
Malam hari.
"Emil, bagaimana dengan hakim di sana? apa mereka ada tindakan?" tanya Leo yang sedang duduk di kursi besarnya.
"Tuan, mereka telah menghapus data nona Florencia dari daftar hitam," jawab Emil yang berdiri di depan atasannya itu.
"Baiklah, kalau begitu. setelah pastikan Rose keluar dari penjara, kita berangkat langsung," jawab Leo.
"Tuan, tidak ingin membawa nona florencia bersama?"
"Aku tidak ingin dia mengetahui tentang penyakitku, lagi pula itali tidak cocok untuknya. Di sana terdapat banyak musuhku, aku tidak ingin melibatkan dia," jawab Leo.
"Baik, Tuan."
Penjara wanita.
Kepala petugas wanita yang sebelumnya terlibat pertengkaran dengan Rose kini telah kembali. Ia menemui Rose yang di tempatkan dikurungan yang berbeda dengan yang lain.
"3788, kita bertemu lagi," ucap ketua petugas itu yang berdiri di luar kurungan.
Rose memandang ke arah ketua petugas itu.
"Hanya sebulan tidak melihatmu, kau sudah semakin hebat saja," kata ketua petugas wanita.
"Apa tujuanmu bertemu denganku?" tanya Rose yang bangkit dari tempat duduknya.
"Aku hanya ingin melihatmu saja,"jawab dengan senyum sinis.
"Apa kau ingin membalas dendam?"
"Aku mendengar kabar bahwa dirimu sudah memiliki pria kaya, dia juga adalah tahanan sini, kau hebat juga. bisa begitu cepat mengoda pria kaya seperti Devil," kata ketua petugas wanita itu dengan menyindir.
"Apa maumu?" tanya Rose yang menghampiri ketua petugas yang berada di luar.
"Mungkin saja kita harus selesaikan urusan kita yang belum kita selesaikan sebelumnya," jawab ketua petugas wanita itu.
"Kau ingin membalas dendam?"
"Kau menantangku, oleh karena itu aku ingin melawan mu lagi."
Ketua petugas wanita itu memberi perintah pada bawahannya untuk membuka pintu jeruji besi.
Setelah di buka ketua petugas wanita menginjak masuk ke dalam kurungan Rose. lalu ia mengunci dengan gembok dari dalam. kemudian Ia melihat kesekitaran tempat itu.
"Dengan cara apa kau mendapatkan hatinya? mengoda atau jual diri?" tanyanya dengan menyindir.
"Lebih baik kau jaga mulutmu," ketus Rose dengan kesal.
"Apakah aku salah bicara? seorang devil bisa menyediakan semua ini untukmu, aku yakin kau pasti sudah berikan tubuhmu kepadanya. Seorang pria jika tidak mendapatkan apa yang dia mau. mana mungkin dia rela mengeluarkan biaya untuk melengkapi fasilitas mu ini," kata ketua petugas wanita itu dengan menyindir.
"Apa kau merasa iri? aku bisa mendapatkan semua ini dalam sebulan, sementara dirimu tidak mendapatkan apapun, mungkin karena dia tidak tertarik padamu," ujar Rose dengan sengaja.
"Apa kau merasa sombong? aku bukan wanita rendahan seperti mu yang akan menyerahkan diri untuk pria," jawab ketua petugas dengan kesal.
Plak...
Tamparan yang di lakukan oleh Rose mengenai wajah wanita itu
"Berani sekali kau menamparku," bentaknya yang wajahnya memerah akibat tamparan kuat.
Karena merasa kesal ketua petugas itu pun akhirnya mendorong Rose dengan kuat sehingga Rose terduduk ke lantai.
Bruk...
__ADS_1
"Aaarrghhh...." Jeritan Rose.
Ketua petugas wanita itu ingin menampar wajah Rose akan tetapi tangannya di tahan oleh Rose yang dalam posisi duduk di lantai.
"Ingin menamparku? jangan bermimpi," ketus Rose dengan menarik tangan wanita itu dan melayangkan tangannya ke wajah lawannya.
Plak...
"Aarrghh....." jeritan ketua petugas wanita.
Ketua petugas yang merasa kesal lalu ia menekan Rose hingga berbaring ke lantai.
"Ingin melawanku coba saja!" bentaknya yang duduk di atas tubuh Rose dan mengcengkeram leher Rose.
Rose menjambak rambut lawannya dengan ke dua tangannya.
"Aaarrghhh," jeritan ketua petugas yang merasa kesakitan.
Rose menjambak rambut lawannya dengan kuat sehingga lawannya merasa kesakitan.
"Arrrghh....," jeritan ketua petugas yang merasa kesakitan.
Terjadinya perkelahian di antara Rose dan ketua penjara tersebut.
Saling menjambak dan berguling di lantai dan akhirnya Rose berada di atas lawannya.
Rose menampar lawannya berkali-kali.
Plak...
Plak...
Plak...
Plak...
Plak...
Plak...
"Hentikan!" teriak ketua petugas itu yang merasa kesakitan.
Rose mengabaikan teriakan lawannya dan melanjutkan tamparannya terhadap lawannya yang berada di bawahnya itu.
Plak...
Plak...
Plak...
Rose menampar sekuat tenaga dengan tanpa berhenti membuat wajah lawannya memerah dan mengeluarkan darah di sudut bibirnya.
Plak...
Plak...
Plak...
"Ketua petugas," panggil bawahannya yang berada di luar dan tidak bisa masuk ke dalam.
"Hentikan!" teriakan ketua petugas yang wajahnya mulai bengkak.
"Buka pintunya, cepat!" bentak bawahannya yang berada di luar.
__ADS_1
Rose tidak peduli dengan teriakan petugas lainnya, dan terus menerus menampar wajah lawannya itu.
Plak....
"Arrghh...."
Plak....
"Arrghh...."
Plak....
"Arrghh...."
Tamparan tanpa berhenti membuat wajah lawannya kesakitan dan bengkak.
"Ingin menindasku. Ha? kau mengira kau adalah siapa..ha?" bentak Rose yang merasa kesal dan sambil menampar lawannya yang tidak berdaya itu.
Plak....
"Arrghh...."
Plak....
"Arrghh...."
"3788, buka pintunya! cepat buka pintunya!" bentak petugas wanita lainnya.
Tidak lama kemudian Rose menghentikan aksinya dan berdiri menghampiri petugas wanita yang berdiri di luar penjara.
"3788, kau berani sekali melawan dan melukai ketua petugas," bentak petugas wanita.
"Memang kenapa kalau dia adalah ketua petugas? Apa aku harus mengalah? dalam kamus kehidupanku tidak ada kata mengalah,"kata Rose.
"Buka pintunya sekarang juga!" bentak salah satu petugas.
Rose membuka kunci gemboknya dan membiarkan dua petugas itu masuk. sementara ketua petugasnya berbaring lemah dengan wajahnya yang telah bengkak.
"Ketua...,"panggil mereka berdua yang menghampiri Ketua mereka yang ke dua wajahnya telah bengkak.
"3788, kau sangat keterlaluan," bentak salah satu petugas itu.
"Jangan salahkan aku! ketua kalian yang tidak berguna dan bukan aku. jika tidak memiliki kemampuan maka jangan sembarangan bertindak," ketus Rose.
"3788, kau...."
"Cepat bawa dia ke rumah sakit! jika tidak, maka luka wajahnya akan meninggalkan bekas," kata Rose yang duduk di ranjangnya.
Dua petugas memapah ketua mereka yang wajahnya telah memerah dan mengeluarkan darah di sudut bibirnya.
"Beri pelajaran pada wanita itu!"perintah ketua petugas wanita yang merasa kesal.
Di saat dua petugas ingin menghampiri Rose tiba-tiba langkah mereka di hentikan dari belakang.
"Kalau kau maju selangkah lagi maka peluru ini akan menembus ke kepala kalian," kecam seorang pria yang tak lain adalah Ric yang mengunakan pistol mengancam dua petugas itu.
"Kau siapa?" tanya ketua petugas wanita.
"Aku adalah orang bertanggung jawab melindungi keselamatan nona Florencia," jawab Ric.
"Jangan sembarangan di sini! sini bukan tempat mu, pergi!" bentak ketua petugas.
"Nona Florencia sedang tidak aman, mana mungkin aku pergi, tentu saja aku harus memberi pelajaran untuk kalian yang ingin mencari masalah," bentak Ric.
__ADS_1
Ketua petugas tidak bisa melakukan apapun karena pria itu memiliki senjata.