
"Jus saja."
"Baik, Nyonya. silakan menunggu sebentar."
Rose lalu melangkah ke ruang tamu dan duduk di sofa.
"Sudah lima hari aku berbaring di atas kasur, selama lima hari Leo selalu menjagaku, dan tidak ke perusahaannya. dia harus mengurus perusahaannya yang masih dalam kondisi belum begitu stabil dan juga harus merawatku," batin Rose.
Tidak lama kemudian pelayan itu membawakan segelas jus untuk Rose.
"Nyonya, silakan di minum!" ujar pelayannya yang memberikan segelas jus itu kepada Rose.
"Terima kasih," ucap Rose.
"Apakah tuan sudah makan?" tanya Rose.
"Belum, Nyonya. tuan sedang bersama dengan tuan Emil. mereka sedang sibuk dengan urusan perusahaan," jawabnya dengan sopan.
__ADS_1
"Di mana bibi Sonya?"
"Bibi pergi belanja untuk bahan dapur."
Rose meletakan minuman jus itu ke atas meja dan berdiri dengan perlahan.
"Nyonya ingin ke mana?" tanya pelayan itu yang ingin memapah Rose
"Tidak apa-apa, aku akan berjalan sendiri saja. aku ingin ke dapur. kamu kerjakan saja tugasmu!"
"Nyonya masih terluka jangan banyak bergerak dulu, biarkan saya yang melakukannya. bagaimana kalau nyonya duduk saja di sini dan minum jusnya. perintahkan saja pada saya jika ingin melakukan sesuatu."
"Siapa namamu?".
"Nama saya adalah Emily, Nyonya."
"Maaf belum tahu siapa namamu, karena aku belum mengetahui semua nama pekerja sini," ucap Rose dengan senyum.
"Nyonya, tidak apa-apa," jawab Emily dengan sopan.
"Berikan jusnya padaku, aku akan meminumnya nanti. aku ingin siapkan sarapan untuk Leo. selama lima hari dia sibuk merawatku terus. kali ini biarkan aku yang melakukannya sendiri!"
"Baik kalau begitu, Nyonya," jawab Emiliy yang memberikan segelas jus itu kepada Rose
"Kalau nyonya butuh bantuan panggil saja saya," kata Emily.
"Pergilah lakukan kerjamu! jika aku butuh sesuatu aku akan memanggilmu," ujar Rose yang melangkah menuju ke dapur.
"Baik, Nyonya," jawab Emily dengan menunduk.
Rose berjalan ke dapur dengan berniat ingin menyiapkan makanan untuk suaminya. ia mengeluarkan bahan-bahan dapur dari kulkas dan meletakan ke meja dapur.
Sementara Leo bersama Emil di ruangan kerjanya sedang membahas urusan perusahaannya yang sempat terguncang sebelumnya akibat ulah Shote Harters.
"Tuan, perusahaan kita tanpa pemegang saham, akan tetapi ada beberapa pebisnis yang akrab dengan tuan ingin bekerja sama dengan kita. mereka ingin menanam modal ke perusahaan kita," ujar Emil yang sedang duduk berhadapan dengan atasannya itu.
"Aku tidak butuh modal mereka, perusahaan kita tidak akan bangkrut walau tanpa pemegang saham," jawab Leo yang sambil membaca dokumen.
"Tuan, walau pun begitu bukankah lebih baik ada pemegang saham? dengan begitu kita ada pendukung untuk modal?"
"Tidak perlu, tanpa pemegang saham aku masih sanggup untuk mengelola bisnisku, lagi pula adanya pemegang saham juga tidak berguna, di saat perusahaan ada masalah mereka memilih pergi. jadi lebih sendiri saja," jawab Leo dengan tegas.
Emily yang sedang membersihkan ruangan tamu lalu ia melangkah ke dapur dan sedang melihat Rose yang lagi sibuk. kemudian ia melihat segelas jus yang dia berikan kepada Rose tadi telah habis di minum oleh istri majikannya itu.
"Dia sudah menghabiskan jus itu, baguslah. tidak lama lagi dia akan jatuh ke tanganku," batin Emily.
__ADS_1