
"Ke-kenapa ada tato anak harimau?" tanya ketua petugas yang melihat ke arah pusaka milik Leo.
"Ini terbukti jika pusakaku ini belum ternoda, dan masih bersih. dan ini tandanya adalah aku tidak melakukan apapun terhadap wanita itu," jelas Leo yang menaikan celananya.
"Omong kosong, itu hanya kelakuan orang yang tidak ada kerjaan," ketus Edward.
"Tatoku ini masih utuh dan tidak ada lecet sama sekali, apa kau tahu apa sebabnya? karena, kalau aku sudah pernah melakukan hubungan dengan wanita, maka tato ini tidak akan utuh lagi. apa kau merasa iri karena milikku masih asli dari mu?"kata Leo dengan mengejek.
Ketua petugas kebingungan saat mendengar penjelasan tahanannya. itu.
"Pak tua, jika kau ingin mencari masalah denganku, lebih baik kau selidiki aku dulu. jika tidak, maka kau akan menyesal," kecam Leo.
"Kau mengancamku? kau tidak tahu aku siapa?" tanya Edward yang bangkit dari tempat duduknya.
Ketua petugas berkeringat dingin saat melihat dua orang yang sama-sama memiliki kekuasaan saling berdebat di hadapannya.
"Edward Hamilton yang putranya di bunuh oleh istrinya, putramu selalu bergantian wanita sehingga membawa pulang ke rumah. dan pada akhirnya dia di bunuh. beritanya sudah tersebar. istrinya membunuhnya dan di jatuhi hukuman seumur hidup, mungkin saja ini adalah bagian dari rencanamu," ujar Leo.
"Ini bukan urusanmu, Leo Downson, tidak ada gunanya kau melawanku. karena ini hanya akan membuatmu mengalami kesulitan," kecam Edward.
"Edward Hamilton, ingin mengancamku? kau belum layak. jika kau ingin melawanku aku sarankan lebih baik kau selidiki tentangku dulu," kata Leo dengan senyum sinis.
"Siapapun dirimu kau hanyalah tahanan rendahan," ketus Edward.
Leo melangkah maju mendekati Edward dengan jarak yang sangat dekat, sehingga membuat Edward terduduk di kursi.
"Menghinaku? apakah kau memang ingin semua pria menikmati istrimu yang sudah tua itu?" kecam Leo di telinga Edward.
"Kurang ajar," ketus Edward yang mengangkat tangannya dengan berniat ingin menampar pria itu
"Dengan putramu saja kau tidak bisa mendidiknya, apa kau mengira kau layak menamparku?" bentak Leo yang mengeluarkan pisau favoritnya. sehingga menghentikan niat Edward yang ingin menamparnya tadi.
Ketua petugas yang melihat tahanannya mengeluarkan pisau itu ia pun semakin merasa cemas.
"Berani sekali kau ingin mengancamku!" bentak Edward.
__ADS_1
"Aku bukan hanya ingin mengancammu, aku juga bisa membunuh mu kapanpun aku mau," kecam Leo dengan mendekatkan pisau ke wajah pria tua itu.
"Kau akan hancur jika kau melakukannya," jawab Edward.
"Hahahahaha....hancur? bagaimana kalau aku mencobanya? dan kita lihat saja siapa yang akan hancur nantinya," jawab Leo dengan menyayat wajah pria tua itu sehingga mengeluarkan darah.
"Kau...."ucap Edward yang merasa sakit di wajahnya.
Ketua petugas itu yang melihat aksi Leo ia langsung bangkit dari tempat duduknya dan menjauhkan jarak Leo dari Edward.
"Leo, jangan...jangan melakukan itu!"
Edward menyentuh luka wajahnya yang mengeluarkan darah itu dan merasa sangat emosi.
"Aku akan menuntutmu karena kau sudah melukaiku," kecam Edward.
"Hahahahah...lakukan saja, Pak tua!" jawab Leo dengan tertawa.
"Aku ingin melihat dirimu itu sehebat apa, kenapa sehingga hakim dan jaksa bertekuk lutut padamu," kata Leo menantang pria itu dan kemudian melangkah pergi dari ruangan.
"Tuan Hamilton, apa Anda tidak apa-apa? luka Anda berdarah, Leo Downson memang sangat kejam. semua orang yang di sini sudah tahu sifatnya," kata ketua petugas itu.
"Kejam? aku juga kejam dan aku ingin melihat sekejam apa dirinya," bentak
Edward.
"Aku peringatkan padamu apapun yang terjadi padanya jangan coba-coba untuk ikut campur! aku mau melihat sehebat apa dia," kecam Edward yang kemudian melangkah keluar.
"Huff....apa dia akan mengirim pembunuh ke dalam penjara untuk menghabisi si Devil itu? aku yakin utusan dia bakal kehilangan usus dan kemudian di kirim ke alamatnya,"ucap ketua petugas itu.
Leo menuju ke kamar wanita yang dia pilih untuk menjadi pasangannya itu.
Klek.
"Hai...Rose Florencia, apa kabar denganmu hari ini?" sapa Leo yang melangkah masuk.
__ADS_1
"Kenapa kau ke sini lagi?" tanya Rose yang sedang duduk di atas ranjang.
"Untuk menemuimu, apa kau sudah buat keputusan?" tanya Leo yang menghampiri wanita itu yang sedang menarik selimut menutupi tubuhnya.
"Aku menolak tawaranmu,"jawab Rose.
"Tapi sayang sekali kau tidak bisa melakukan itu, karena apa yang ingin ku lakukan aku pasti akan melakukan hingga tuntas,"kata Leo dengan duduk di tepi kasur.
Rose yang ingin segera turun dari ranjang langsung di tahan lengannya oleh pria itu, dan di peluk dari belakang sehingga ia tidak bisa melawan..
"Lepaskan aku!" bentak Rose dengan meronta.
"Jangan meronta lagi! jika tidak aku akan melakukannya sekarang juga," kecam Leo yang menjilati samping wajah Rose yang di peluk erat olehnya.
"Jangan! cepat lepaskan aku!" teriak Rose yang berusaha ingin melepas diri akan tetapi dirinya di peluk erat dari belakang.
"Rose Florencia, aku sudah tetapkan kau sebagai wanitaku, walau aku sangat ingin melakukannya sekarang, akan tetapi aku tetap akan menunggu hingga besok, sesuai dengan apa yang ku katakan sebelumnya," kata Leo menyentuh bagian dada Rose yang menonjol itu.
"Singkirkan tanganmu! dasar cabul," bentak Rose yang tak berdaya karena ke dua tangannya tidak bisa terlepas dari pelukan pria itu.
"Rose Florencia, tolak atau menerima tawaranku aku tetap akan memberi mu kehidupan mu yang mewah. aku akan menjadikan hidupmu seperti ratu, tinggal di rumah yang mewah dan untuk selamanya. kehidupanmu akan lengkap dan tidak akan kekurangan apapun," kata Leo yang mencium leh*rnya Rose yang dalam pelukannya.
"Hentikan! aku tidak berminat dengan tawaranmu, aku tidak mau menjadi simpanan orang. kau adalah pria yang sudah beristri tapi masih saja mencari wanita lain, jadi apa bedanya dirimu dengan pria yang di luar sana?"ketus Rose.
"Semua pria sama saja, selalu saja suka bermain di luar walau sudah memiliki seorang istri di rumah. hari ini kau mengkhianati istimu dan suatu saat kau akan melakukan hal yang sama padaku. setelah kau sudah bosan di saat itu, aku akan di usir olehmu," bentak Rose.
Leo memeluk Rose dengan erat dan sambil mencium leher wanita itu.
"Dia hanyalah wanita yang akan ku ceraikan setelah aku keluar dari penjara, sementara dirimu akan menjadi wanitaku dan setiap saat harus berada di sisiku," kata Leo dengan melanjutkan mencium le.her Rose yang ada di pelukannya.
Rose berusaha meronta akan tetapi ia tidak berdaya karena seluruh tubuhnya di peluk oleh pria itu.
"Cepat hentikan!"
"Untuk hari ini aku akan melepaskan mu, dan besok aku ingin kau menyerahkan dirimu padaku. aku sudah memilihmu jadi kau harus selalu bersama denganku, dan jangan berharap bisa jauh dari hadapanku," kata Leo.
__ADS_1