
Setelah beberapa hari menerima perawatan di rumah sakit akhirnya Joice telah di izinkan pulang ke rumah. Edward menjemput istrinya sementara istrinya hanya diam di sepanjang jalan tanpa bicara sepatah kata pun.
"Istirahatlah ke kamar dulu, setelah makan siang di siapkan aku akan memanggilmu," kata Edward yang memapah istrinya masuk ke dalam rumah.
"Kenapa kita pulang ke sini? aku tidak mau tinggal di sini," teriak Joice yang mengingat kejadiannya yang menimpanya di ruang tamu itu.
Joice yang merasa trauma berlari keluar dari rumah sehingga suaminya harus mengejarnya.
"Joice, Joice, jangan takut lagi! semuanya sudah berlalu, jangan takut!'' bujuk Edward yang menahan lengan istrinya.
"Berlalu? bagimu ini sudah berlalu tapi bagiku tidak akan berlalu hingga akhir hayatku," teriak Joice dengan emosi.
"Joice, bertenanglah! lihat mataku! lihat mataku! semua sudah berlalu jangan di pikirkan lagi. Joice, kau aman-aman saja sekarang."
"Sesuatu yang telah terjadi tidak bisa di anggap baik-baik saja, Edward, dia sudah merusakan harga diriku, dia...sudah merendahkanku, dia...sudah membuatku terhina, dia...sudah menghancurkanku. apa aku harus diam saja?" kata Joice yang merasa tertekan.
"Joice, apa yang kamu inginkan?"
"Aku ingin dia menerima akibat yang sama, bahkan lebih parah. aku ingin dia hidup segan dan menderita seumur hidup.aku mau dia di gilir oleh sejumlah pria dan kemudian di buang ke jalan dalam kondisi telanjang. aku ingin pria itu merasa jijik dengannya dan kemudian membuangnya. aku ingin dia lebih tersiksa dariku. dia menjatuhkan nama baikku dan juga membunuh cucuku. dia tidak pantas bahagia sama sekali," ketus Joice yang merasa kesal.
"Kau tenang saja! dia pasti akan mendapatkan balasannya, dia tidak akan hidup tenang. apa kau lupa kalau dia masih memiliki keluarganya," kata Edward.
"Keluarganya? apa maksudmu?"
"Dia dalam perlindungan Leo sehingga kita tidak bisa bertindak, tapi kita bisa mengunakan keluarganya untuk mengancam dia keluar dan bertemu dengan kita," ujar Edward.
"Mengunakan keluarganya untuk mengancamnya? ini cara yang bagus dan kita bisa mengunakannya," ucap Joice yang merasa dendam.
"Baiklah, aku akan mengirim orang untuk menangkap keluarganya, dan tidak lama lagi wanita itu pasti bertekul lutut di hadapan kita," jawab Edward yang mengeluarkan handphonenya dan menghubungi seseorang di sana.
"Hallo," sapa seorang pria yang dari seberang sana.
"Tangkap keluarga Kian Florencia!" perintah Edward.
"Baik, Tuan."
Tidak lama kemudian mereka memutuskan panggilannya
"Joice, aku sudah perintahkan mereka memberi pelajaran kepada keluarga Florencia, dan dia tidak akan bisa terlepas," kata Edward yang memapah istrinya masuk ke dalam rumah.
"Aku ingin wanita itu lebih tersiksa dariku, kalau bisa rekam saat tubuhnya di gilir dan biarkan semua orang yang tinggal di kota ini bisa melihatnya," kata Joice yang penuh dengan dendam.
Keesokan harinya.
__ADS_1
Mansion Leo.
"Bos, mulai saat ini biar kami mengikuti ke mana pun Anda pergi. Sandez pasti akan melakukannya lagi selagi niatnya belum tercapai," ujar Ric yang berdiri di hadapan bosnya yang sedang menikmati wiskey.
"Aku malah berharap bisa langsung berhadapan dengannya, hanya saja dia memilih bersembunyi selama ini," kata Leo yang menghabiskan minumannya dalam satu tegukan.
"Bos, kita bisa serang markasnya setelah mengetahui posisinya," ucap Kian.
"Selidiki saja berapa jumlah anggota yang dia miliki!"
"Baik, Bos," jawab Kian dan Ric dengan serentak.
Tidak lama kemudian Emil datang menjumpai atasannya.
"Tuan, Harkes ingin bertemu dengan Anda," ucap Emil yang melangkah menuju ke ruang tamu.
"Bukankah dia berada di jepang, untuk apa dia bertemu denganku?"
"Dia sudah kembali, kali ini dia datang dengan membawa berita buruk."
"Berita apa yang dia bawa?"
"Uang dia di larikan oleh anggotanya, dia mengalami banyak kerugian, dan dia ingin meminta bantuan Anda untuk membantunya menangkap pelakunya," jawab Emil.
"Anggotanya yang selama ini ikut dengannya, namanya Yohanez."
"Dia adalah anggota lama Harkes dan dia tega melakukan itu," kata Kian yang menatap ke arah Emil.
"Demi uang dia menghianati atasannya," jawab Leo.
"Di mana Harkes sekarang?" tanya Leo pada Emil.
"Dia berada di rumah lamanya, semua modal untuk usaha ludes begitu saja," jawab Emil.
"Kenapa dia bisa begitu percaya pada seseorang, sehingga semua uang di pegang oleh Yohanez, ini sangat tidak wajar," ujar Ric.
"Mungkin karena Yohanez sudah terlalu lama mengikutinya, sehingga dia tidak waspada lagi dengan Yohanez," jawab Emil.
"Cari si pengkhianat itu sampai dapat dan serahkan kepada Harkes!" perintah Leo pada Emil.
"Baik, Tuan," jawab Emil.
"Leo Downson...." teriak rose yang mengejutkan semua orang yang di sana.
__ADS_1
"Nona," sapa Kian, Ric dan emil dengan serentak.
"Rose, ada apa? siapa yang membuatmu marah?" tanya Leo yang bangkit dari tempat duduknya.
"Siapa yang membuatku marah? kau masih berani bertanya padaku," jawab Rose dengan merasa kesal.
"Rose, ada apa sebenarnya? kenapa kau begitu emosi?"tanya Leo dengan senyum.
"Leo kau sangat hebat, satu botol wiskey telah kau habiskan," bentak Rose nada kesal.
"Ada apa dengan minumanku?"
"Ada apa lagi? kau masih bertanya ada apa lagi? siapa yang menyuruhmu minum begitu banyak minuman ini? lukamu belum sembuh, apa kau tidak bisa jaga diri?" jawab Rose dengan emosi.
"Rose, selama ini aku memang sering minum, tanpa minuman ini aku tidak bisa tahan," kata Leo.
"Tidak bisa tahan kalau tidak minum? apa kamu mengira wiskey adalah penyambung hidupmu ya? sehingga melakukan hal seperti itu?"
"Tapi, Rose...."
"Sudah! tidak perlu tapi, kau harus mengurangi minuman beralkohol, demi kesehatanmu!"kata Rose dengan tegas.
Kian, Ric dan Emil hanya bisa diam tanpa berani mengeluarkan suara saat Rose sedang menceramahi bosnya itu.
Tidak lama kemudian handphone milik Rose berbunyi.
"Hallo," jawab Rose yang mendengar panggilan itu.
"Apakah ini dengan Rose Florencia?" tanya seorang pria yang di seberang sana.
"Dengan siapa di sana?" tanya Rose dengan nada kesal.
"Rose Florencia, keluargamu ada di tanganku, lebih baik kau patuh dan tidak macam-macam!"
"Memangnya untuk apa kau menangkap mereka? kalian ingin uang?"
"Ingin tahu? kau harus datang sendiri."
"Aku tidak ada waktu bermain dengan kalian, jika kalian ingin uang maka aku tidak memiliki uang. dan jika kalian ingin nyawa ambil saja nyawa Tommy Florencia sebagai gantinya," jawab Rose dengan ketus.
"Rose Florencia, kau akan menyesal jika tidak datang," kecam pria yang di seberang sana.
"Jika aku ke sana maka aku akan menyesal, Tommy Florencia masih muda, jika kau butuh uang suruh saja dia menjadi gigolo untuk mendapatkan banyak uang untukmu," ketus Rose yang langsung memutuskan panggilannya.
__ADS_1