Ranjang Psikopat Dalam Penjara

Ranjang Psikopat Dalam Penjara
Gagal Penangkapan


__ADS_3

"Serahkan dia! maka kau akan selamat," kecam pembunuh yang menodong senjatanya ke arah Rose.


"Bos kami sudah menuju ke jerman, mana mungkin lagi kami serahkan, bukankah seharusnya kalian mengejarnya!"bentak Ric.


"Hm...tidak apa-apa jika dia tidak berada di sini, aku ada cara agar dia muncul. kau adalah istrinya mana mungkin dia berdiam saja saat istrinya ada di tangan kami," kata pria itu dengan mengancam.


"Nyonya, aku akan berlawan dengan mereka, cepat bawa mobilnya dan pergi!" ujar Ric dengan nada kecil.


Tidak lama kemudian mobil pembunuh yang tadinya datang dari belakang, kini istri dan pengawal Leo di kepung dari depan dan belakang, kiri dan kanannya adalah sungai sehingga membuat mereka tidak bisa melarikan diri lagi.


"Sampai mati pun aku tidak ingin mereka mengunakanku sebagai sandra untuk mengancam Leo," kata Rose dengan nada rendah.


"Ke mana pun kalian pergi tetap tidak ada jalan keluar, depan belakang sudah di kepung, sementara yang ada hanya sungai. dalam sungai ini ada buaya, kalau kau tidak sayang dengan nyawamu lagi, maka kau bisa melompat saja," ujar salah satu pembunuh itu.


Mobil yang baru tiba tadi semua pembunuhnya keluar dan berjalan menghampiri Rose dan Ric yang telah di kepung.


"Hebat sekali kalian ini, tapi pada akhirnya jatuh ke tangan kami juga," ketus salah satu pria itu.


"Apa kalian sudah mendapat sasaran kita?" tanyanya pada temannya yang sedang berdiri di hadapan Rose.


"Tidak ada, dari awal kalian sudah menjadi umpannya, dan aku yakin Leo Downson pasti masih di carlifornia."


"Bukankah wanita ini adalah istrinya, jika iya, kita gunakan saja untuk mengumpan harimau itu."


"Ini juga bagian rencanaku."


"Ingin menjadikan aku sebagai sandra untuk memancing suamiku keluar? kalian sudah salah besar. menangkapku hanya membuang waktu kalian saja. saat ini dia tidak akan tahu apa yang kalian lakukan dan juga apa yang ku alami," kata Rose.


"Jika dia tidak bisa, maka kami akan memaksamu memberitahu di mana keberadaannya."


"Aku tidak akan melakukan sesuatu yang mengkhianati suami sendiri," ketus Rose.


"Leo, satu-satu jalan untuk ku adalah melompat ke sungai, hidup mati tidak ada yang akan tahu. jika aku mati aku hanya berharap kau cepat sembuh dan menjalani hidup dengan baik. dan jangan pernah melupakan aku. aku melakukan semua ini demi keselamatanmu. terima kasih kebaikan dan kelembutan mu padaku selama ini. dari awal pertemuan kau begitu baik padaku. dan aku hanya bisa mengunakan cara ini untuk membalasmu," batin Rose.


"Jika saja aku mati berarti jodoh kita hanya sampai di sini, dan aku yang tidak bernasib baik karena tidak bisa lebih lama bersamamu," batin Rose.

__ADS_1


"Ric, aku akan melompat ke sungai, hanya ini satu-satunya cara, lindungilah bos dengan baik. sampaikan padanya untuk lebih berhati-hati. kirim dia ke negara yang aman dan obati penyakitnya," perintah Rose pada Ric untuk terakhirnya kali.


"Bawa aku pergi dan biarkan dia pergi saja!" pinta Rose yang menurunkan senjatanya.


"Nyonya?" seru Ric yang menatap ke arah istri bosnya yang sedang berdiri di sampingnya itu.


"Selamatkan dirimu dan sampaikan pesanku, aku mencintainya!" perintah Rose.


"Aku adalah istri Leo Downson, lebih berguna kalian membawaku pergi. dan aku juga ingin bertemu dengan bos kalian!" ucap Rose dengan tegas


"Apa kau mengira layak mengutarakan permintaan?" tanya pembunuh itu.


"Aku adalah istri orang yang kalian cari, tentu saja aku berhak untuk membuat permintaan. aku akan memberitahu bos kalian tentang suamiku. jika aku bisa memberi info untuk apa anggota suamiku lagi?" kata Rose yang melempar senjatanya ke depan pembunuh itu.


"Kenapa, apa kalian masih ragu? jumlah kalian sekitar tiga puluh lebih. dan aku hanya seorang wanita lemah saja. memangnya aku bisa melakukan apa? apa dengan seorang wanita saja kalian takut?" tanya Rose dengan sengaja.


Setelah berpikir sejenak mereka pun mengambil keputusan melepaskan Ric, karena mereka tidak ingin di anggap takut oleh wanita itu.


"Biarkan dia pergi!" perintah pria yang berdiri di hadapan Rose.


"Aku tidak apa-apa, selagi aku menurut dengan mereka maka aku masih bisa bernafas," jawab Rose yang berusaha menyakinkan musuhnya agar tidak merasa curiga.


Demi ingin menyampaikan pesan istri bosnya itu, Ric hanya bisa memilih untuk pergi meninggalkan tempat itu.


"Ikuti dia! aku yakin dia pasti kembali menemui Leo Downson!"


"Baik!" jawab temannya yang lain.


"Apa kita sudah bisa pergi?" tanya Rose yang bersikap tenang.


"Mari kita berangkat!" ajak pembunuh itu yang berpaling ke arah mobilnya.


Saat mereka semua menurunkan senjata dan masuk ke dalam mobil, Rose melompat ke sungai.


Plung...

__ADS_1


"Hei, wanita itu melompat ke sungai," teriak salah satu pembunuh yang langsung berlari mendekati posisi Rose berdiri tadi.


"Cepat cari dia sampai dapat!"


Semua anggota James harus melompat ke sungai untuk mencari keberadaan Rose. air yang keruh dan deras membuat mereka sangat sulit untuk berenang, sebagian dari mereka terbawa arus dan ada yang menarik pohon yang di pinggir sungai.


"Kami tidak bisa mencarinya, airnya sangat deras. dia pasti sudah di bawa arus," teriak salah satu pria itu yang berada di dalam air.


"Sia.lan, cepat kita kejar pria tadi!"


Setelah beberapa saat kemudian mereka meninggalkan tempat itu dan mengejar Ric.


Di sisi lain Ric yang sedang berlari bersembunyi di suatu tempat karena ia menyadari ada yang sedang mengikutinya dari belakang.


Beberapa pembunuh itu mengikutinya dari tadi, saat kehilangan Ric mereka menghentikan langkahnya dan melihat ke sana ke mari, jumlah mereka sekitar delapan orang.


Kemudian Ric langsung menyerang mereka dengan menendang dan melayangkan pukulan keras ke wajah mereka.


Bruk...bruk...


Terjadilah perkelahian di antara delapan anggota dan Ric. Ric mengunakan tangan kosong untuk melawan mereka, senjata miliknya telah kehabisan peluru dan hanya bisa bertarung dengan sekuat tenaganya.


Ric membanting lawannya dan menendang mereka sehingga ada yang pingsan dan ada yang tewas akibat patah tulang leher


Bruk...bruk...


"Aarrghh...," jeritan mereka yang kesakitan dan kemudian tidak sadarkan diri.


Bruk...


Jeritan lawannya yang menerima tendangan kuat dari Ric.


Perkelahian terjadi selama lima belas menit dan akhirnya musuh-musuh itu tumbang satu persatu.


"Aku harus segera kembali menemui bos dan meninggalkan kota ini. tidak tahu bagaimana dengan nyonya," batin Ric.

__ADS_1


Ric kemudian meninggalkan lokasi itu dan menghalang taksi yang kebetulan lewat di jalan sana. Ric langsung masuk ke dalam mobil dan pergi menuju ke kediaman bosnya.


__ADS_2