
Setelah selesai memaksa petugas itu makan, Ric lalu mengambil irisan alat kela.min milik petugas yang satu lagi. dan kemudian memasukan ke mulut dengan paksa.
Dua petugas itu di paksa mengunyah dan menelan alat kela.min sendiri, sambil menerima pukulan dari Ric ketika mereka tidak sanggup mengunyah. setelah selesai menyiksa Leo pun melangkah keluar menuju ke tempat kurungannya tadi. petugas lain sedang membersihkan darah temannya yang mengotori lantai itu.
"Pergi!" perintah Leo kepada petugas yang sedang membersihkan lantainya.
"Leo, di mana mereka?" tanya Rose.
"Mereka masih hidup, hanya saja mereka tidak sempurna lagi," jawab Leo.
"Apa yang kamu lakukan terhadap mereka?"
"Dia sudah kehilangan kejantanannya dan tidak bisa apa-apa lagi," jawab Leo dengan senyum
"Wajahmu sangat merah, dia memukulmu dengan begitu keras. apa masih sakit?"
"Tentu saja sakit, mana mungkin di tampar tidak sakit," jawab Rose yang duduk di atas ranjang.
"Aku akan panggilkan dokter untuk memeriksa lukamu."
"Tidak perlu, tadi kamu sudah oleh obatnya."
"Tidak, aku tetap akan menyuruh dokter datang ke sini untuk merawat lukamu," kata Leo.
"Bukankah di sini juga ada dokter? untuk apa memanggil dokter luar?"
"Dokter di dalam sini semuanya tidak hebat, dan bahkan obat-obatannya juga murahan, Emil akan aturkan dokter yang bagus untuk merawat lukamu agar tidak meninggalkan bekas," jelas Leo.
"Ini hanya tamparan saja, tidak mungkin bisa meninggalkan bekas," kata Rose.
"Tetap harus di obati oleh dokter yang dari luar," ujar Leo.
Keesokan harinya.
Herles datang ke penjara besar untuk menemui menantunya itu, ia duduk di ruangan tempat pertemuan dengan raut wajah yang kusut.
__ADS_1
Tidak lama kemudian Leo datang menemuinya.
"Leo," seru Herles yang bangkit dari tempat duduknya.
"Aku tidak menyangka mertua yang ku kasihi bisa muncul di sini, ada hal penting apa sehingga datang ke sini menemuiku? Anda adalah orang terpengaruh datang ke tempat ini bukankah hanya akan menjatuhkan nama baikmu?" kata Leo dengan menyindir.
"Leo, kita adalah sekeluarga, jangan berkata seperti itu, kamu adalah menantuku apapun yang terjadi."
"Putrimu sudah melakukan hal yang memalukan, kau masih saja berani mengatakan aku adalah menantumu?"
"Leo, aku juga tahu ini kesalahannya, tapi dia hanya ingin melepaskan kekecewaan yang dia rasakan darimu. dia tidak mendapatkan kasih sayang darimu. apa kamu tidak bisa mengalah?
"Mengalah untuk wanita seperti dia? wajahnya sudah tersebar di saat dia sedang menikmati tubuh pria lain. tidak perlu basa basi lagi. cukup sampai di sini saja!" kata Leo yang bangkit dari tempat duduknya.
"Sebentar!"
"Ada apa lagi?" tanya Leo.
"Aku ingin bertanya padamu, kenapa kau menikah dengan Jenice? sedangkan dirimu tidak mencintainya?" tanya Herles.
"Kau sungguh ingin mengetahuinya?"
"Apa kau masih ingat dengan sepasang suami istri yang bernama Forico dan Lucyana?"
Herles yang mendengar nama yang di sebutkan oleh Leo raut wajahnya langsung berubah cemas dan keringat dingin.
"Kenapa diam saja? apa kau sudah lupa atau pura-pura pikun?" tanya Leo dengan tatapan tajam.
"Apa hubunganmu dengan dia?"
"Forico dan Lucyana adalah penyelamatku, mereka seperti orang tuaku. aku juga tidak perlu menjelaskan begitu detail denganmu. mereka bangkrut karena kau melarikan uangnya. apa kau tahu, uang yang kau bawa lari itu adalah untuk membayar hutang dan upah karyawan. setelah dia kehilangan uangnya, keluarganya di tuntut membayar hutang oleh pihak bank dan juga di desak oleh karyawannya. dia harus mencari akal untuk membayar upah karyawannya. dia mengajukan pinjaman dengan pihak bank tapi di tolak. dan kemudian dia hanya bisa menjual rumahnya untuk membayar karyawan. sedangkan hutangnya dengan pihak bank tidak sanggup lagi dia bayar."
"Demi mereka kau menghancurkan masa depan putriku?"
"Masa depan putrimu sangat penting bagimu? lalu, apa nyawa mereka tidak sepenting putrimu? Forico dan Lucyana juga memiliki seorang putri, mereka bunuh diri karena di kejar hutang. mereka rela mati dan tidak ingin membekuk di dalam penjara. saat itu putrinya baru berusia 12 tahun, dia melihat orang tuanya melompat dari lantai atas dan tewas di hadapannya. kini gadis itu sudah dewasa. dia hidup tanpa kasih sayang orang tua. sementara putrimu hidup mewah karena ayahnya melarikan uang milik orang lain. apa kau tidak merasa malu?" ketus Leo.
__ADS_1
Herles terdiam dan terduduk kembali ke kursinya dengan memucat.
"Herles Muffis, dua nyawa hilang karenamu, seorang anak kecil kehilangan orang tuanya karenamu, apa kau merasa bahagia? balasan yang di terima oleh putrimu itu bukan berarti apa-apa," kata Leo.
"Leo, apa rencana mengenai putriku?apa kau akan menyiksanya seumur hidup?" tanya Herles.
"Kau merasa cemas dengan putrimu? dia sudah masuk perangkapku dari awal."
"Apa yang harus ku lakukan supaya kau melepaskan putriku?"
"Melepaskan dia? apakah aku menyiksanya selama ini?"
"Selama ini dia cukup menderita karena di abaikan olehmu, dia menangis menunggu kepulanganmu selama ini. apa kau tahu di saat kau di penjara dia merasa cemas dan khawatir sehingga datang menemuimu. tapi kau menolak untuk bertemu dengannya. dia merasa sangat terluka," kata Herles.
"Lukanya tidak sebanding dengan dengan luka yang di alami oleh putri Forico dan Lucyana. gadis itu trauma sehingga hampir mengalami gangguan jiwa," kata Leo.
"Kau balas saja padaku, aku tahu ini bermula dariku. dan aku yang akan menanggung semuanya," jawab Herles.
"Menanggung semuanya dengan cara apa? Forico dan Lucyana sudah meninggal, kau ingin mengunakan cara apa untuk membayarnya? uangmu? atau nyawamu?"
"Apa yang kau inginkan dariku?" tanya Herles.
"Menyiksamu secara perlahan, dan permainan baru di mulai," jawab Leo.
"Leo...."
"Rekaman putrimu sangat luar biasa, kamera menghadap ke wajahnya, dia sangat menikmati hubungan itu sehingga mende.sah selama melakukan hubungan. pria muda itu luar biasa juga," ucap Leo dengan senyum sinis.
"Apa maksudmu? apakah ini ada hubungannya denganmu?" tanya Herles.
"Hahahahaha....Herles Muffis, aku yang menyuruh orang memasang kamera di kantor putrimu itu, dan setelah itu aku juga menyuruhnya menyebar rekamannya," jawab Leo dengan tertawa.
"Kau...kau yang melakukannya?" tanya Harles yang merasa tidak percaya.
"Benar, pertama kali di kantor, dan ke dua kali di mobil. inilah putri Herles Muffis yang tidak menjaga sikapnya. sehingga bisa begitu mudah menyerahkan tubuhnya kepada pria lain, dan aku yakin pria itu hanyalah ingin bermain dengannya. Herles Muffis, putrimu mendapat karma atas semua perbuatanmu. dan bukan hanya itu, perusahaan mu saja sudah kosong, untuk apa kau pertahankan?".
__ADS_1
"Aku tidak menyangka kau mengunakan cara keji untuk membalasku."
"Kalau kau tidak bisa menerima kegagalan untuk selanjutnya, maka bunuh diri saja! ajak putrimu bersama!" kata Leo dengan jarak yang sangat dekat.