Ranjang Psikopat Dalam Penjara

Ranjang Psikopat Dalam Penjara
Niat Edward


__ADS_3

"Kenapa bisa terjadi seperti ini? dia seharusnya membusuk di dalam penjaranya, dan bukannya bebas," teriak Joice yang merasa kesal.


"Apa yang terjadi? apakah Leo Downson yang melakukannya? jika tidak, wanita itu mana mungkin ada kenalan yang lain dan bisa bebas begitu saja," ketus Edward yang sedang menahan emosi.


"Edward, cepat jumpai mereka dan bertanya apa yang sudah terjadi! kita sudah menghabiskan sejumlah uang hanya untuk buat wanita itu membusuk di penjara, dan kini dia malah bebas," kata Joice dengan penuh emosi.


"Aku ingin memastikan dulu apa wanita itu hamil atau tidak, kalau dia memang hamil maka kita tunggu saja dia melahirkan anak itu, dan setelah kita ambil baru lakukan sesuai rencana kita, aku tetap ingin dia di perk*sa oleh tahanan pria secara bergilir sehingga hamil. dan seterusnya. aku ingin dia merasa sakit setiap saat dan hidup seperti di dalam neraka," ujar Joice dengan penuh dendam.


"Aku akan datangi mereka," ujar Edward merasa kesal dan melangkah pergi.


Setelah setengah jam kemudian.


Edward mendatangi Hakim Clister dan para jaksa lainnya dengan penuh emosi.


Brak...


Bantingan pintu yang di lakukan oleh Edward yang sedang merasa kesal.


"Clister...."teriak Edwars dengan penuh emosi.


"Tuan Hamilton," sebut hakim Clister yang duduk bersama dengan para jaksa.


"Apa yang kalian lakukan...ha? Kenapa kalian membiarkan dia keluar dari penjara?'' tanya Edward dengan kesal.


"Tuan Hamilton, kami tidak bisa melakukan apa-apa, karena dia memiliki dukungan di belakangnya," ujar Clister yang bangkit dari tempat duduknya.


"Dukungan apa yang dia dapat? siapa orangnya? cepat beritahu aku?" tanya Edward dengan suara keras.


"Dia adalah Leo Downson, dia mengunakan anak-anak kami untuk mengancam kami agar wanita itu segera di lepaskan," jawab jaksa Andy.


"Kenapa kalian bisa begitu tidak berguna sehingga membebaskan wanita itu? sudah berapa biaya yang ku habiskan selama ini hanya ingin wanita itu membusuk dan di siksa di dalam penjara," bentak Edward.


"Tuan Hamilton, Leo Downson mengunakan anak kami sebagai ancaman sehingga kami tidak ada jalan lain dan hanya bisa menurut. Kami tidak mau anak kami menjadi korban hanya karena wanita itu. Tuan Hamilton, jika Anda merasa kesal. Anda bisa langsung mencarinya dan bertanya padanya. kami tidak mau mengorbankan buah hati kami hanya karena keinginan mu," bentak Jaksa Smith yang merasa kesal.


"Kalian jangan lupa telah menerima uangku, aku bisa saja menuntut kalian semua," bentak Edward dengan sangking kesalnya.

__ADS_1


"Kalau kau ingin melakukannya juga tidak apa-apa, kami hanya akan duduk di dalam penjara akibat menerima suap, akan tetapi dirimu juga akan tinggal bersama kami di dalam penjara," ketus jaksa Javier.


"Tuan Hamilton, kamu adalah orang kaya. apa kamu ingin menghabiskan sisa waktumu di dalam penjara? dan bagaimana dengan istrimu yang sudah tua itu? apa dia harus hidup bersendirian tanpa seseorang di sisinya?" bentak jaksa Andy pada Edward.


"Aku tidak akan tinggal diam, aku akan mencari cara untuk memenjarakan kembali wanita yang membunuh anakku," teriak Edward yang merasa kesal.


Edward yang emosi lalu pergi melangkah keluar.


"Gila sekali, tidak mungkin. kita harus mengorbankan anak kita demi dia. pada hal ini adalah kesalahan anaknya sendiri yang tidak bisa menghargai seorang istri," ketus jaksa Andy.


"Biarkan saja! kita tidak usah peduli. asal keluarga kita selamat. kita utamakan saja keluarga kita. uang dia tidak bisa memberi jaminan untuk kita," ujar Clister.


Edward yang melangkah keluar karena merasa kesal ia langsung menghubungi seseorang lewat handphonenya.


"Hallo, Tuan," sahut seorang pria yang di seberang sana.


"Selidiki di mana tempat tinggal Rose Florencia sekarang! aku ingin mengetahuinya dalam waktu dekat!" perintah Edward dengan kesal.


"Baik, Tuan."


Tempat tinggal keluarga Florencia.


Kian Florencia dan istrinya yang mendengar kabar tentang bebasnya putri mereka bukannya merasa senang malah merasa tidak senang.


"Kenapa nasibnya bisa begitu baik dan bisa bebas begitu saja? Bukankah kemarin sudah di jatuhkan hukuman seumur hidup?"tanya Claudia.


"Dia sudah bebas asal jangan mengemis tinggal di sini saja," ketus Tommy yang masih merasa kesal dengan adiknya itu.


"Dia lebih rela menyimpan uangnya dari pada memberikan kepada Tommy dan sekarang dia menikmati hidupnya sendiri. dasar anak durhaka," ketus Claudia merasa kesal.


"Bukankah semua ini adalah ulah Edward Hamilton untuk membuat Rose harus meringkus ke dalam penjara, dan sekarang kenapa dia bisa bebas begitu cepat, walaupun ada bukti dia membela diri. setidaknya dia juga harus menjalani hukuman selama beberapa tahun, akan tetapi dia hanya di tahan selama sebulan lebih," ucap Kian yang merasa aneh.


"Apa ada yang mendukungnya? dan tinggal di mana dia?apakah dia menikmati uang peninggalan dari suaminya itu? kalau begini seharusnya kita tinggal bersamanya juga. karena kita yang mencarikan pria yang kaya untuk menjadi suaminya," ujar Claudia.


"Kita tidak perlu melakukan hal itu, karena ini tidak ada hubungan dengan kita sama sekali. biarkan saja dia tinggal di mana, asal dia tidak kembali ke sini lagi," kata Kian yang sedang menonton berita mengenai putrinya itu.

__ADS_1


"Dia sudah bebas dan menikmati hidup, sementara aku harus mengurung diri di dalam rumah karena masalah itu. aku merasa sangat tidak puas," ketus Tommy.


"Sudahlah, setelah masalah ini reda kamu bisa pergi keluar kota untuk mencari pekerjaan lainnya," ujar Claudia yang duduk di samping putranya.


"Aku mendengar kabar Herles Muffis telah meninggal, dan perusahaan dia juga sudah bangkrut," ujar Kian.


"Perusahaan besar bisa tumbang kapanpun di saat kejadian memalukan itu terjadi," kata Claudia.


"Orang kaya tidak bisa bebas karena bisa merusak reputasinya jika salah langkah. dengan perbuatan Jenice cukup untuk membuat perusahaannya mengalami kebangkrutan," ujar Kian.


"Tommy, kau harus ingat jangan bertemu dengan wanita itu lagi! dia hanya akan memalukan keluarga kita. kau harus paham soal ini," kata Kian pada putranya itu.


"Iya, Pa. aku mengerti."


Beberapa hari kemudian.


Itali....


Leo bersama pengawalnya Kian dan juga Emil bertemu dengan seseorang yang sangat terpengaruh di negara itu.


"Leo, aku tidak merasa heran jika dirimu bisa muncul di hadapanku," ucap seorang pria paruh baya yang mengenakan masker dan kaca mata hitam.


"Pertemuan kita sangat rahasia, tentu saja harus muncul tiba-tiba," jawab Leo yang duduk berhadapan dengan pria paruh baya itu.


"Apa tujuanmu ke itali kali ini?"


"Ada sekelompok brengs*k yang menantangku, aku ingin membunuh hingga ke akar-akarnya."


"Dengan kekuatan yang kamu miliki pasti bisa berhasil, selama ini aku tidak pernah melihatmu gagal."


"Apa kamu tahu di negaramu ini terdapat banyak pendatang haram. mereka adalah mafia pedagangan manusia, apa kamu tidak menyadarinya?"


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖


Terima kasih atas rating yang di berikan oleh para readers setia. sehingga bisa naik 4.8. mohon jangan berhenti untuk memberi dukungan karya ini ya, agar bisa naik rating 5💖💖😘😘😘😘😘

__ADS_1


Terima kasih🙏🙏🙏🙏🥳🥳🥳🥳


__ADS_2