Ranjang Psikopat Dalam Penjara

Ranjang Psikopat Dalam Penjara
Penembak Jauh


__ADS_3

Leo bangkit dan menghampiri Edward yang sedang dipaksa melihat istrinya sedang digilir oleh beberapa pria.


"Edward Hamilton, bagaimana rasanya saat melihat istrimu digilir orang? jangan salahkan aku melakukan ini padanya. karena ini juga adalah bagian dari rencananya untuk mencelakai Rose Florencia. hanya saja dia sudah tua, jika tidak, maka dia pasti akan hamil. setelah melahirkan maka di saat itu aku juga akan mencari pria lain lagi untuk menghamilinya," kata Leo yang menjongkok dan bicara dengan jaraknya yang dekat dengan pria itu.


"Kau baji.ngan, kau akan mendapatkan karmanya," ketus Edward.


"Jika aku adalah baji.ngan maka kau adalah binatang, berulang kali berniat jahat pada wanita milikku. dan akhirnya kau mendapat balasan yang setimpal. jangan pernah memikirkan menganiayai orang lain terutama terhadap wanita yang akan menjadi pedamping hidupku," kecam Leo.


"Aaarrghhh...." jeritan Joice yang sangat histeris dan merasakan gerakan cepat di bagian bawahnya.


"Hahahahahaha....Joice Hamilton, apakah nikmat rasanya karena kau melayani enam pria di depan suami mu?" tanya Leo dengan mengejek.


Joice menatap Leo dengan tatapan yang penuh dendam.


"Kenapa, apa kau terluka? sakit hati? bahkan sangat membenciku? kondisimu sekarang seperti seorang pela.cur tua yang sedang jual diri, nikmatinya saja selagi kau masih bernafas. bukankah kau ingin Rose Florencia mendapat penghinaan seperti ini? asal kau tahu, dia akan ku jadikan sebagai ratu di rumahku, sedangkan dirimu menjadi wanita tua yang menjijikan sekali," ketus Leo dengan menghina.


"Aaarrghh...." teriakan Joice yang merasa sakit hati karena sedang digilir oleh mereka.


"Hahahahahaha....keluarga Hamilton sampah, jangan coba-coba melawanku. kalian juga jangan lupa satu-satunya darah daging putra kalian yang berada di dalam kandungan calon istriku akan kami aborsi," kata Leo dengan sengaja.


"Kau akan disambar petir," bentak Edward.


"Lucas putramu adalah anak tidak berguna, istriku tidak pantas melahirkan anak dia, tapi kalian jangan khawatir, setelah selesai aborsi aku akan mengirim janin itu untuk kalian," ujar Leo yang ingin melangkah pergi.


Setelah setengah jam kemudian enam pria itu selesai menyetubuhi wanita itu.


"Bagaimana, apa kalian puas? kalau masih belum lakukan saja lagi tidak apa-apa!" tanya Leo.


"Masih kalah jauh dari wanita hiburan, hanya saja karena gratis makanya kami lakukan saja," jawab salah satu pria itu.


"Hahahahaha...wanita ini mana bisa di bandingkan dengan wanita club. wanita tua ini bahkan dilempar ke jalan juga tidak ada yang mau," ujar Leo dengan tertawa.


"Bos, paketnya sudah datang," kata Ric yang melihat anggota lain yang mengirim peti berisi organ-organ dalam.


"Bawa masuk! dan suruh mereka tuang semua isinya!" perintah Leo pada anggotanya.


Joice tergeletak tidak berdaya, ia hanya terdiam dan menetes air mata. bagian kewanita.annya di banjiri oleh benih enam pria itu. sementara Edward termenung melihat kondisi istrinya.


Tidak lama kemudian anggota Leo membawa peti itu masuk. mereka membuka penutupnya dan setelah terbuka semua, mereka pun menuang semua isi nya ke lantai.

__ADS_1


Edward dan Joice melihat organ-organ manusia langsung histeris dan berteriak.


"Aaarrgghh....," teriak Joice yang berubah posisi duduk ke pojokan tanpa pakaian.


"Edward Hamilton, ini adalah kadoku untukmu, semua organ ini adalah milik anggotamu yang ingin menangkap istriku," ujar Leo yang bangkit dari tempat duduknya.


"Nyonya Joice, jangan coba-coba berpikir untuk melukai istriku lagi! dia bukan menantumu lagi, tapi dia adalah istriku. bagi siapa yang berani melukainya akan mendapat balasan dariku, karena aku adalah pelindungnya," kecam Leo yang kemudian melangkah pergi.


Setelah Leo meninggalkan rumah mewah itu, Joice yang berteriak tambah histeris saat melihat semua organ yang ada di depan matanya.


Edward melepaskan jas luaran dan menutupi tubuh istrinya yang sedang ketakutan dan memucat wajahnya. tidak lama kemudian wanita itu tidak sadarkan diri di dalam pelukan suaminya.


Dalam perjalanan


Leo yang berada di dalam mobilnya sambil menatap luar jendela, sementara Emil sedang menyetir dan Ric duduk di sampingnya. sedangkan Kian sedang melakukan tugasnya.


Leo mengeluarkan handphonenya dan menghubungi seseorang.


"Hallo, Bos," sahut orang yang di seberang sana.


"Hapus mereka semua!" perintah Leo pada anak buahnya.


Orang yang dihubungi oleh Leo yang tak lain adalah Kian. Leo dan Kian telah sadar dari awal pembunuh dari utusan Sandez telah mengikuti mereka dari awal.


Kian bersama pengawal lainnya berbagi tugas dan untuk membunuh musuh mereka yang adalah penembak jarak jauh. kini Kian sedang menaiki anak tangga di salah satu gedung yang di mana penembak itu sedang menunggu kedatangan mobil Leo yang melewati jalan itu.


"Apa kau sedang menunggu seseorang?" tanya Kian yang menodong ke arah penembak itu dari belakang.


Penembak itu menoleh dengan perlahan karena telah sadar dirinya dalam bahaya.


"Aku tidak tahu apa maksudmu," jawab penembak itu yang membantah


"Orang yang kau incar tidak akan melewati jalan ini. walau kau menunggu hingga malam juga tidak berguna," kata Kian yang sedang mengancam pria itu.


"Turunkan senjatamu! rencanamu sudah terbongkar," ketus Kian yang langsung melepaskan tembakan ke arah pria itu.


Dor...


Suara tembakan yang menembus kepala penembak itu dan akhirnya tewas.

__ADS_1


"Tidak berguna," ketus Kian.


Setelah selesai membunuh, Kian langsung meninggalkan gedung itu. sementara temannya yang lain membunuh utusan Sandez lainnya.


Setelah setengah jam kemudian.


Leo tiba ke kediamannnya.


"Bos, semua penembak dari utusan Sandez telah di bunuh," ucap Kian.


"Berapa orang?"


"Lima orang penembak jitu," jawab Kian.


"Dari dulu hingga kini masih belum puas dia bermain," ujar Leo dengan menghabiskan wiskey yang di dalam gelasnya.


"Emil, lakukan satu hal untukku!" perintah Leo.


"Ada apa, Tuan?" tanya Emil.


"Aku ingin kau pergi ke rumah sakit," jawab Leo yang sambil menuangkan minuman ke gelasnya.


"Baik, Tuan. saya mengerti," kata Emil dengan menurut.


Malam hari.


"Rose, coba kamu lihat majalah gaun pengantin, aku menyuruh Emil mengumpulkan beberapa majalah model baru gaun pengantin," kata Leo yang memberikan majalah kepada Rose yang sedang duduk di sofa kamar.


"Iya, aku akan memilihnya," jawab Rose dengan senyum.


"Rose, ada yang ingin ku tanyakan padamu?"


"Tanya saja, ada apa?"


"Kapan kau berencana ingin memberitahu Edward tentang hamil palsu mu itu?"


"Aku tidak berencana memberitahu mereka, aku malah ingin memberitahu mereka aku telah melakukan aborsi, agar dia sakit hati," jawab Rose


"Pikiranmu denganku kenapa bisa sama? aku juga berencana memberitahu mereka bahwa kamu melakukan aborsi dan mengirim janinnya kepada mereka. aku tidak sabar ingin melihat apa reaksi mereka," kata Leo.

__ADS_1


__ADS_2