Ranjang Psikopat Dalam Penjara

Ranjang Psikopat Dalam Penjara
Leo Tidak Sadarkan Diri


__ADS_3

"Kau dan wanita itu telah menghancurkan hidupku," ketus Jenice yang merasa kesal.


"Hidupmu hancur karena ulah ayahmu sendiri, jangan salahkan aku. dia memang harus mati dan kau memang sudah seharusnya dicampakan oleh kak Leo," kata Mancy dengan menujuk ke arah Wanita itu.


Jenice yang merasa tidak puas ia pun langsung menepis jari telunjuk Mancy.


"Kenapa, kau tidak bisa menerimanya? kau harus tahu kau bukan siapa-siapa bagi kak Leo. dari aku kecil aku sangat penting baginya, diantara kita berdua dia pasti akan memihakku," ucapan Mancy dengan sengaja mengejek.


"Diam! kau tidak layak mengatakan itu, setidaknya aku dan dia masih ada hubungan suami istri," ketus Jenice dengan tegas.


"Memang kenapa jika kalian masih berstatus suami istri? kau hanya istri yang sudah dibuang, sedangkan wanita yang di dalam itu menjadi calon istrinya. kau sudah kalah dari awal jala*ng,"ketus Mancy yang melangkah pergi.


Jenice merasa kesal dengan penghinaan dari Mancy ia pun mendorong dari belakang wanita itu sehingga tersungkur.


Bruk...


"Aaarrghh," jerit Mancy yang merasa sakit di bagian dua lututnya dan juga tubuhnya.


Terjadi pertengkaran dan perkelahian di antara dua wanita itu.


Karena merasa bising dua pengawal keluar untuk mengusir dua wanita itu.


"Pergi dari sini!"bentak mereka dengan menarik lengan dua wanita itu pergi menjauh.


"Jangan pernah ke sini lagi! jika tidak ingin kehilangan kaki kalian!" kecam dua pengawal itu.


Mancy dan Jenice hanya bisa pergi dengan pasrah dengan penuh kekecewaan.


"Aku datang dengan mobilku," ketus Jenice yang berjalan ke arah mobilnya.


Tidak lama kemudian mereka pergi meninggalkan kediaman Leo dengan hampa.


Itali...


Leo bersama kelompoknya menyerang ke pihak lawan dengan sejumlah anggota andalan.


"Lepaskan tembakan!" perintah Leo yang turun dari mobilnya dan memberi kode tangan kepada semua anak buahnya.


"Bos, bukankah nona Ana akan dalam bahaya jika kita menembak begitu saja?" tanya salah satu anggotanya.


"Dia tidak akan membunuh wanita itu, yang dia inginkan hanya aku saja. lepaskan tembakan!" perintah Leo.


Semua anggota melepaskan tembakan ke arah sarang musuhnya itu.


Dor...dor....dor....dor....dor...


"Aaarrghh..." teriakan sejumlah anggota musuh yang tertembak dan tidak lama kemudian mereka tewas tergeletak tidak bernyawa.


Tidak lama kemudian bos dari kelompok itu keluar dari sarangnya dengan sambil mengunakan Ana sebagai ancaman.


"Leo, kalau kau ingin wanita ini mati, tembak saja!"teriak bos kelompok itu yang menodong pistol ke kepala wanita itu.

__ADS_1


"Leo, bunuh dia! aku tidak takut jika harus mati, setidaknya aku sudah melihatmu untuk terakhir kali,"ucap Ana pada Leo.


Leo menodong pistolnya ke arah lawannya itu. ia memerhatikan titik yang tepat untuk menembak lawannya itu. dua kelompok besar saling menodong senjata. suasana tegang dan saling ingin melepaskan tembakan ke arah masing-masing


"Leo, jika kau masih sayang dengan nyawa wanitamu, lebih baik kau mengalah dan berlutut, agar aku mau melepaskan dia,"bentak musuhnya yang sedang mengancam Ana.


"Leo, tembak saja! aku tidak takut mati. aku hanya takut satu hal," ujar Ana.


"Apa yang kau takut?" tanya Leo yang sedang memerhatikan sasarannya itu.


"Aku hanya takut kau menolak menikah denganku," jawab Ana.


"Ini bukan saatnya bicara tentang hal itu!" ujar Leo dengan merasa risih.


"Katakan padaku apakah kau mencintaiku?" tanya Ana yang merasa penasaran


"Wanita ini sangat gila, lebih baik aku mencari titik yang tepat untuk membunuh pria ini,"batin Leo.


Leo yang tanpa ragu langsung melepaskan tembakan ke arah pria yang sedang mengancam Ana.


Dor...


Tembakan yang dilakukan oleh Leo menembus kepala pria itu dan kemudian ia tergeletak tidak beryawa.


"Tembak!" perintah Leo pada semua anggotanya.


Dor...dor....dor....dor....dor...


Ana yang ketakutan sehingga menjongkok sambil menutup ke dua telinganya.


"Aaarrghhh....." teriakan lawannya yang di tembus oleh peluru.


"Bunuh mereka semua!" perintah Leo yang sambil melepaskan tembakan.


Dor...dor....dor....dor....dor....


"Aarrghh...," teriakan lawannya yang tumbang satu-persatu.


Setelah beberapa menit kemudian lawannya tewas tak tersisa. Ana yang melihat jasad berserakan di sana ia langsung menghampiri Leo.


"Leo," seru Ana yang langsung memeluk pria tampan itu.


"Apa kau baik-baik saja?"tanya Leo yang di peluk erat oleh wanita itu.


"Ada kamu di sini aku pasti baik-baik saja," jawab Ana dengan senyum.


"Apa kau bisa melepaskan pelukanmu dulu?" tanya Leo yang merasa risih.


"Leo, aku ingin menikah denganmu, aku ingin menyerah diri padamu," ucap Ana yang melepaskan pelukannya, sementara tangan wanita itu menyentuh bagian bawah Leo.


"Apa yang kau pegang?" tanya Leo yang merasakan sentuhan dari wanita cantik itu.

__ADS_1


"Aku hanya ingin memanjakan dia," jawab Ana dengan mengedip sebelah mata sambil meremas pusaka Leo.


Dor...


Tembakan yang dilakukan oleh Leo menembus jantung Ana dan langsung tewas


"Bos, kenapa membunuhnya?" tanya Kian dengan merasa heran.


"Tangannya gatal karena menganggu anak harimauku," jawab Leo yang langsung berjalan menuju ke arah mobilnya.


"Kakak, tujuan kita adalah menyelamatkan wanita ini, tapi setelah berhasil malah di bunuh," ujar anggotanya yang menoleh ke arah Kian.


"Biarkan saja! wanita itu mungkin pantas mati," jawab Kian.


"Anak harimau bos berada di mana? kenapa bos bisa menembak wanita itu dengan tanpa ragu?"


"Aku juga tidak tahu," jawab Kian yang melangkah mengikuti bosnya itu.


Dalam perjalanan.


Leo mengeluarkan handphonenya dan menghubungi seseorang di seberang sana.


"Hallo, Leo. aku sedang menunggu kabarmu. kau ada di mana?" tanya seorang wanita yang di seberang sana.


"Aku sudah berada di itali, apa kau ada waktu?"


"Tentu saja ada, datanglah ke rumah sakit!"


"Aku sedang dalam perjalanan," jawab Leo yang kemudian menutup panggilannya.


Tidak lama kemudian nada panggilan masuk dihandphonenya. Leo tersenyum saat membaca nama panggilan masuk itu.


"Hallo, calon istriku!" sahut Leo dengan senyum.


"Kapan kamu pulang?" tanya Rose yang berada di new york.


"Aku sedang berada di itali, dan akan segera pulang. jaga dirimu baik-baik dan setelah aku pulang, aku ingin menikahimu," jawab Leo.


"Aku ingin memberitahumu, aku ingin mencari pekerjaan!"


"Kau tidak perlu bekerja sama sekali, periksa saldomu. aku akan membiayaimu untuk seumur hidup. temani aku saja. tidak perlu harus bekerja," kata Leo.


"Aku merasa bosan tidak melakukan apa-apa."


"Begini saja, bagaimana kalau setelah aku pulang kita baru membahasnya?"


"Iya, baiklah. aku menunggumu pulang."


"Calon istriku yang baik, aku akan segera pulang dan berkumpul denganmu," ucap Leo dengan senyum.


Tidak lama kemudian Leo memutuskan panggilannya. mobilnya berhenti di depan rumah sakit. dan saat Leo keluar dari mobil ia tiba-tiba terdiam dan akhirnya tidak sadarkan diri.

__ADS_1


__ADS_2