
Jam dinding menunjukan pukul 02.00.
Rose membolak-balikan badannya dan tidak bisa tidur di sepanjang malam, karena merasa tidak aman sehingga tidak bisa memejamkan matanya. lalu ia berubah posisi duduk dan menjambak rambutnya sehingga kusut.
"Dasar psikopat gatal, karena kelakukannya aku tidak bisa tidur sebab merasa tidak aman," ketus Rose dengan merasa kesal.
Dia mengingat ucapan Leo sebelumnya.
"Namaku adalah Leo Downson, ingat baik-baik namaku! hukum tidak ada yang adil. hanya menjadi wanitaku kau akan bebas dan hidup mewah bersamaku. apa kau tidak berminat?"
"Menjadi wanitamu? sama saja sudah mengorbankan tubuhku. hari ini dia sudah melecehkanku. selain suka menyiksa dia juga sudah memiliki istri, bersamanya aku yang rugi banyak. kenapa bisa sial sekali hidupku? setiap bertemu dengan pria pasti tidak ada yang baik. sama-sama pemain wanita,"ketus Rose yang merasa kesal.
"Bagaimana caranya agar bisa menjauh dari dia? ke mana pun aku pergi tetap di penjara juga, apa lagi di dalam aku juga tidak sebebas dia," gumam Rose.
Keesokan harinya.
Emil yang di perintah untuk menyelidiki kasus Rose Florencia ia mendatangi semua jaksa dan juga hakim yang terlibat.
"Nama saya Emil, Rose Florencia adalah teman saya yang sebelumnya di jatuhkan hukuman seumur hidup. tujuan saya datang hari ini ingin membuka ulang kasus tersebut," kata Emil.
"Tuan Emil, kasusnya sudah di tentukan hukumannya dan tidak bisa lagi di sidang ulang," jawab salah satu jaksa.
"Kenapa tidak bisa? saya sebagai temannya ingin mencari bukti untuk membuktikan bahwa dia tidak bersalah, demi melindungi diri dia harus membunuh suaminya itu," ujar Emil.
"Itu hanya menurut dia saja, karena dia tidak ada bukti untuk membuktikan bahwa dia tidak bersalah," jawab jaksa lainnya.
"Apakah apartemennya tidak memiliki kamera cctv?"tanya Emil.
"Tidak ada sama sekali, dia tidak bisa membuktikan jika dirinya membunuh demi melindungi diri," jawab Hakim.
"Bagaimanapun saya ingin selidiki ulang dan buka kasus ini, mengulangi persidangan ini!" pinta Emil.
"Tuan Emil, anda bisa saja melakukannya, hanya saja jika tetap tidak memiliki bukti yang kuat maka kalian akan menanggung risikonya. sehingga akan dijatuhkan hukuman denda dan di penjara," ujar Hakim.
"Saya akan mempertimbangkan nya lagi,"ucap Emil yang bangkit dan melangkah keluar dari ruangan kantor hakim..
"Apa menurutmu bocah ini bisa berhasil mengumpulkan buktinya?" tanya hakim kepada beberapa jaksa yang di sana.
"Tidak semudah itu, bukti rekaman itu di tangan kita. jadi mana mungkin dia bisa mendapatkan bukti lagi. kecuali ada kamera tersembunyi di sana," jawab jaksa itu
__ADS_1
"Andaikan keluarga Hamilton mengetahuinya, bocah tadi itu pasti akan mati di tangannya."
"Beritahu saja kepada tuan Hamilton! biar dia hapus bocah itu!''
"Bukti rekaman ada di tangan pak hakim, jadi mana mungkin ada bukti lain. sebelumnya tuan Hamilton juga sudah mengirim orang untuk membongkar apartemen itu dan tidak mendapati ada kamera tersembunyi atau bukti lain."
"Bocah itu akan hancur andaikan dia nekad ingin mengulangi kasus ini. tuan Hamilton mengatakan jika sampai ada yang meminta persidangan ulang, maka orang itu harus berhadapan dengannya."
"Aku akan menghubungi tuan Hamilton agar dia mengutuskan orang untuk menghapus bocah itu," kata Hakim yang menekan nomor tujuan.
Emil yang mengendarai mobil dan ingin bertemu dengan atasannya itu.
"Kelihatan sekali mereka tidak ingin membuka kasus ini, apakah seperti yang di katakan oleh tuan, bahwa mereka sudah menerima suap? kalau saja apa yang di katakan tuan adalah benar, maka hakim dan jaksalah yang menjadi masalah. ini akan menjadi sebuah masalah besar karena harus menyinggung mereka," ucap Emil yang sedang menyetir.
"Tapi dengan sikap tuan mana mungkin dia peduli dengan hakim ataupun jaksa," batin Emil.
Penjara pria.
Leo sedang duduk bersantai di halaman belakang sambil berjemur. dan tidak lama kemudian seorang pertugas menghampirinya.
"Leo, ada yang ingin bertemu denganmu di kantor ketua petugas."
"Edward Hamilton."
"Akhirnya si tua bangka itu ingin bertemu denganku," kata Leo yang bangkit dari tempat duduknya.
Kantor ketua petugas.
"Aku ingin kalian menjatuhkan hukuman untuknya!" kata Edward dengan tegas.
"Kita tidak memiliki bukti dan tidak bisa menjatuhkan hukuman begitu saja," jawab ketua petugas itu.
"Bisa atau tidak hanya tergantung pada uang saja, aku akan mengunakan uang dan kalian siksa dia mati-matian!" jawab Edward dengan tegas.
Leo yang berjalan menuju ke Kantor ketua petugas dengan kondisi tanpa pakaian yang menutupi tubuh bagian atasnya. seluruh tubuh pria sadis itu di penuhi oleh tato dan juga bekas tusukan di bagian perut dan dada.
Leo melangkah masuk ke dalam ruangan itu.
"Ada apa mencariku?" tanya Leo yang duduk di kursi sambil menaikkan kakinya ke atas meja. tindakannya itu mengejutkan Edward yang pas duduk di kursi sampingnya.
__ADS_1
"Kau adalah Leo Downson?" tanya Edward dengan tatapan kesal.
"Kau adalah orang tua yang berasal dari panti jompo mana?" tanya Leo dengan sengaja.
"Aku adalah Edward Hamilton, jangan bersikap tidak sopan padaku," bentak Edward dengan kesal.
"Katakan saja ada apa, tidak perlu membuang waktuku. aku tidak ingin tahu kau datang dari mana," jawab Leo.
"Apakah ini adalah tulisan mu untuk mengancam keluargaku?" tanya Edward yang menunjukan surat itu kepada Leo.
"Wah....ancaman ini hebat sekali, apakah istri Anda masih muda sehingga ingin di bagikan kepada temanku di penjara?" tanya Leo dengan sengaja.
"Leo Downson, kau sangat lancang," bentak Edward dengan kesal
"Kau datang ke sini hanya ingin meninggikan suaramu di hadapanku?
Edward Hamilton, aku tidak peduli siapa dirimu sama sekali," kata Leo.
"Wanita ini terluka parah, apa kau yang melakukannya? dan kau sengaja meninggalkan sepucuk surat untukku," bentak Leo dengan sambil menunjukan foto tersebut.
"Wanita ini jelek sekali mana mungkin aku mau menyentuhnya, apakah dia adalah simpananmu sehingga kau begitu marah?" tanya Leo dengan sengaja.
"Bicara sembarangan, aku akan menuntutmu dengan mengunakan surat ini,"kecam Edward.
"Aku tidak takut, lagi pula suatu saat kita pasti bertemu lagi," jawab Leo yang bangkit dari tempat duduknya.
"Kasus pemerko.saan tidak ringan hukumannya, nikmati saja masa hukuman tambahan mu di sini," kecam Edward.
"Pemerko.saan? apa kau mengira aku yang melakukan Pemerko.saan terhadap wanita jelek itu? baiklah, kalau kau ingin menuntutku lakukan saja. aku ada bukti menujukan bahwa aku tidak menyentuhnya," jawab Leo.
"Semua orang juga mengunakan omong kosongnya sebagai bukti. hanya dengan ini kau tidak bisa lolos dari hukumam," kecam Edward
"Kalau aku menujukan buktinya padamu apa kau percaya aku akan menang?"
"Memangnya bukti apa yang kau miliki?" tanya Edward dengan meremehkan.
"Lihat ini!" jawab Leo yang menurunkan celana dan memperlihatkan pusaka itu kepada ketua petugas dan Edward.
Mata mereka berdua melotot hampir melompat keluar bola matanya, karena melihat senjata milik Leo.
__ADS_1