
Setelah berpakaian rapi Leo mengantar Rose ke penjara wanita. ia memegang tangan wanita itu dengan erat. tidak lama kemudian Rose tiba di tempat kurungan yang sudah berfasilitas seperti hotel.
Tempat itu telah di lengkapi oleh ranjang yang baru, kursi dan meja makan, serta kamar mandi yang juga di ubah yang baru.
"Leo, kau melakukan semua ini? ini hanya membuang uang saja."
"Untuk saat ini aku hanya bisa melakukan ini untukmu. aku hanya ingin kau bisa lebih nyaman di sini, jadi untuk sementara tinggal di sini sambil menungguku," kata Leo dengan mengecup dahi Rose.
"Aku mengerti, pergilah!" jawab Rose.
"Kita akan segera bertemu lagi," ucap Leo yang memeluk Rose dengan erat.
Tidak lama kemudian Leo pergi meninggalkan tempat yang telah mengurungnya selama lima tahun itu.
"Emil, sampaikan ke Ric sering-sering untuk memantau kondisi Rose di saat aku tidak ada!" perintah Leo yang melangkah keluar dengan berpenampilan rapi.
"Baik, Tuan. sekarang kita ke mana dulu?"
"Menjumpai hakim dan jaksa untuk selesaikan masalah ini, setelah itu aku harus ke itali,"jawab Leo.
"Bos, aku bisa menjumpai mereka. kalau bos terburu bagaimana kalau bos berangkat saja."
"Tidak, aku ingin bertemu dengan mereka sekarang juga, setelah selesai masalah Rose, aku bisa pergi dengan tenang," jawab Leo.
Saat melangkah keluar Leo di sambut oleh puluhan anggotanya yang sedang berdiri dengan berbaris.
"Bos," sahut mereka dengan serentak.
"Hm...," jawab Leo yang melangkah ke mobil yang pintunya telah di buka oleh anggotanya. sementara Emil duduk di samping supir
"Bos, kita ke arah mana?" tanya anggotanya yang sedang duduk di kursi sopir.
"Temui hakim dan jaksa," jawab Leo.
Tidak lama kemudian Leo beserta anggotanya pergi meninggalkan penjara besar itu.
Rose yang kini hanya bersendirian ia duduk di ranjang sambil melihat ke sekeliling tempat kurungannya itu.
"Rose Florencia, apa kau sudah jatuh cinta padanya?" ucapnya dengan menepuk kepala sendiri.
__ADS_1
"Lucu sekali, aku di kurung di sini dan menjalinkan hubungan dengan seorang tahanan sehingga aku harus melayaninya hampir setiap malam dalam sebulan ini. ini benar-benar gila," gumam Rose.
"Selain namanya dan usianya aku juga tidak tahu yang lain mengenai dia, kenapa aku malah tidak biasa tanpa dia di sini? tidak mungkin aku jatuh cinta padanya. dia adalah pria yang kaya raya apa mungkin dia akan serius denganku? huff...kenapa aku memikirkan hal ini," batin Rose.
Setelah setengah jam kemudian.
Leo turun dari mobilnya untuk menemui hakim dan jaksa yang terlibat dengan kasus Rose Florencia.
Ia melangkah masuk dengan di temani oleh puluhan anggotanya. mereka berjalan menuju ke kantor Hakim.
Klek.
Emil membuka pintunya dan kemudian Leo melangkah masuk ke dalam ruangan kantor yang di mana hakim sedang duduk di kursi besarnya.
"Siapa kalian? berani sekali masuk ke sini tanpa izin," bentak pria itu yang bangkit dari tempat duduknya
"Cari sampai dapat!" perintah Leo yang duduk di sofa sementara anggotanya berdiri di kiri kanannya. Emil dan beberapa anggota lain membongkar laci yang di meja dan juga lemari.
"Hei....apa yang kalian lakukan? aku akan menuntut kalian," gertak hakim yang merasa cemas.
Dua anggota Leo yang menarik lengan hakim dan mendorong ke hadapan Leo, ia di paksa berlutut dan di tekan ke atas meja.
Bruk...
"Apa kau tidak mengenalku lagi?" tanya Leo.
Hakim itu mengangkat kepalanya dan melihat pria yang duduk di hadapannya.
"Kau....?"
"Aku adalah tahanan yang baru bebas dari hukuman, Leo Downson," jawab Leo.
Mendengar nama pria itu hakim merasa terkejut dan semakin merasa cemas.
"Leo Downson yang di kenal sebagai Devil yang suka menyiksa orang?" batin hakim.
"Tuan Hakim, aku mendengar kasus pembunuhan Rose Florencia kamu yang menanganinya, seorang wanita membunuh suaminya demi melindungi diri dan kau jatuhkan hukuman seumur hidup, hakim seperti apa kamu?" ujar Leo dengan senyum sinis.
"Aku sebagai hakim tentu saja ada sebabnya menjatuhkan hukuman seumur hidup kepada Rose Florencia, keputusan ini di tentukan oleh para jaksa dan bukan hanya aku. kami juga memiliki bukti kuat."
__ADS_1
"Kau menyembunyikan bukti rekaman yang di serahkan oleh Rose Florencia di saat dia menyerah diri, berapa uang yang kau terima dari Edward Hamilton?" tanya Leo.
"Apa yang kamu katakan itu tidak benar, kau menghinaku aku bisa menuntutmu!"
Brak...brak....
Suara barang-barang yang di lempar oleh anggota Leo yang membongkar semua laci yang ada di lemari buku dan juga laci meja.
"Jangan main-main denganku, Tuan Hakim. aku bisa berada di depanmu sekarang karena aku sudah tahu kau ada hubungan dengan dia. aku bukan orang bodoh yang bisa kau bohongi, tidak sulit bagiku untuk menjatuhkan mu, Tuan Hakim. aku bukan orang yang memiliki kesabaran, jadi jangan main-main denganku," kecam Leo sambil memberi kode kepada anggotanya.
Anggota yang sedang menekan hakim itu mengeluarkan pisau dari saku jasnya. dan lalu menancap ke meja dan hampir mengenai wajah pria tua itu.
"Aarrghh," jeritnya yang ketakutan.
"Tuan, ini rekamannya. kami sudah menemukannya," kata Emil yang memegang rekaman itu.
"Bagus, Tuan Hakim Clister, jangan main-main denganku jika kau masih sayang dengan nyawamu dan juga keluargamu," kecam Leo dengan menjentik jarinya kepada anggotanya itu.
Anggotanya mengeluarkan lembaran foto dan melempar ke depan mata Hakim Clister.
Saat Hakim itu melihat foto-foto itu wajahnya menjadi pucat dan cemas.
"Apa yang kalian ingin lakukan?" tanya Hakim Clister dengan cemas.
"Mereka adalah keluargamu dan juga para jaksa itu, kau bisa tunjukan kepada para jaksa," kecaman Leo.
"Kau menggunakan keluarga kami untuk mengancam kami?" tanya Hakim Clister yang melihat foto keluarganya.
"Anakmu semua adalah mahasiswa dan mahasiswi di universitas terbaik. berapa uang yang kau dapatkan untuk keluargamu? dan sudah berapa orang yang menjadi korbanmu?"tanya Leo.
"Uang yang kau dapat dari Hamilton seharusnya juga tidak sedikit, dengan uang itu kau bisa menyekolahkan anak-anakmu sehingga tamat menjadi sarjana, sementara tahanan yang tidak bersalah harus mendekam ke dalam penjara seumur hidup."
"Apa mau mu?" tanya Hakim Clister dengan yang sedang ketakutan.
"Temui para jaksa itu dan katakan apa yang ku inginkan! jika kalian menolak maka jangan salahkan aku ketika keluarga kalian ada yang kekurangan organ dalamnya!" kecam Leo.
"Leo Downson, mengancam hakim dan jaksa adalah satu kesalahan besar, kau bisa saja kembali ke penjara," jawab Hakim Clister.
"Aku bisa mengambil nyawa kalian kapanpun dan di manapun," jawab Leo.
__ADS_1
"Kau ingin aku membuka kasus ini dan sidang ulang?"
"Siapa yang ingin sidang ulang, yang ku inginkan bukan itu," ketus Leo.